Tajuk

Surat Terbuka untuk Bapak Aing, Gubernur Jabar Kang Dedi Mulyadi

lintaspriangan.com, TAJUK LINTAS. Belakangan ini, di sekitar minggu ketiga bulan Maret 2025, Bapak Aing getol pisan menyoroti urusan remeh-temeh tentang THR. Intinya, kata Bapak Aing, baik lembaga pemerintah, perusahaan negara maupun swasta, dilarang memberikan THR kepada preman. Yang terpojok dalam terminologi preman kali ini faktanya adalah LSM dan Ormas.

Kalau kita cermati pemberitaan di berbagai media, bisa kita rasakan, besar sekali energi Bapak Aing dalam menangani masalah ini. Sampai-sampai, Bapak Aing bakal mengeluarkan surat resmi berisi larangan tersebut. Tak sampai di situ, Bapak Aing juga bakal membentuk Satgas Anti Preman THR. Teu kagok, para personel Satuan Tugas ini bakal diisi dari anggota kepolisian, TNI dan Polisi Militer. Meni asa rek perang jeung saha ieu teh.

Semua faham, semangat Bapak Aing menindak preman THR ini dipicu oleh tindakan tidak terpuji dari oknum salah satu ormas yang tempo hari ngamuk di sebuah lembaga pemerintah karena tidak diberi THR. Tapi pertanyaannya kemudian adalah, pantaskah kejadian kecil itu memicu reaksi besar dari Bapak Aing? Memangnya berapa persen permintaan THR dari LSM Ormas yang berujung amuk-amukan sih? Sementara di sisi lain, banyak masalah yang jauh lebih besar yang jadi penyakit di negeri ini.

Preman THR ini memang harus ditangani, tapi seharusnya jangan diberantas. Bukankah ada diksi yang lebih manusiawi, lebih bijak dan tidak menyakiti. Koruptor, pantas diberantas. Tukang narkoba, pantas diberantas. Preman THR mah bukan extraordinary crime. Lebih tepatnya, mereka perlu dibina, karena mereka juga anak-anak Bapak Aing. Sebrengsek-brengseknya mereka, para preman THR itu, emang berapa sih potensi anggaran yang akan dirugikan?

“Pak, selama ini, ada banyak anak Bapak Aing nu sok atoh pisan lamun dibere THR ku dinas, ti BUMD, atau ti perusahaan swasta. Sabaraha cing Pak nominalna? Umumnya Rp. 50 ribu perak paling ge, Pak. Sabaraha urang kira-kira LSM Ormas nu sok kikituan? asa moal ngarebu di unggal daerah. Paling saratusan. Mun dikonversi, paling Rp. 5 juta/lembaga. Bakal matak bangkrut lembaga tersebut? Asa moal!”

Warga Indonesia mah balageur. Meski tiap hari disuguhi tontonan korupsi triliunan rupiah bari maranehna hese nyiar gawe, alhamdulillah teu jaradi begal ge. Cenah di ormas aya oknum, emang di lembaga mana nu teu aya oknum, Pak? Anu digajih bener plus tunjangan puluhan juta ge balatak oknum. Sakalieun preman THR mah duh, ulah dinyenyeri teuing atuh. Binaeun, lain binasakeuneun.

Yang bakal bikin bangkrut itu misalnya, laporan hasil pengawasan BPKP tahun 2023 yang dirilis tahun 2024. Laporan tersebut mengatakan, kebocoran anggaran di pemerintah daerah mencapai angka 53,59%! Berapa besar anggaran tersebut jika dirupiahkan? Sekitar Rp. 141 Triliun! “Padahal mah, bikin satgas kebocoran anggaran, Pak!”

Yang bakal bikin bangkrut mah, contoh lain, biaya perjalanan dinas yang nilainya mencapai puluhan milyar di setiap pemerintah daerah. Cenah indeks SPBE-nya naik. “Padahal mah, bikin satgas perjalanan dinas, Pak!”

Yang lumayan harus diberantas itu, curi-curi uang negara dalam belanja ATK dan mamin yang kerapkali poek dalam besaran nominal yang fantastis. “Padahal mah, bikin atuh satgas mamin dan ATK, Pak!”

Yang perlu dibentuk satgas lagi misalnya tentang dana BOS. Menurut aturan, 20% dana BOS itu boleh untuk pengembangan perpustakaan. Prioritasnya pengadaan buku pelajaran agar tercapai perbandingan 1:1 (satu siswa: satu buku). Tapi setelah lima tahun berturut-turut ratusan juta dana pengembangan perpustakaan disedot, faktana barudak siswa angger kudu meuli buku.

Yang tak kalah gila, sistem inden dan potongan yang kerap terjadi di lelang konstruksi dan pengadaan, serta realisasi program pokir dewan. “Bab ini mah kami gak akan nyaranin bikin satgas, soalnya kami juga faham, Bapak Aing ge pasti beurat. Kecuali engke Bapak Aing na jadi Presiden.”

Andai dibayang-bayang, berapa potensi kerugian yang ditimbulkan oleh masalah-masalah yang dipaparkan di atas, lalu bandingkan dengan potensi anggaran yang terganggu oleh preman THR, mungkin tepat kalau digambarkan dalam istilah “baina sama’ wa sumur”. Sudah bukan lagi seperti langit dan bumi, tapi jeung sumur!

Perkara preman THR, biarkan saja mereka ikhtiar, apalagi sekedar mengajukan permintaan ke lembaga pemerintah atau swasta. Da moal bisaeun atuh kudu nyieun proposal permohonan CSR mah. Dan pasti moal dibere. Daripada Rp. 200 milyar dikorupsi siga dana iklan BJB, mening bagikeun jadi THR ormas.

Hasil nggak hasil, namanya juga ikhtiar. Kalau ada yang amuk-amukan, tinggal ditangkap dan diberi pembinaan. Lebih keren lagi kalau mereka dilatih melalui bimtek, agar faham Undang-Undang KIP, Undang-Undang tentang standar layanan publik, tentang cara lapor ke Ombudsman, atau bagaimana membuat laporan indikasi secara online ke Mabes Polri, Kejaksaan Agung dan KPK. Ameh galakna jadi manfaat, ulah poho we buruhan.

Pak, Indonesia moal aya, lamun baheula teu aya ormas!

Redaksi Lintas Priangan

Related Articles

Back to top button