Berita Bandung

Bandung Darurat Sampah, Pemkot Butuh 1.597 Tenaga Kerja

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Kota Bandung kini menghadapi kondisi darurat sampah akibat terbatasnya kuota pembuangan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti. Pemerintah Kota Bandung menyiapkan langkah cepat dengan merekrut 1.597 pendamping pemilah sampah dan menambah enam unit insinerator sebagai solusi jangka pendek dan menengah.


Kuota Dibatasi, Sampah Menumpuk

Sejak kuota pembuangan ke TPA Sarimukti dikurangi dari 1.200 ton menjadi 981 ton per hari, sekitar 200 hingga 300 ton sampah setiap hari tidak terangkut. Penumpukan terjadi di sejumlah titik, terutama di TPS wilayah timur dan selatan Bandung. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung mencatat total timbulan sampah yang belum tertangani mencapai 4.000 ton.

Kondisi ini memaksa Pemkot Bandung menetapkan status darurat sampah. Penanganan dilakukan dengan menekan timbulan sejak sumbernya, yakni di tingkat rumah tangga dan RW.


1.597 Pendamping Pemilah Sampah

Pemkot Bandung menyiapkan perekrutan 1.597 pendamping pemilah sampah, yang akan ditempatkan di seluruh RW. Mereka bertugas mendampingi warga dalam memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengatakan pendamping akan berperan sebagai penggerak perubahan perilaku masyarakat. Sampah organik diharapkan dapat diolah di tingkat RW melalui komposter atau budidaya maggot, sementara sampah anorganik disalurkan ke bank sampah.

Para pendamping akan mendapat honor setara petugas Gober dan bekerja dalam struktur pelaporan yang terintegrasi dengan kelurahan. Program ini ditargetkan mulai berjalan akhir Oktober 2025.


Enam Insinerator Baru Disiapkan

Selain perekrutan pendamping, Pemkot Bandung juga menambah enam unit insinerator untuk mempercepat pengolahan sampah di lokasi. Saat ini terdapat tujuh insinerator yang sudah beroperasi di sejumlah titik seperti Bandung Kulon, Babakan Sari, dan TPS Patrakomala.

Insinerator tambahan akan ditempatkan di beberapa kecamatan, antara lain Sukasari, Mandalajati, dan Rancasari. Masing-masing unit mampu mengolah hingga 10 ton sampah per hari dengan sistem pembakaran termal berstandar lingkungan.

Pemerintah memastikan teknologi insinerator yang digunakan memenuhi baku mutu emisi sesuai peraturan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.


Tantangan dan Harapan

Pemkot Bandung mengakui, tantangan terbesar dalam penanganan darurat sampah bukan hanya pada teknis pengangkutan dan pengolahan, tetapi juga pada perubahan perilaku masyarakat.

Dari 151 rumah maggot yang sudah berdiri, baru sebagian kecil yang beroperasi optimal. Produksi olahan organik baru mencapai sekitar 350 kilogram per hari, jauh dari target. Karena itu, peran pendamping pemilah sampah diharapkan menjadi ujung tombak edukasi lingkungan di masyarakat.

Wali Kota Bandung menegaskan, kolaborasi seluruh pihak sangat dibutuhkan agar darurat sampah bisa segera teratasi. Pemerintah kota, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat harus bergerak bersama menekan volume sampah dari sumbernya.


Jalan Panjang Mengakhiri Bandung Darurat Sampah

Langkah cepat Pemkot Bandung merekrut ribuan pendamping dan menambah insinerator menjadi bagian dari strategi jangka pendek untuk mengurai tumpukan sampah. Namun, upaya jangka panjang tetap menuntut perubahan sistem pengelolaan yang berkelanjutan dan partisipasi aktif warga.

Status Bandung darurat sampah menjadi peringatan bahwa persoalan sampah bukan sekadar urusan teknis, melainkan juga tanggung jawab bersama untuk menjaga kelestarian dan kebersihan kota.

Related Articles

Back to top button