Wawar

Viman Alfarizi Ramadhan, Wali Kota Aneh?

lintaspriangan.com, WAWAR. Dalam 24 jam terakhir, video tentang Farhan, Wali Kota Bandung, terus-terusan lewat di beranda TikTok saya. Farhan ngamuk dan langsung menyegel lahan Palaguna.

“Bongkar kabeh ieu! Ngotoran Kota Bandung we hungkul! Aing nu disalahkeun!” Begitu kata Farhan, tentu dengan emosi yang meletup-letup.

Sejak jaman Basuki Purnama alias Ahok, sepertinya gaya kepemimpinan “amuk-amukan” jadi tren. Banyak pejabat, gubernur dan kepala daerah yang tuturuti. Bahkan sampai kepala desa, ada yang berani mengajak duel sama wartawan. Dan, ternyata gaya ngamuk seperti ini selalu mendapat pujian dari netizen (mudah-mudahan lain buzzer nu dibayar).

Saya kemudian teringat, sekitar satu bulan lalu, saya pernah menonton video Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramdhan, di plarform TikTok. Sayangnya, video itu sulit saya temukan lagi. Seharian kemarin, saya coba cari video itu, tapi hasilnya nihil.

Yang pasti, di video tersebut kalau tidak salah Wali Kota Viman sepertinya sedang melakukan sidak ke sebuah kantor layanan publik. Dia berjalan santai, dan sempat bertanya pada warga yang sedang duduk di kursi tunggu. Kalau tidak salah, begini dialognya…

“Ibu tos lami ngantosan?” tanya Viman. Dia nanya sambil lalu saja.

“Kirang langkung dua jam,” jawab si ibu. Ternyata jawaban si ibu menarik perhatian Viman.

“Euleuh dua jam. Itu udah lama teuing, tolong dipercepat,” jawab Viman lagi.

Kalau tidak salah begitulah kurang lebih dialognya. Aslina, itu video, sampai berhari-hari masih berbekas dalam ingatan saya. Terutama pada bagian kalimat terakhir, ketika Viman minta layanan dipercepat.

Kenapa berbekas di benak saya? Karena Viman menyampaikan kalimat tersebut dengan nada yang sangat landai, bahkan menurut saya santun. Ia menegur, tapi tidak pake amuk-amukan. Buat saya, ini poin penting, terutama di masa seperti sekarang, ketika banyak pejabat yang gemar amuk-amukan dan mendapat banyak tepuk tangan.

Viman aneh sendiri. Dia berlawanan dengan tren, dia tidak begitu.

Sejak menonton video itu, saya jadi sering menyengaja melihat video-video Viman yang lain. Saya perhatikan, ternyata memang dia punya karakter santun ketika berbicara. Tidak hanya kata-katanya, tapi bahasa tubuhnya juga menunjukkan itu.

“Ah eta mah pedah kurang pangalaman meureun, kurang pinter, kurang pede,” mungkin ada yang beranggapan begitu. Bagi saya, paduli teuing! Yang pasti, adab itu lebih tinggi daripada ilmu.

Dan akhirnya, saya menceritakan kesan ini kepada Redaksi Lintas Priangan, agar bisa dimuat di rubrik Wawar.

“Da saya mah teu bisa nulis, ari kur ngadongeng mah bisa. Titip kangge Wali Kota Viman, pertahankan adab. Tong kabawa-bawa tren siga nu enya amuk-amukan. Meh sehat, panjang umur, jeung logika na bener. Nu amuk-amukan mah kalah kumaha ge, boh ceuk hadits boh ceuk ilmiah, otakna moal normal! Mun aya pejabat gaya amuk-amukan ka warga di Kota Tasik, pecat Pak!”

Untuk warga Kota Tasikmalaya, hayu urang bangun sinergi. Kritik harus tetap ada, tapi jangan karena benci orangnya. Tak ada satupun kepala daerah yang tidak punya kekurangan. Kalau mau punya kepala daerah yang sempurna, engke di akherat, eta ge sugan aya kota jeung pemilu di akherat, urang pilih wali kota na malaikat.

Bisi kudu disumpah saya siap, bahwa saya bukan pendukung Viman. Saya bahkan tim sukses paslon lain. Teu kenal-kenal acan ka Viman, komo Viman ka kuring.”

Hatur nuhun Lintas Priangan!

Paparan di atas disampaikan Yudi, warga Nagarasari, Cipedes.

Related Articles

Back to top button