Opini

Empat Ahli Ibadah Masuk Neraka, Ketika Amal Tak Menjamin Surga

Renungan tentang ahli ibadah masuk neraka: kisah nyata dari hadits yang mengingatkan pentingnya keikhlasan dan akhlak dalam beribadah.


Sebuah Renungan di Tengah Ramainya Ibadah

lintaspriangan.com, KAJIAN – Setiap Ramadan, masjid-masjid dipenuhi jamaah. Lantunan zikir menggema, sajadah dibentangkan, dan tangan-tangan terangkat penuh doa. Namun di balik kesyahduan itu, terselip peringatan Rasulullah SAW yang menusuk hati: tidak semua ahli ibadah akan berakhir di surga.

Ada sebagian yang justru menjadi ahli ibadah masuk neraka, mereka yang tekun beribadah, tapi kehilangan makna karena hati mereka ternoda oleh kesombongan, riya, atau kezaliman terhadap sesama.


Ketika Amal Menjadi Bangkrut

Dalam sebuah hadits sahih riwayat Muslim, Rasulullah SAW menggambarkan orang yang bangkrut bukanlah mereka yang kehilangan harta, melainkan pahala.

“Orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari kiamat dengan shalat, puasa, dan zakat, tetapi mencaci, menuduh, memakan harta orang lain, dan menyakiti sesama.” (HR. Muslim No. 4678)

Mereka datang dengan segunung amal, tetapi pahala itu habis untuk menebus dosa terhadap manusia lain. “Ini adalah kebangkrutan spiritual,” ujar KH Quraish Shihab. “Ibadah mereka tidak menumbuhkan kasih sayang, hanya rasa lebih suci dari orang lain.”


Ibadah Tak Menjamin Kesalehan Sosial

Pernah satu kali Rasulullah SAW ditanya tentang seorang wanita yang rajin berpuasa dan shalat malam, namun kerap menyakiti tetangganya.

“Dia tidak memiliki kebaikan sama sekali. Ia termasuk penghuni neraka,” sabda Nabi. (HR. Ahmad No. 9298)

Pesan ini sederhana tapi dalam: shalat tidak bermakna jika lidah masih menyakiti. Puasa tak bernilai jika hati masih kotor. Dalam pandangan Ustaz Adi Hidayat, “Ibadah sejati adalah yang melahirkan empati, bukan superioritas.”


Bahaya Riya dan Pencitraan Spiritual

Zaman digital membuat amal lebih mudah dipamerkan. Foto bersedekah, video umrah, atau unggahan tilawah sering bertebaran di media sosial. Niatnya mungkin baik, tapi kadang tanpa sadar berubah menjadi ajang validasi diri.

Rasulullah SAW mengingatkan bahwa di hari kiamat nanti, tiga orang pertama yang diadili justru para ahli ibadah—pejuang, dermawan, dan alim—yang beramal bukan karena Allah, tapi karena ingin disebut hebat.

“Sesungguhnya yang mereka cari hanyalah pujian manusia, dan itu yang mereka dapat,” sabda Nabi.

Menurut Dr. Ahmad Zainal Muttaqin (UIN Sunan Gunung Djati Bandung), fenomena ini mencerminkan “krisis keikhlasan modern.” Banyak orang beribadah dengan semangat tinggi, tapi lupa menata niat.


Kesombongan: Dosa Tersembunyi yang Menghapus Amal

Ibnu Athaillah As-Sakandari menulis dalam Tajul ‘Arus, tentang seorang ahli ibadah dari Bani Israil yang setiap hari dinaungi awan karena ketaatannya. Namun semua itu lenyap ketika ia menghina seorang pelacur yang hendak bertaubat.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji debu.” (HR. Muslim).

Kesombongan spiritual adalah penyakit yang berbahaya. Ia membuat seseorang merasa sudah cukup suci, hingga tak lagi melihat kesalahannya. “Saat merasa paling benar, di situlah ibadah kehilangan ruhnya,” tutur Syekh Ali Jaber.


Cermin untuk Zaman Kita

Keempat kisah ahli ibadah masuk neraka bukan sekadar peringatan, tapi juga cermin bagi umat modern yang hidup di tengah budaya pencitraan. Ibadah sering menjadi simbol status sosial, bukan perjalanan spiritual.

Imam Al-Ghazali menulis dalam Ihya Ulumuddin:

“Tanda amal yang diterima adalah ketika hati menjadi lembut dan jiwa semakin rendah hati.”

Ibadah yang benar membuat seseorang lebih sabar, bukan mudah marah. Lebih peduli, bukan gemar menilai. Lebih tulus, bukan mencari pengakuan.


Menjaga Nurani di Tengah Rutinitas

Ustaz Adi Hidayat pernah berkata, “Amal saleh yang ingin dilihat manusia tidak akan sampai ke langit.”
Pesan ini seolah menjadi pengingat bagi setiap Muslim agar menata ulang niat sebelum sujud. Bahwa ibadah bukan sekadar rutinitas, melainkan perjalanan menyucikan hati.


Akhir yang Menyelamatkan

Ketika semua amal ditimbang, Allah tidak melihat seberapa banyak rakaat, tetapi seberapa jujur hati dalam menjalankannya.
Karena pada akhirnya, bukan seberapa sering seseorang beribadah, melainkan seberapa dalam ia menundukkan hatinya di hadapan Tuhan.

Ahli ibadah masuk neraka adalah cermin agar kita tidak terlena dengan banyaknya amal, tapi fokus pada keikhlasan. Sebab di hadapan Allah, hati yang bersih lebih berharga dari seribu kali rukuk yang sombong.


Penutup
Empat ahli ibadah masuk neraka jadi pengingat agar ibadah disertai akhlak dan keikhlasan. Tanpa itu, amal hanyalah gerak tanpa makna. (Lintas Priangan/Arrian)


Related Articles

Back to top button