Hari Ini, Ribuan Bom Kiriman AS Tiba di Israel

lintaspriangan.com, BERITA DUNIA. Pengiriman Bom MK-84 dari AS ke Israel: Latar Belakang, Alasan, dan Tanggapan Berbagai Pihak.
Pada Minggu, 16 Februari 2025, Israel menerima pengiriman bom berat MK-84 dari Amerika Serikat. Bom seberat 2.000 pon (907 kilogram) ini tiba di Pelabuhan Ashdod dan segera diangkut ke pangkalan udara militer Israel. Pengiriman ini terjadi setelah Presiden AS, Donald Trump, mencabut penangguhan yang sebelumnya diberlakukan oleh pemerintahan Joe Biden.
Latar Belakang Penangguhan Pengiriman
Pada Mei 2024, Presiden Joe Biden menunda pengiriman bom MK-84 ke Israel. Keputusan ini diambil karena kekhawatiran akan dampak penggunaan bom tersebut di area padat penduduk, khususnya di Rafah, Jalur Gaza selatan. Bom MK-84 dikenal memiliki daya ledak tinggi dan mampu menembus struktur beton tebal, sehingga penggunaannya di wilayah sipil dapat menyebabkan korban jiwa yang signifikan. Penangguhan ini memicu ketegangan dalam hubungan antara AS dan Israel, mengingat Israel telah memesan dan membayar bom tersebut sebelumnya.
Pencabutan Penangguhan oleh Presiden Trump
Pada Januari 2025, Presiden Donald Trump memutuskan untuk mencabut penangguhan pengiriman bom MK-84 ke Israel. Trump menyatakan bahwa Israel telah membayar untuk bom tersebut dan telah menunggu lama untuk pengirimannya. Pejabat Gedung Putih mengonfirmasi bahwa sekitar 1.800 unit bom MK-84 akan dikirim ke Israel dalam beberapa hari mendatang. Keputusan ini diambil meskipun ada kritik internasional terkait operasi militer Israel di Gaza dan potensi dampak kemanusiaan dari penggunaan bom tersebut.
Alasan Pengiriman Bom MK-84 ke Israel
Pengiriman bom MK-84 ini dianggap sebagai langkah untuk memperkuat aliansi antara AS dan Israel. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa pengiriman ini merupakan bukti kuatnya hubungan antara kedua negara. Selain itu, bom MK-84 akan menjadi aset penting bagi Angkatan Udara dan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dalam menghadapi ancaman dari kelompok militan seperti Hamas. Sejak serangan Hamas pada Oktober 2023, yang menewaskan lebih dari 1.200 orang di Israel, negara tersebut telah meningkatkan operasi militernya di Gaza untuk menghancurkan infrastruktur militan.
Tanggapan Berbagai Pihak
Keputusan untuk melanjutkan pengiriman bom MK-84 menuai berbagai tanggapan dari komunitas internasional dan organisasi hak asasi manusia. Banyak yang mengkhawatirkan bahwa penggunaan bom dengan daya ledak tinggi di area padat penduduk akan meningkatkan jumlah korban sipil dan memperburuk krisis kemanusiaan di Gaza. Sejak dimulainya konflik pada Oktober 2023, lebih dari 48.000 warga Gaza dilaporkan tewas, dan sekitar 70% infrastruktur di wilayah tersebut hancur atau rusak.
Di sisi lain, pemerintah Israel menegaskan bahwa pengiriman bom ini penting untuk memastikan keamanan nasional dan kemampuan mereka dalam menghadapi ancaman dari kelompok militan. Mereka juga menekankan bahwa operasi militer yang dilakukan bertujuan untuk menghancurkan kemampuan Hamas dan mencegah serangan lebih lanjut terhadap warga sipil Israel.
Situasi Terkini di Gaza
Pengiriman bom MK-84 ini terjadi di tengah gencatan senjata yang rapuh antara Israel dan Hamas. Gencatan senjata yang dimulai pada akhir Januari 2025 bertujuan untuk menghentikan pertempuran dan memungkinkan pertukaran tahanan antara kedua belah pihak. Namun, kedua pihak saling menuduh telah melanggar ketentuan gencatan senjata. Hamas melaporkan bahwa tiga petugas polisi Palestina tewas saat mengamankan pengiriman bantuan di dekat Rafah, sementara militer Israel menyatakan telah menyerang individu bersenjata yang mendekati pasukan mereka di Gaza selatan.
Kesimpulan
Pengiriman bom MK-84 dari AS ke Israel mencerminkan dinamika kompleks dalam hubungan internasional dan pertimbangan strategis di kawasan Timur Tengah. Sementara Israel melihat pengiriman ini sebagai langkah penting untuk memperkuat pertahanan nasional, komunitas internasional mengkhawatirkan potensi eskalasi kekerasan dan dampak kemanusiaan yang lebih luas di Gaza. Situasi ini menekankan perlunya pendekatan diplomatik yang hati-hati dan upaya berkelanjutan untuk mencapai perdamaian yang berkelanjutan di wilayah tersebut. (Lintas Priangan/dari berbagai sumber)



