Atasi ATS, Pemkab Ciamis Gencarkan Peran PKBM

lintaspriangan.com. CIAMIS. Salah satu Misi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ciamis dibawah kepemimpinan Dr. H Herdiat Sunarya sebagai Bupati Ciamis adalah meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Untuk itu Pemkab Ciamis melalui Dinas Pendidikan terus memperkuat peran Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) sebagai solusi nyata menghadapi persoalan pendidikan di luar jalur formal.
Langkah tersebut merupakan bagian penting dari upaya Pemkab Ciamis dalam meningkatkan kualitas SDM. Bukan sekadar wacana, tetapi telah diwujudkan secara konkret melalui berbagai program dan dukungan anggaran.
Saat ini terdapat 37 PKBM aktif di seluruh wilayah Kabupaten Ciamis, bahkan hingga tingkat desa dan kelurahan. Ini menunjukkan komitmen kuat Pemkab dalam menjangkau warga yang belum mendapat akses pendidikan layak.
“PKBM bukan hanya tempat belajar, tapi menjadi harapan baru bagi ribuan warga Tatar Galuh untuk memperbaiki masa depan lewat pendidikan,” kata Kepala Dinas Pendidikan Ciamis, Dr. Erwan Darmawan, saat kegiatan di Halaman Aula Disdik, Rabu (19/06/2025).
Erwan mengungkapkan, hingga kini terdapat lebih dari 13 ribu anak tidak sekolah (ATS) yang teridentifikasi di berbagai kecamatan dan desa. Data tersebut telah di-breakdown hingga tingkat desa sebagai dasar intervensi yang lebih tepat sasaran.
“Dari asil verifikasi, ATS dikelompokkan menjadi tiga: anak putus sekolah, belum pernah sekolah, dan anak yang lulus tapi tidak melanjutkan. Ini jadi langkah awal agar mereka tidak kehilangan masa depan,” jelasnya.
Berbagai penyebab ATS antara lain karena kendala ekonomi, pernikahan dini, rendahnya motivasi, hingga hambatan sosial. Untuk mengatasi itu, Disdik menggandeng lintas sektor, termasuk BKKBN, untuk mendorong intervensi langsung berbasis desa.
“Pemerintah juga sudah menyediakan beasiswa untuk keluarga kurang mampu. Kami minta masyarakat ikut peduli. Jika melihat anak tidak sekolah, segera laporkan,” tegasnya.
Erwan menyebutkan, minat masyarakat untuk kembali belajar sangat tinggi. Pada tahun 2025 tercatat lebih dari 11 ribu peserta didik di PKBM, meningkat dari 9 ribu tahun sebelumnya.
“Ini termasuk warga usia 25 tahun ke atas yang kembali menempuh pendidikan. Semua biaya ditanggung oleh APBD Ciamis,” katanya.
Sejak 2015, Pemkab Ciamis telah menjalankan Program Inovasi Menyisir Anak Sekolah – Gerakan Masuk Sekolah (IMAS-GEMAS) yang menjadi ujung tombak penyisiran ATS hingga tingkat RT.
Langkah ini berdampak langsung terhadap peningkatan angka Rata-rata Lama Sekolah (RLS) dan Harapan Lama Sekolah (HLS) sebagai indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Namun Erwan menambahkan, rendahnya RLS tak melulu soal pendidikan. Migrasi juga menjadi penyebab, misalnya lulusan PKBM yang merantau setelah lulus, sehingga tidak tercatat di daerah asal.
“Ini menjadi bukti keberhasilan, mereka lulus dan bisa mandiri,” ujarnya.
Kepala PKBM Hidayah Galuh, Hj. Ius Yusmiati, S.Pd., M.M., mengapresiasi dukungan Pemkab Ciamis yang menurutnya sangat serius membangun pendidikan non-formal.
“Pemkab bukan hanya mencatat, tapi hadir dengan program nyata dan inovatif. Ini bentuk keseriusan yang jarang ditemukan di daerah lain,” ungkapnya.
BACA JUGA: Serahkan Alsintan, Bupati Herdiat Tegaskan Komitmen Majukan Pertanian
Menurutnya, PKBM bukan pelengkap, tetapi bagian penting dari sistem pendidikan nasional. Pendidikan formal memiliki keterbatasan, sedangkan PKBM lebih fleksibel, menjangkau semua kalangan, termasuk pekerja, ibu rumah tangga, bahkan santri di pesantren.
“PKBM menjangkau yang tidak terjangkau. Mereka yang menikah muda, bekerja, atau tinggal di pesantren tetap bisa belajar sesuai waktunya,” jelasnya.
Ia menambahkan, program pembelajaran usia produktif 25+ menjadi terobosan progresif karena seluruh biayanya ditanggung oleh APBD Ciamis sebuah kebijakan yang sangat jarang diterapkan daerah lain.
Salah satu inovasi menarik adalah kolaborasi PKBM dengan pesantren. Santri tetap bisa belajar tanpa meninggalkan pesantren, karena jadwal disesuaikan dengan waktu mengaji.
“Hanya pendidikan non-formal yang punya fleksibilitas seperti ini. Dan kualitas tetap terjaga, karena tutor PKBM sudah terlatih dan memahami kondisi sosial lokal,” pungkasnya. (Lintas Priangan/Nank)



