Tajuk

Selesailah Pemilu, Lalu?

lintaspriangan.com, TAJUK LINTAS. Hari Pemilu baru saja berlalu, menyisakan beragam rasa. Ada yang riang karena menang. Ada yang terdiam karena hasilnya tak sesuai harapan. Ada juga yang menggerutu, karena kualitas demokrasi baginya masih saja tak bermutu. Ada juga yang emosi lantaran pihaknya merasa dicurangi. Apapun rasanya, tentu sah-sah saja, selama disikapi dengan cara yang tidak bertentangan dengan norma dan regulasi.

Terlepas dari siapa menang siapa kalah, ada satu hal yang pasti, yaitu kedekatan pemilih dengan yang dipilih. Jarak di antara keduanya perlahan kembali melebar. Sebelumnya, satu sama lain memang tidak terlalu dekat. Lalu momentum pemilu menarik mereka untuk bersisian. Berjalan beriringan. Setiap hari, mereka berjumpa dan bertegur sapa. Tapi seusai pemilu, mereka kembali berjarak, bahkan sebagian diantaranya bersekat.

Di kubu yang kalah, jarak dan sekat di antara mereka cepat sekali mengemuka. Bahkan ketika proses perhitungan suara masih berjalan, bicara satu sama lain saja sudah enggan. Grup whatsapp mereka seketika sepi, lalu satu-persatu mulai ijin undur diri. Entah bagaimana ke depan, apakah akan saling menjaga silaturahmi, atau tanpa perlu bersepakat, relasi di antara mereka cukup sampai di sini.

Di kubu yang merasa dicurangi, mungkin komunikasi antara pemilih dan yang dipilih masih cukup masif. Hanya saja, rasanya sedikit berubah. Tidak sedekat dan sehangat sebelumnya. Dalam situasi seperti ini kebersamaan benar-benar diuji. Tak seperti pendukung abal-abal, para pendukung loyal pasti tetap setia mengawal. Biasanya mereka memobilisasi aksi dan menyusun seabrek laporan demi memperjuangkan Sang Jagoan.

Lalu bagaimana di kubu yang menang? Tentu saja mereka senang dan riang. Sebagian pendukungnya bahkan berjingkrak dan berteriak, karena yang mereka dukung mengantongi suara terbanyak. Tapi sama saja, di antara mereka pun mulai berjarak. Hampir mustahil wajah paslon pemenang masih fokus pada pemilihnya. Perhatian mereka sudah mulai beralih, setidaknya ke dua arah. Arah yang pertama, adalah pengamanan, dari upaya-upaya yang tengah dilakukan kubu lawan yang mereka anggap tidak mau menerima kenyataan. Lalu arah kedua, ke arah yang diimpikan. Membayangkan kursi empuk yang tak lama lagi akan menjadi singgasana. Kursi empuk yang bukan sekedar nyaman, tapi juga sering membuat menusia mabuk!

Massa pendukung paslon pemenang bersorak-sorai. Mereka berduyun-duyun mendampingi jagoannya yang tengah berjalan mendekati sebuah tangga. Ini tangga yang mereka impikan. Tangga yang selama ini mereka perjuangkan bersama. Karena di puncak tangga inilah kursi kekuasaan berada. Saat jagoan mereka mulai menaiki tangga itu, kegembiraan para pendukungnya semakin riuh. Satu demi satu anak tangga itu ditapaki oleh paslon pemenang, tanpa harus menoleh ke belakang!

Mau menerima kalah, mau menggugat, atau bahkan menang, tetap membuahkan fenomena yang sama: rentangan jarak antara yang dipilih dengan pemilih. Tak ada jaminan bagi para pendukung yang menang, esok hari mereka bisa menaiki tangga yang sama, menuju tempat dimana jagoannya bertahta. Mungkin ada beberapa, tapi pasti tak bisa semuanya, paling hanya segelintir kolega.

Para paslon yang sebelum pemilu begitu rajin bersilaturahmi, kini mulai menjauhkan diri. Mereka yang sebelumnya begitu mudah diajak berbincang, perlahan mulai menghilang. Jejak-jejak kaki mereka yang kemarin blusukan di gang sempit dan tepian parit, perlahan tapi pasti, mulai dihapus oleh hujan di akhir November.

Selesailah pemilu, lalu di antara mereka kembali berjarak seperti dulu.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button