Viral Sekolah Ambruk di Tasikmalaya: Kisah Pilu SDN Curugtelu dan Respon KDM

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Kisah memilukan dari SDN Curugtelu di Kecamatan Culamega, Kabupaten Tasikmalaya, kini menjadi sorotan publik. Selama dua tahun terakhir, siswa-siswi sekolah dasar negeri itu terpaksa menuntut ilmu di luar ruang kelas utama. Atap yang roboh, dinding retak, serta lantai berlubang membuat empat ruang kelas tak lagi layak digunakan.
Video kondisi sekolah yang rusak parah mendadak viral di media sosial. Dalam rekaman berdurasi sekitar dua menit itu, tampak anak-anak belajar di bawah pohon dan di emperan sekolah dengan meja seadanya. Seorang siswi bahkan menangis sambil berkata dalam bahasa Sunda, “Pak Dedi, abdi hoyong sakola anu layak,” yang berarti “Pak Dedi, saya ingin sekolah yang layak.” Ucapan polos itu seolah menjadi jeritan hati ribuan anak di pelosok yang belum merasakan pendidikan di tempat aman dan nyaman.
SDN Curugtelu Jadi Simbol Sekolah Rusak di Daerah
Kondisi SDN Curugtelu disebut sudah rusak sejak dua tahun lalu, namun belum tersentuh perbaikan. Menurut pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya, sekolah tersebut sudah masuk daftar usulan perbaikan pada tahun anggaran 2026. Namun, penantian panjang membuat para guru dan siswa nyaris putus asa. Mereka tetap bersemangat belajar meski harus berpindah dari halaman sekolah ke rumah warga saat hujan turun.
Kerusakan di SDN Curugtelu kini menjadi simbol masalah klasik di dunia pendidikan daerah. Banyak sekolah di pelosok Tasikmalaya mengalami nasib serupa: ruang belajar lapuk, plafon ambruk, dan fasilitas minim. Namun perhatian publik baru benar-benar muncul setelah video murid Curugtelu viral dan menyentuh hati banyak orang.
Gubernur Dedi Mulyadi Turun Tangan
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi langsung menanggapi viralnya kondisi SDN Curugtelu. Melalui akun resminya, ia mengaku prihatin dan segera menurunkan tim ke lokasi untuk meninjau langsung kondisi bangunan. “Saya sudah meminta tim datang ke Tasikmalaya untuk menghitung kebutuhan biaya dan mencari solusi tercepat,” ujarnya.
Meski pembangunan sekolah dasar menjadi kewenangan pemerintah kabupaten, Dedi menegaskan tidak akan tinggal diam melihat anak-anak belajar di tempat tidak layak. Ia juga sudah berkomunikasi dengan Bupati Tasikmalaya agar perbaikan SDN Curugtelu menjadi prioritas. “Anak-anak harus tetap semangat belajar. Negara tidak boleh membiarkan mereka kehilangan masa depan,” tegasnya.
Langkah cepat Gubernur ini mendapat respons positif dari masyarakat. Banyak warganet mengapresiasi kepeduliannya, sekaligus berharap pemerintah daerah bisa lebih tanggap terhadap kondisi sekolah-sekolah lain yang bernasib sama.
Siapa yang Bertanggung Jawab?
Kasus SDN Curugtelu menyoroti pentingnya koordinasi antara pemerintah kabupaten dan provinsi. Menurut Dinas Pendidikan, keterbatasan anggaran menjadi alasan utama mengapa perbaikan sekolah belum bisa dilakukan lebih cepat. Namun bagi masyarakat, alasan itu terdengar klise. Dua tahun tanpa ruang belajar permanen dianggap terlalu lama bagi anak-anak yang haus ilmu.
Sejumlah anggota DPRD Kabupaten Tasikmalaya bahkan mendesak agar dana cadangan atau bantuan provinsi segera digunakan. Mereka menilai, SDN Curugtelu adalah bukti nyata bahwa sektor pendidikan di daerah membutuhkan perhatian lebih serius.
Harapan Sederhana dari Siswa SDN Curugtelu
Di tengah polemik kewenangan dan anggaran, para siswa SDN Curugtelu hanya berharap satu hal: bisa belajar di ruang kelas yang layak. Bagi mereka, gedung baru bukan soal kemewahan, melainkan kebutuhan dasar untuk bisa menimba ilmu tanpa takut genting jatuh atau dinding roboh.
Viralnya kisah SDN Curugtelu telah membuka mata banyak pihak bahwa pembangunan pendidikan tidak boleh hanya fokus di kota. Sekolah-sekolah di pelosok, seperti di Tasikmalaya selatan, membutuhkan langkah nyata, bukan sekadar janji anggaran tahun depan.
Anak-anak SDN Curugtelu kini menunggu bukti dari janji para pemimpin. Setelah dua tahun belajar di bawah langit terbuka, mereka berharap keajaiban itu datang tahun ini, bukan pada 2026. (GPS)



