Inspiratif

Kisah Nyata: Cinta Seorang Ibu di Tengah Banjir Bandang Sumatera

lintaspriangan.com, INSPIRATIF. Di tengah amukan banjir bandang yang melanda Simpang Empat, Mereudu, Aceh Pidie, tersimpan kisah pilu tentang cinta seorang ibu—cinta yang tak sempat menyelamatkan dirinya sendiri, tetapi memilih menambatkan hidup orang lain pada harapan.

Air bah datang tanpa aba-aba. Tak ada sirene, tak ada waktu merapikan rasa takut. Ia hanya tahu: air naik, arus menggila, dan dunia mengecil menjadi satu hal paling penting—bayinya. Dalam situasi genting tanpa ruang berpikir panjang, sang ibu muda mengambil keputusan yang biasanya lahir dari naluri paling purba: menyelamatkan nyawa anaknya, apa pun risikonya.

Ia berenang. Melawan arus. Setiap gerak seperti perlawanan pada maut. Di kejauhan, sebuah pohon mangga berdiri—bukan megah, bukan pula tinggi, tapi cukup. Cukup untuk satu harapan kecil bertahan. Dengan sisa tenaga yang mungkin tak lagi menghitung napasnya sendiri, ia mengikat tubuh bayinya ke dahan pohon menggunakan sehelai kain. Ikatan sederhana, namun penuh keyakinan. Seolah ia berkata pada air: ambil aku, tapi jangan dia.

Tak lama setelah itu, arus deras menyeret tubuh sang ibu. Ia hilang, tak pernah kembali. Tak ada jerit terakhir yang tercatat. Tak ada pesan yang sempat dititipkan. Ia pergi dalam sunyi—seperti banyak ibu yang bekerja dalam diam, melakukan yang harus dilakukan, lalu menghilang dari sorotan.

Kisah ini berdiri di tengah tragedi yang jauh lebih besar. Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera telah menelan 1.090 korban jiwa, sementara 186 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Angka-angka itu dingin, tegas, dan tak berperasaan. Namun di balik setiap bilangan, ada nama, ada keluarga, ada cerita yang tak sempat selesai—termasuk kisah seorang ibu di Mereudu ini.

Ketika air mulai surut dan lumpur mengendap, warga menemukan sebuah pemandangan yang membuat waktu seperti berhenti sejenak. Seorang bayi—terikat di dahan pohon mangga—menggigil, basah, namun hidup. Tangisnya pelan, seolah tak ingin mengganggu pengorbanan yang baru saja terjadi. Sebuah keajaiban yang lahir bukan dari kebetulan, melainkan dari keberanian yang memilih arah paling berat.

Nama sang ibu mungkin tak tercatat rapi dalam laporan resmi. Usianya tak masuk data. Alamatnya mungkin sudah tak lagi berdiri. Namun cintanya tinggal. Tinggal di batang pohon yang menjadi saksi. Tinggal di ingatan warga yang menuturkan kisah ini dari mulut ke mulut. Tinggal di hati siapa pun yang mendengarnya dan mendadak terdiam—menimbang ulang arti kata “pahlawan”.

Di tengah bencana, kita kerap sibuk menghitung kerugian: rumah rusak, sawah terendam, infrastruktur lumpuh. Tapi kisah ini mengingatkan, ada hitungan lain yang jarang masuk tabel statistik: pengorbanan. Dalam air setinggi dada, cinta seorang ibu tak pernah menunggu instruksi. Ia bekerja lebih cepat dari perintah apa pun.

Banjir akan surut. Data korban akan diperbarui. Tim evakuasi akan melanjutkan pencarian mereka yang masih hilang. Namun kisah ini akan menetap lebih lama—mengajarkan bahwa pada titik paling gelap, harapan kadang berlabuh pada tindakan paling sederhana: mengikat hidup pada dahan, lalu menyerahkan sisanya pada Tuhan.

Seorang ibu telah menjadi pahlawan sejati, tanpa podium, tanpa tepuk tangan. Nyawanya adalah taruhannya, dan hidup anaknya adalah kemenangannya.

Al-Fatihah untuk sang ibu.
Cintamu tidak ikut tenggelam.

Related Articles

Back to top button