Festival Pesisiran Cirebon 2025, Melestarikan Tradisi Bahari

lintaspriangan.com, BERITA CIREBON. Festival Pesisiran Cirebon 2025 kembali mengguncang pesisir Kota Udang pada Sabtu (18/10/2025). Sejak pagi, ribuan warga sudah memadati sepanjang Jalan Siliwangi hingga Balai Kota untuk menyaksikan pawai budaya, atraksi seni, dan ritual sedekah laut. Perayaan ini menjadi bukti nyata bahwa masyarakat Cirebon masih menjaga napas budaya bahari di tengah modernisasi yang terus bergerak.
Tradisi Bahari dan Antusiasme Warga
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon menegaskan, Festival Pesisiran Cirebon 2025 menjadi ajang untuk memperkuat identitas maritim dan melestarikan tradisi leluhur nelayan. Melalui kegiatan ini, masyarakat tidak hanya mempertahankan ritual sedekah laut, tetapi juga mempromosikan potensi wisata bahari Cirebon kepada publik nasional.
Sejak pagi, barisan peserta parade sudah bergerak dari kawasan pesisir menuju pusat kota. Iring-iringan itu menampilkan berbagai kesenian tradisional, seperti tari topeng, musik gamelan, hingga perahu hias yang membawa sesaji laut. Para nelayan bersama tokoh masyarakat memimpin prosesi larung sesaji sebagai simbol rasa syukur atas hasil laut yang melimpah.
Warga yang berdiri di sepanjang jalan terlihat antusias. Banyak di antara mereka yang datang bersama keluarga, membawa kamera ponsel, dan mengabadikan setiap momen. Pedagang kaki lima memanfaatkan momentum itu untuk menawarkan jajanan khas pesisir, seperti empal gentong, tahu gejrot, hingga es tape ketan. Suasana penuh warna, riuh namun hangat, menggambarkan semangat gotong royong khas masyarakat pesisir.
Kegiatan ekonomi kreatif juga ikut hidup. Pemerintah kota menyiapkan stan untuk pelaku UMKM agar dapat menjual kerajinan tangan, batik megamendung, serta kuliner tradisional. Inisiatif itu memberi ruang bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan produknya kepada wisatawan yang datang dari luar daerah.
Arus Lalu Lintas Padat, Pariwisata Cirebon Meningkat
Kemacetan sempat terjadi di sepanjang Jalan Siliwangi karena tingginya antusiasme pengunjung. Polisi lalu lintas bersama Dishub mengatur kendaraan dan menutup beberapa ruas jalan utama. Pemerintah kota juga mengimbau masyarakat agar memilih rute alternatif atau menggunakan transportasi umum menuju area festival.
“Sejak pagi arus kendaraan meningkat tajam. Kami menutup sebagian jalan dan mengarahkan pengguna kendaraan ke jalur alternatif,” ujar seorang petugas di lapangan. Meski padat, suasana tetap tertib dan kondusif. Warga dengan sabar menunggu giliran untuk menonton iring-iringan budaya dari pinggir jalan.
Dinas Pariwisata mencatat lonjakan pengunjung dibanding tahun sebelumnya. Hotel-hotel di sekitar pusat kota mengalami okupansi tinggi, sementara restoran dan kafe ramai pengunjung. Para wisatawan datang tidak hanya dari wilayah Ciayumajakuning, tetapi juga dari Bandung, Jakarta, dan Tegal.
Festival tahun ini menampilkan kolaborasi antara komunitas seni pesisir, kelompok nelayan, dan pelajar lokal. Selain karnaval budaya, panitia juga menggelar lomba perahu hias, pertunjukan musik rakyat, dan pameran foto sejarah bahari Cirebon. Kegiatan ini berlangsung hingga malam hari dan ditutup dengan pesta kembang api di sekitar Alun-Alun Kejaksan.
Pihak penyelenggara mengaku puas dengan keberhasilan acara tahun ini. Mereka menilai semangat warga menjadi bukti kuat bahwa tradisi bahari tetap hidup dan relevan. “Kami ingin menjadikan Festival Pesisiran Cirebon 2025 sebagai agenda tahunan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat pesisir,” ujar Ketua Panitia Pelaksana.
Festival ini menghadirkan kombinasi antara tradisi dan modernitas. Di satu sisi, masyarakat menjaga akar budaya lewat ritual dan simbol adat. Di sisi lain, kegiatan ini menjadi magnet wisata baru yang menggerakkan sektor ekonomi lokal. Dengan dukungan pemerintah, pelaku seni, dan masyarakat, Festival Pesisiran Cirebon 2025 berhasil menunjukkan bahwa budaya bukan sekadar kenangan, tetapi sumber kehidupan yang terus menghidupi kota ini. (GPS)



