AdvertorialBerita Tasikmalaya

Pancasila adalah Pilar Ekologis Bangsa Indonesia

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tasikmalaya, H. Hanafi, S.H., M.H., menegaskan bahwa Pancasila dapat dimaknai tidak hanya sebagai dasar negara, tetapi juga Pancasila adalah pilar ekologis yang mampu menuntun bangsa menghadapi tantangan krisis lingkungan hidup.

Hal itu disampaikan Hanafi dalam kaitannya dengan momentum memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Kota Tasikmalaya, Selasa (30/09/2025). Menurutnya, peringatan Hari Kesaktian Pancasila bukan hanya mengenang sejarah bangsa melawan upaya mengganti ideologi, tetapi juga momentum untuk meneguhkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam menghadapi tantangan nyata zaman sekarang, salah satunya krisis ekologi.

“Kita sedang menghadapi ancaman serius, baik di tingkat nasional maupun lokal Tasikmalaya. Pencemaran semakin meningkat, krisis air bersih, kerusakan hutan, hingga bencana iklim. Semua ini membutuhkan landasan moral, etika, dan kebersamaan. Pancasila adalah pedoman yang bisa kita jadikan pilar dalam mengelola lingkungan hidup,” ujar Hanafi.

Sila Pertama dan Amanah Tuhan

Hanafi menjelaskan, sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung pesan penting tentang hubungan manusia dengan alam. Menurutnya, kesadaran ekologis tumbuh dari keyakinan bahwa bumi adalah ciptaan Tuhan dan menjaga alam merupakan bagian dari menjalankan amanah ilahi.

“Kalau kita merusak lingkungan, sama saja kita mengkhianati amanah Tuhan. Sila pertama mengingatkan kita bahwa relasi dengan Tuhan diwujudkan juga melalui kepedulian menjaga alam semesta,” ucapnya.

Kemanusiaan dan Dampak Krisis Lingkungan

Hanafi menegaskan, sila kedua Kemanusiaan yang Adil dan Beradab relevan dengan masalah ekologi. Ia menilai, dampak kerusakan lingkungan selalu paling berat ditanggung oleh masyarakat. Polusi udara merusak kesehatan warga, banjir merugikan penduduk, dan kekeringan mengancam generasi mendatang.

“Perlindungan lingkungan adalah bagian dari perlindungan kemanusiaan. Kalau kita bicara adil dan beradab, maka kita tidak bisa menutup mata pada penderitaan rakyat akibat krisis ekologis. Semua elemen, terlebih warga masyarakat, jangan pernah mau kompromi dengan kegiatan apapun yang berdampak pada kerusakan lingkungan. Karena warga lah yang akan menanggung dampak paling besar,” katanya.

Persatuan dalam Menjaga Alam

Menurut Hanafi, sila ketiga Persatuan Indonesia mengingatkan bahwa alam adalah ruang hidup bersama. Gunung, sungai, laut, dan hutan adalah perekat bangsa yang tidak mengenal batas administrasi.

“Bencana ekologis di satu daerah bisa berdampak ke daerah lain. Karena itu, menjaga lingkungan tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Kita butuh persatuan, sinergi, dan kolaborasi. Inilah makna sila ketiga dalam konteks lingkungan,” jelasnya.

Musyawarah untuk Kebijakan Lingkungan

Lebih jauh, Hanafi menyebut sila keempat Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan sangat relevan untuk kebijakan lingkungan hidup. Pengelolaan sampah, energi terbarukan, dan tata ruang kota, menurutnya, harus melibatkan partisipasi masyarakat.

“Keputusan lingkungan yang bijak lahir dari proses musyawarah, bukan keputusan sepihak. Dengan melibatkan masyarakat, hasilnya akan lebih adil dan berkelanjutan,” tutur Hanafi.

Keadilan Sosial dan Ekologis

Hanafi juga menekankan bahwa sila kelima Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia menuntut adanya keadilan ekologis. Ia mengingatkan agar pemanfaatan sumber daya alam tidak hanya menguntungkan segelintir pihak, sementara masyarakat luas menanggung kerugian.

“Kalau ada perusahaan meraup keuntungan besar tapi rakyat menderita banjir atau polusi, itu jelas tidak adil. Sila kelima mengingatkan kita bahwa hasil alam harus dikelola sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, bukan menimbulkan kesenjangan,” tegasnya.

Tindakan Nyata

Selain menekankan nilai-nilai Pancasila, Hanafi juga menyebut sejumlah langkah konkret yang dapat dijalankan sebagai pengejawantahan ideologi bangsa dalam konteks ekologis. Ia menyebut pentingnya kebijakan pembangunan berkelanjutan, kesadaran bersama tentang pentingnya menjaga lingkungan, penguatan gerakan gotong royong dalam pengelolaan sampah, serta perlindungan sumber daya lingkungan seperti air, tanah dan udara.

“Pancasila bukan hanya ide, tapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Kalau kita konsisten, Pancasila bisa menuntun bangsa menghadapi krisis lingkungan sekaligus menjaga kelestarian bumi untuk anak cucu,” katanya.

Refleksi Momentum

Di akhir keterangannya, Hanafi menegaskan bahwa peringatan Hari Kesaktian Pancasila sebaiknya dijadikan momentum refleksi kolektif. Bagi DLH Kota Tasikmalaya, peringatan ini bukan hanya soal upacara, tetapi juga pengingat bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari menjaga kesaktian Pancasila itu sendiri.

“Pancasila adalah pilar ekologis bangsa Indonesia. Kalau kita berpegang teguh pada nilai-nilainya, kita bukan hanya menjaga ideologi, tetapi juga menjaga bumi sebagai ruang hidup bersama. Itu warisan terbaik untuk buah hati kita di masa yang akan datang,” pungkas Hanafi. (AA)

Related Articles

Back to top button