Berita Tasikmalaya
Trending

Warga Tasikmalaya Ini Bingung Harus Simpati Pada Siapa

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Di sebuah sudut Kota Tasikmalaya, tepat di depan gerobak dagangannya yang masih berbau gorengan bawang semalam, Mang Udi mendadak jadi filsuf jalanan. Pedagang kaki lima ini bukan tipe warga yang gaptek; ia melek berita, rajin mantengin linimasa, dan hapal betul ritme gaduh negeri yang tiap pekannya seperti punya episode sinetron baru. Demo di Jakarta? Ia ikuti. Gedung DPRD dibakar di Makassar? Ia tahu. Satpam nangis karena motornya dibakar massa? Ia ikut terenyuh. Pokoknya, Mang Udi ini lebih update daripada sebagian anggota dewan yang kerjanya cuma scroll TikTok tak karuan.

Awalnya, hati Mang Udi luruh pada semangat demonstrasi. “Saya harus dukung ini. Ini suara rakyat, ini jeritan perut!” begitu kira-kira gumamnya sambil menata sambal cabai di plastik. Tapi pelan-pelan, rasa simpati itu dilucuti kericuhan. Video satpam yang nangis karena motornya dibakar bikin dadanya panas. Beberapa fasilltas publik yang dirusak juga membuat dada Mang Udi sesak. Dari situ, Mang Udi mulai menoleh ke arah polisi. “Kasihan juga mereka, jadi sasaran makian, dilempari, padahal ada juga yang cuma jaga keamanan. Sepertinya, saya harus membela meraka.”

Namun, empati pada aparat rontok seketika. Ia menyaksikan video kendaraan taktis Brimob menggilas Affan, seorang ojol yang kini tinggal nama. Di beranda lain, muncul rekaman polisi ramai-ramai memukuli demonstran sampai entah hidup atau tidak. Mang Udi mendesis: “Bedanya apa aparat dengan kelompok radikal? Sama-sama main hajar!” Seketika, ia juga teringat bagaimana harus merogoh kocek jauh di atas nilai nominal seharusnya, ketika ia ingin membuat SIM. Simpati untuk aparat, semakin terbang ke awang-awang, lalu hilang.

Belum reda emosinya, ia lihat rumah Ahmad Sahroni dijarah. Hampir saja simpati Mang Udi berlabuh ke anggota legislatif, tapi ia keburu ingat Sahroni pernah nyeletuk rakyat “tolol”. Tak sampai di situ, feed-nya tiba-tiba disuguhi lagi joget konyol Eko Patrio dan Uya Kuya, seolah negeri ini sedang pesta TikTok di atas reruntuhan kepercayaan. Rasanya seperti dilempar dari drama politik ke variety show tanpa aba-aba.

Dan kalau bicara anggota legislatif, Mang Udi masih ingat betul wajah-wajah anggota DPRD yang super ramah menjelang pemilu legislatif di Kota Tasikmalaya. Tapi setelah duduk empuk di kursi dewan? Chat WhatsApp Mang Udi hanya berakhir dengan centang biru tanpa balasan. “Hidup dari keringat rakyat, tapi gaya seperti juragan dari warisan,” kata Mang Udi, getir. Tak semuanya memang, tapi tak sedikit dan sangat menyebalkan.

Kini, Mang Udi bingung. Haruskah ia mendukung massa aksi yang berubah jadi penjarah? Haruskah ia berpihak pada aparat yang kadang berubah jadi gengster dan tukang palak? Atau simpati untuk anggota legislatif? Sepertinya yang satu ini paling ogah.

Republik ini, menurut Mang Udi, mirip tenda hajatan bocor: siapa pun yang duduk di bawahnya tetap kebasahan. Bedanya, di hajatan masih ada hiburan organ tunggal; di republik ini, hiburannya cuma nonton wakil rakyat berjoget di media sosial.

Sambil menyalakan kompor minyak tanahnya, Mang Udi menutup percakapan dengan satire khas kaki lima:

“Kalau ditanya saya bela siapa, jawabannya simpel: saya bela perut saya sendiri. Soalnya, dari polisi sampai politisi, semuanya sibuk main drama. Yang lapar siapa? Aing nu lapar mah!”

Begitulah, di tengah gas air mata, joget TikTok, dan WhatsApp DPRD yang cuma centang biru, Mang Udi resmi jadi warga Kota Tasikmalaya yang bingung, harus melabuhkan simpati pada siapa ketika semuanya menyebalkan. (Lintas Priangan/AA)

Related Articles

Back to top button