lintaspriangan.com, NASIONAL. Gelombang demonstrasi mahasiswa pada penghujung Oktober 2026 menghadirkan sejumlah wajah muda yang menjadi perhatian publik. Di antara mereka, tiga perempuan dari perguruan tinggi berbeda tampil membawa suara kritis terhadap berbagai persoalan bangsa. Mereka adalah Zahra Nazira Firman dari Universitas Trisakti, Fathimah Azzahra dari Universitas Indonesia (UI), dan Naomi Artika Simamora dari Universitas Palangka Raya (UPR).
Ketiganya hadir dalam rangkaian gerakan mahasiswa pada 28 dan 29 Oktober 2026. Meski berada dalam momentum aksi yang berbeda, ketiga mahasiswa tersebut memiliki benang merah yang sama: menggunakan ruang demonstrasi sebagai sarana menyampaikan keresahan dan mendesak perubahan atas persoalan yang mereka anggap belum mendapatkan penyelesaian memadai.
Kehadiran mereka juga memperlihatkan bahwa gerakan mahasiswa tidak hanya diwarnai suara laki-laki. Perempuan muda turut mengambil peran dalam kepemimpinan organisasi, penyampaian aspirasi, hingga mengangkat persoalan yang menyangkut kehidupan masyarakat luas.
Srikandi Mahasiswa: Zahra, Fathimah, dan Naomi Membawa Isu Berbeda
Zahra Nazira Firman merupakan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Trisakti. Namanya mencuat ketika mahasiswa Trisakti menggelar aksi demonstrasi di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Kamis (29/10/2026).
Dalam aksi tersebut, Zahra turut menyuarakan tiga tuntutan utama atau Tritura mahasiswa Trisakti. Isu yang dibawa mencakup pemulihan sektor ekonomi, ekologi, politik, pendidikan, dan kesehatan nasional; pemberantasan inkompetensi serta rangkap jabatan pejabat publik; hingga penegakan supremasi sipil.
Sebelum menyampaikan tuntutan, rombongan mahasiswa Trisakti juga menghadapi sejumlah penghadangan ketika bergerak menuju lokasi aksi. Situasi tersebut menjadi bagian dari dinamika demonstrasi yang akhirnya berlangsung di sekitar Patung Kuda.
Sementara itu, Fathimah Azzahra tampil dalam aksi #IndonesiaSadar di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Rabu (28/10/2026). Ia merupakan Wakil Ketua BEM UI sekaligus mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Fathimah menjadi salah satu figur yang menyampaikan ajakan kepada masyarakat untuk terlibat dalam gerakan tersebut. Aksi #IndonesiaSadar membawa lima kelompok tuntutan, mulai dari persoalan lingkungan dan kebencanaan, pengelolaan anggaran negara, pendidikan, penegakan hukum, hingga kebebasan sipil dan hak asasi manusia.
Kehadirannya memperlihatkan bahwa aktivitas akademik dan kepemimpinan organisasi mahasiswa dapat berjalan beriringan dengan keterlibatan dalam persoalan publik.
Srikandi Mahasiswa dan Suara dari Kalimantan
Sosok ketiga adalah Naomi Artika Simamora dari Universitas Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Ia dikenal sebagai Presiden BEM Fakultas Hukum UPR dan membawa perhatian pada persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berdampak terhadap masyarakat di Kalimantan.
Naomi bersama sejumlah mahasiswa dari Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan datang ke Jakarta untuk menyuarakan persoalan tersebut dalam rangkaian aksi 28 Oktober 2026.
Isu yang dibawanya memiliki dimensi kemanusiaan yang kuat. Kabut asap akibat karhutla bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan juga berkaitan dengan keselamatan warga, kesehatan masyarakat, serta tanggung jawab pemerintah dalam penanganan bencana.
Naomi mendesak agar pemerintah memberikan perhatian serius terhadap kondisi di Kalimantan, termasuk tuntutan penetapan status bencana nasional untuk karhutla.
Tiga perempuan ini membawa latar belakang dan isu perjuangan yang berbeda. Zahra berbicara mengenai persoalan tata kelola dan supremasi sipil, Fathimah mengangkat berbagai tuntutan dalam gerakan #IndonesiaSadar, sedangkan Naomi membawa suara masyarakat yang terdampak krisis lingkungan di Kalimantan.
Pada akhirnya, makna kehadiran ketiga srikandi mahasiswa tersebut tidak semata-mata terletak pada keberanian berdiri di hadapan massa atau menyampaikan orasi. Lebih dari itu, mereka menunjukkan bagaimana generasi muda mengambil bagian dalam ruang demokrasi, menyampaikan kritik, dan mengingatkan bahwa berbagai persoalan masyarakat membutuhkan perhatian serta penyelesaian.
Di tengah dinamika bangsa, suara mahasiswa tetap menjadi salah satu bagian penting dari kehidupan demokrasi. Dan melalui Zahra, Fathimah, serta Naomi, suara perempuan muda turut hadir di garis depan untuk menyuarakan keresahan negeri.
(HS)







