Pantai Karapyak: Permata Tersembunyi yang Butuh Perhatian

lintaspriangan.com, BERITA PANGANDARAN. Karapyak bukan Pantai Pangandaran yang padat pengunjung. Ia lebih sunyi, pasirnya lebih terang, dan keseharian nelayan kecil masih tampak jelas. Namun keheningan itu menutupi kenyataan potensi ekonomi dan ekologis tempat ini belum dikelola secara optimal. Pengelolaan yang lemah dan akses yang terbatas membuat Pantai Karapyak tetap jadi “permata tersembunyi”, alih-alih aset ekonomi dan budaya yang memberi manfaat luas bagi warga setempat.
Data kunjungan memperlihatkan posisi relatif Karapyak dalam ekosistem pariwisata Pangandaran per 1 April 2025, tercatat 4.414 pengunjung ke Pantai Karapyak, jauh di bawah Pantai Pangandaran yang mencatat puluhan ribu pengunjung di periode yang sama. Angka-angka ini menegaskan dua hal: Karapyak punya daya tarik, tetapi kalah dalam hal akses dan promosi.
Lebaran 2025 menegaskan dominasinya Pantai Pangandaran. Selama libur tersebut Pangandaran menerima ratusan ribu kunjungan wisatawan 395.440 orang menurut satu rekap yang menunjukkan lonjakan demand besar untuk kawasan pesisir ini. Namun lonjakan itu tidak otomatis menyentuh Karapyak secara proporsional. Wajar bagi destinasi kecil yang minim fasilitas untuk tertinggal saat gelombang wisata masif menggempur titik-titik utama.
Akses, Fasilitas, dan Jalan Menuju Revitalisasi
Mengapa Karapyak kalah pamor? Penjelasan akademis dan lapangan mengarah pada isu akses dan biaya perjalanan. Studi tentang potensi wisata bahari di Pangandaran menunjukkan jarak dan biaya perjalanan berpengaruh signifikan terhadap keputusan kunjungan. Setiap tambahan jarak akan mengurangi frekuensi kunjungan secara nyata. Karapyak relatif “tersembunyi” karena infrastruktur transportasi publik yang minim bahkan nyaris tidak ada. Ini bukan masalah romantis atau tidak romantis, ini masalah ekonomi yang mengunci peluang pendapatan masyarakat lokal.
Dari perspektif keberlanjutan, Karapyak memancarkan dua wajah. Di satu sisi ada potensi ekowisata: gugusan pantai yang lebih alami cocok untuk wisatawan yang mencari pengalaman tenang dan konservasi pesisir. Di sisi lain, fasilitas dasar, toilet umum layak, area parkir terawat, cold-storage untuk produk perikanan nyaris absen. Rencana pengembangan yang pernah digagas akademisi lokal menekankan perlunya desain pengelolaan yang menggabungkan pelestarian ekologi dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Tanpa intervensi demikian, tekanan wisata di titik utama akan terus melonjak sementara Karapyak tetap tak terjamah.
Apa yang perlu dilakukan? Pertama, aksesibilitas harus ditingkatkan secara bijak: pelebaran jalan desa dan trayek angkutan publik yang menghubungkan Karapyak ke pusat Pangandaran akan menurunkan hambatan kunjungan tanpa mengorbankan karakter lokal. Kedua, fasilitas dasar dan tata kelola sampah perlu dibangun dengan pendekatan micro-infrastructure: toilet ramah lingkungan, tempat pembuangan terpilah, dan fasilitas penunjang UMKM kuliner pesisir. Ketiga, pengembangan Karapyak harus berbasis komunitas, skema local procurement, pelatihan hospitality, dan penguatan koperasi nelayan agar nilai tambah ekonomi tetap mengalir ke warga setempat.
Potensi Ekonomi Karapyak untuk PDRB Lokal
Jika ditinjau dari perspektif ekonomi daerah, Pantai Karapyak sebenarnya bisa menjadi salah satu kontributor tambahan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Pangandaran. Data BPS Jawa Barat tahun 2024 menunjukkan bahwa sektor penyediaan akomodasi dan makan minum menyumbang sekitar 12,5% terhadap PDRB Pangandaran, dengan tren yang terus meningkat setiap tahunnya. Angka ini didominasi oleh wisata Pantai Pangandaran sebagai ikon, tetapi peluang diversifikasi jelas terbuka bagi destinasi lain seperti Karapyak.

PDRB Jawa Barat sendiri pada 2024 tumbuh sebesar 5,15%, dengan sektor pariwisata pesisir dan kelautan berperan sebagai motor utama di wilayah selatan. Pangandaran menjadi salah satu kabupaten dengan kontribusi wisata bahari signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Barat bagian selatan. Jika Karapyak mendapat intervensi yang tepat, tambahan 20–30 ribu kunjungan per tahun saja bisa mendongkrak omzet UMKM kuliner, jasa transportasi lokal, dan penyedia homestay, yang pada gilirannya memperluas sumbangan ke PDRB daerah.
Kontribusi nyata itu bisa dihitung: rata-rata belanja wisatawan domestik di destinasi bahari Pangandaran diperkirakan mencapai Rp500 ribu per kunjungan (akomodasi, konsumsi, transportasi, cenderamata). Jika Karapyak mampu menarik tambahan 30 ribu pengunjung tahunan, potensi perputaran uang mencapai Rp15 miliar per tahun. Angka yang cukup signifikan untuk menopang perekonomian desa-desa pesisir.
Dengan demikian, Karapyak bukan hanya soal destinasi sunyi yang eksotis, melainkan instrumen ekonomi strategis yang selama ini tertidur. Pemerintah daerah bersama warga lokal punya kesempatan untuk menghidupkan instrumen itu, agar manfaatnya masuk ke PDRB sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. (Lintas Priangan/Arrian)



