SAGC Championship 2025 di Ciamis: Lebih dari Sekadar Lomba

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Ciamis kembali menjadi magnet olahraga nasional. Pada Sabtu (20/12/2025), Kabupaten ini resmi menggelar SAGC Championship 2025 di Stadion Atletik Prabu Linggabuana. Sejak pagi, denyut stadion terasa berbeda: langkah-langkah cepat atlet yang melakukan pemanasan, teriakan pelatih dari pinggir lintasan, dan sorak dukungan yang sesekali pecah dari tribun. Lebih dari 1.000 atlet dari berbagai provinsi—mulai dari Pulau Jawa hingga Sulawesi—turut ambil bagian, menjadikan ajang ini salah satu kejuaraan atletik terbesar yang pernah digelar di Ciamis.
Kejuaraan ini bukan sekadar lomba adu cepat atau adu jauh. Di balik nomor-nomor lari, lompat, dan lempar, ada pesan besar tentang pembinaan, keadilan, dan masa depan atletik daerah. H. Herdiat Sunarya, Bupati Ciamis, menegaskan bahwa SAGC Championship 2025 adalah ruang evaluasi yang nyata bagi para atlet. “Ini bukan hanya soal medali. Ini uji kemampuan dan mental, agar atlet kita terbiasa dengan kompetisi yang sehat, objektif, dan berstandar tinggi,” ujarnya di sela pembukaan.
Bupati Herdiat juga memberi penekanan khusus kepada panitia dan wasit. Baginya, sportivitas bukan jargon seremoni. Ia meminta seluruh perangkat pertandingan menjunjung tinggi keadilan, memastikan tak ada atlet yang dirugikan oleh keputusan yang bias. “Kalau keadilan dijaga, prestasi akan mengikuti,” katanya. Pernyataan itu disambut anggukan para pelatih yang paham betul: satu keputusan keliru bisa mematahkan semangat atlet yang berlatih bertahun-tahun.
Di lintasan, cerita-cerita kecil bermunculan. Ada atlet muda yang baru pertama kali tampil di kejuaraan nasional terbuka, ada pula atlet senior yang datang untuk menguji konsistensi. Beberapa orang tua terlihat setia menunggu di tribun, menyimpan cemas dan harap. Momen-momen inilah yang membuat SAGC Championship 2025 terasa hidup, bukan sekadar daftar hasil lomba.
Ketua PASI Ciamis, Aep Saepuloh, menyebut kejuaraan ini sebagai bagian dari strategi pembinaan jangka panjang. “Kami ingin pembinaan yang berkesinambungan dan bermartabat. Menjaring bibit unggul itu penting, tapi menjaga prosesnya jauh lebih penting,” ujarnya. Menurut Aep, SAGC Championship 2025 dirancang agar atlet terbiasa dengan atmosfer kompetisi yang disiplin dan profesional, sekaligus membuka jejaring antardaerah.
Dari sisi daerah, penyelenggaraan kejuaraan ini memberi dampak berlapis. Hotel-hotel di sekitar kota terisi, pedagang kecil merasakan peningkatan transaksi, dan nama Ciamis kembali disebut dalam peta olahraga nasional. Ini menjadi sinyal bahwa Ciamis tak hanya siap sebagai tuan rumah, tetapi juga serius membangun ekosistem olahraga yang sehat.
Sejumlah pelatih menilai kualitas penyelenggaraan cukup baik, mulai dari kesiapan lintasan hingga pengaturan jadwal. Tentu, selalu ada ruang perbaikan—seperti penambahan fasilitas pendukung dan optimalisasi alur registrasi—namun fondasinya sudah kokoh. Yang terpenting, kepercayaan peserta terhadap integritas pertandingan tetap terjaga.
SAGC Championship 2025 juga memberi harapan bagi atlet muda Ciamis. Mereka melihat langsung standar kompetisi, mengukur diri, dan belajar dari yang terbaik. Dari sinilah mimpi ke level nasional hingga internasional dirajut—pelan, disiplin, dan konsisten. Seperti kata seorang pelatih di pinggir lintasan, “Prestasi itu bukan kejutan. Ia hasil kebiasaan yang benar.”
Menutup hari, matahari condong ke barat, lintasan mulai lengang. Namun gaungnya masih terasa. Bagi Ciamis, SAGC Championship 2025 bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah pernyataan sikap: bahwa daerah ini serius menumbuhkan prestasi dengan cara yang adil, manusiawi, dan berkelanjutan. Dan dari stadion ini, cerita-cerita atlet akan terus berlari—lebih jauh dari sekadar garis finis. (DH)



