lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan dan Wakil Wali Kota Diky Candra Negara menjadi sorotan setelah tidak hadir dalam acara Refleksi Milangkala ke-25 Kota Tasikmalaya, Sabtu malam (31/10/2026). Padahal, forum tersebut dihadiri sejumlah pejabat, akademisi, praktisi, aktivis sosial, tokoh masyarakat, hingga tokoh lintas agama yang datang untuk membicarakan persoalan dan masa depan Kota Tasikmalaya.
Ketidakhadiran dua pimpinan daerah itu memantik kekecewaan. Dalam sebuah video, seorang perempuan melontarkan kritik keras. Ia mempertanyakan alasan wali kota tidak hadir, bahkan menyebut para undangan seperti di-prank setelah meluangkan waktu untuk menghadiri forum refleksi yang semestinya menjadi ruang pertemuan antara pemimpin dan masyarakat.
Wali Kota Tasikmalaya Ngeprank, Undangan Hadir Pemimpinnya Tidak Ada
Acara refleksi yang digelar di Aula Bapelitbangda Kota Tasikmalaya itu bukan sekadar agenda seremonial milangkala. Forum tersebut dirancang untuk mengevaluasi berbagai persoalan kota, mulai dari ekonomi, infrastruktur, pendidikan, agama, lingkungan, hukum, sosial, hingga kebudayaan.
Berbagai unsur masyarakat hadir membawa pengalaman dan pandangan dari bidang masing-masing. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa ada persoalan yang ingin disampaikan langsung kepada pemerintah daerah. Namun, ketika forum berlangsung, wali kota dan wakil wali kota justru tidak berada di tempat.
Dalam video tersebut, perempuan yang menyampaikan kritik mengaku telah menyiapkan catatan mengenai persoalan anak-anak dan perempuan di Kota Tasikmalaya. Ia berharap dapat menyampaikan langsung persoalan tersebut kepada wali kota. Harapan itu pupus karena kesempatan bertemu dengan pimpinan daerah tidak terwujud.
Ia juga mempertanyakan bagaimana hubungan antara pemimpin dan masyarakat bisa terbangun apabila kepala daerah tidak hadir dalam ruang dialog yang mempertemukan keduanya. Kritiknya mengarah pada hal mendasar: masyarakat diminta menyampaikan aspirasi, tetapi ketika kesempatan untuk berbicara terbuka, pemimpin yang diharapkan mendengar justru tidak datang.
Wali Kota Tasikmalaya Ngeprank, Untuk Apa Forum Refleksi Digelar?
Ketidakhadiran wali kota dan wakil wali kota menyisakan pertanyaan besar tentang arti forum refleksi bagi pemerintah daerah. Jika agenda itu dimaksudkan untuk mengevaluasi perjalanan kota, bukankah kepala daerah semestinya menjadi pihak yang paling berkepentingan mendengarkan hasil evaluasi tersebut?
Pejabat, akademisi, praktisi, aktivis, dan tokoh masyarakat tidak datang hanya untuk memenuhi kursi undangan. Mereka memiliki pengetahuan, pengalaman, serta catatan tentang persoalan yang dihadapi warga. Masukan seperti itu semestinya menjadi bahan penting bagi pemerintah dalam menentukan kebijakan dan memperbaiki pelayanan publik.
Lebih jauh, refleksi seharusnya menjadi ruang bagi pemimpin untuk mendengar langsung kritik, termasuk kritik yang mungkin tidak nyaman. Sebab, keberhasilan memimpin tidak hanya diukur dari kemampuan menyelenggarakan acara atau menyampaikan laporan, tetapi juga dari kesediaan menghadapi pertanyaan dan evaluasi masyarakat.
Kini, pertanyaan publik bukan hanya mengapa wali kota dan wakil wali kota tidak hadir. Yang lebih mendasar, bagaimana pemerintah Kota Tasikmalaya akan menindaklanjuti berbagai persoalan yang sudah disiapkan untuk dibicarakan dalam forum tersebut?
Jangan sampai masyarakat sudah datang membawa persoalan, tetapi pemerintah justru absen dari percakapan yang paling penting bagi masa depan kota.
(AA)







