Saat Sampah Disulap Jadi Busana di Pangandaranval Nature 13

lintaspriangan.com, BERITA PANGANDARAN. Sejak pagi, Senin (20/10/2025), ribuan warga sudah memadati jalur Pangandaran Sunset. Udara hangat pantai berpadu dengan semangat masyarakat yang datang untuk menyaksikan Pangandaranval Nature 13. Tahun ini, acara tersebut mengusung tema “Nature: Mengurangi Emisi Gas untuk Bumi Kita” dan menampilkan busana daur ulang yang memukau.
Karnaval dimulai pukul 08.00 WIB di halaman Hotel Arnawa. Bupati Pangandaran Citra Pitriyami dan Wakil Bupati Ino Darsono memimpin barisan bersama jajaran Forkopimda, kepala dinas, camat, dan perwakilan desa. Mereka berjalan menyapa masyarakat yang berdiri di sepanjang jalan. Suasana penuh semangat terasa sejak langkah pertama karnaval dimulai.
Kreativitas Daur Ulang Jadi Daya Tarik
Peserta dari berbagai wilayah memamerkan busana hasil kreasi sendiri. Ada gaun dari plastik bekas, topi dari kertas koran, dan hiasan daun kering yang dirangkai menjadi ornamen indah. Ide-ide segar itu memikat perhatian warga dan wisatawan. Sepanjang rute, penonton mengabadikan momen dengan kamera ponsel sambil bersorak gembira.
Selain menghadirkan hiburan, karnaval ini juga mengajak masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan. Melalui kreativitas, warga menunjukkan bahwa sampah bukan lagi beban, melainkan sumber inspirasi. Karena itu, banyak warga merasa acara ini memberikan pelajaran berharga tentang cara menjaga bumi dengan langkah sederhana.
Pesan Lingkungan dan Antusiasme Warga
Dalam sambutannya, Bupati Citra Pitriyami menekankan pentingnya menumbuhkan kesadaran lingkungan melalui kegiatan budaya. Ia mengatakan bahwa pelestarian alam dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan, seperti dalam karnaval ini. Pesan tersebut menggema di tengah ribuan penonton yang menikmati penampilan para peserta.
Sementara itu, antusiasme warga terlihat di setiap sudut. Anak-anak membawa bendera kecil, remaja menari di tepi jalan, dan pedagang lokal tersenyum karena dagangan mereka laris. Kegembiraan itu menjadikan Pangandaran terasa hidup sejak pagi hingga siang hari.
“Acara ini luar biasa meriah,” ujar Wati, warga Desa Babakan. “Saya datang bersama keluarga dan terinspirasi untuk mulai memilah sampah di rumah. Busana daur ulang yang mereka buat membuktikan bahwa kreativitas bisa menyelamatkan lingkungan.”
Hal senada disampaikan oleh Arif, warga Kalipucang. “Karnaval ini bukan hanya hiburan, tapi juga pengingat agar kita menjaga kebersihan. Melihat kostum yang dibuat dari sampah, saya jadi sadar bahwa banyak hal bisa kita ubah kalau mau berusaha,” katanya.
Karnaval Budaya dan Citra Pangandaran Hijau
Penampilan tarian kolosal di area finis Pangandaran Sunset menutup rangkaian acara dengan megah. Penonton bersorak ketika ratusan peserta melambaikan tangan sambil mengenakan busana berwarna cerah berbahan daur ulang. Energi positif itu menyebar ke seluruh area, menandai kebersamaan warga dalam semangat menjaga bumi.
Melalui Pangandaranval Nature 13, pemerintah dan masyarakat berhasil menegaskan identitas Pangandaran sebagai daerah wisata hijau dan kreatif. Acara ini tidak hanya memperingati Milangkala Kabupaten Pangandaran ke-13, tetapi juga memperkuat kesadaran lingkungan di hati setiap warga.
Dengan semangat kolaborasi dan kepedulian yang tumbuh, Pangandaranval Nature 13 membuktikan bahwa pelestarian alam dapat lahir dari budaya, kreativitas, dan rasa cinta terhadap tanah kelahiran. (AC)



