Kesbangpol Kota Tasikmalaya: “Dharma Wanita, Pelestari Ideologi Pancasila”

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Tasikmalaya kembali menggelar kegiatan Implementasi Ideologi Kebangsaan dengan melibatkan unsur Dharma Wanita Persatuan. Acara yang digelar Senin (01/12/2025) di Aula BPKAD Balekota Tasikmalaya itu berlangsung hangat, menghadirkan dialog yang menyentuh akar penting kehidupan berbangsa: keluarga, perempuan, dan ketahanan ideologi.
Dalam sambutannya mewakili Kepala Bakesbangpol Kota Tasikmalaya, Kepala Bidang Ideologi dan Wawasan Kebangsaan, Ajat Sudrajat, S.Sos.I, M.H., yang menegaskan bahwa perempuan memiliki posisi strategis dalam membangun karakter bangsa. Ajat menyampaikan bahwa di balik kuatnya sebuah negara, selalu ada peran perempuan yang tidak bisa dipisahkan dari proses lahirnya generasi penerus.
“Dharma Wanita bukan hanya pelengkap dalam struktur sebuah organisasi. Mereka adalah salah satu kekuatan bangsa, karena di tangan perempuanlah generasi dibentuk, disiapkan, dan diarahkan. Terlebih sekarang, ketika kita bersiap menuju Indonesia Emas, fondasi awalnya ditanam di rumah,” ujarnya.
Ajat menambahkan, ajakan untuk melibatkan Dharma Wanita bukan sekadar formalitas, tetapi bagian dari upaya memperkuat nilai ideologi mulai dari lingkup terkecil. “Ideologi itu tidak diajarkan hanya lewat majalah dinding atau seminar. Ia tumbuh lewat teladan, lewat percakapan di meja makan, dan lewat cara orang tua membesarkan anak-anaknya. Karena itu, kami mengundang Dharma Wanita untuk ikut menjaga bara nilai kebangsaan ini,” katanya.
Perempuan sebagai Penentu Nilai Bangsa
Materi kegiatan diisi oleh pemateri dari Forum Diskusi Wawasan Kebangsaan Albadar Foundation, A. Hudaya, S.Sos., M.M. Dalam paparannya, ia menyoroti perjalanan panjang pandangan dunia tentang peran perempuan. Menurutnya, hampir semua pemikir besar menyentuh soal ini.
“Sejak lama banyak pandangan yang menegaskan betapa strategisnya peran perempuan dalam menentukan arah sebuah bangsa. Bung Karno pernah menyampaikan hal itu dengan tegas. Para filsuf dunia juga menaruh perhatian besar pada peran perempuan. Pepatah Arab pun punya pesan keras: wa idza fasadat, fasadal bilad — kalau perempuannya rusak, rusak pula bangsanya,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, peran besar itu bukan hanya berdasarkan pandangan tokoh, tetapi juga diteguhkan oleh ilmu pengetahuan. Berbagai kajian psikologi perkembangan, analisis sosiologi, bahkan riset biologis menunjukkan bahwa perempuan adalah penjaga paling efektif bagi nilai-nilai kehidupan.
“Kalau bicara budaya, tradisi, moral, bahkan nilai agama, penyambung utamanya adalah perempuan. Mereka tidak hanya mengajarkan, tetapi menghidupkan nilai itu dalam keseharian,” jelasnya.
Hudaya kemudian mengaitkan peran tersebut dengan pelestarian Pancasila. Menurutnya, mempertahankan ideologi bukan sekadar agenda besar negara, tetapi kerja kecil yang terus dirawat dalam keluarga.
“Mengapa Pancasila harus dilestarikan? Karena sistem nilai inilah yang membuat Indonesia bisa berdiri sebagai bangsa kuat. Sejarah membuktikan, wilayah nusantara ini tidak bisa ditaklukkan seperti Suku Indian di Benua Amerika atau Suku Aborigin di Australia. Ada sesuatu yang menjaga daya tahan bangsa ini, dan itulah sistem nilai Pancasila,” tegasnya.
Mengawal Ideologi dari Lingkungan Terkecil
Kegiatan Implementasi Ideologi Kebangsaan ini ditutup dengan ajakan agar peserta membawa pulang nilai-nilai yang dibahas untuk dipraktikkan di rumah. Melalui penguatan wawasan kebangsaan bagi anggota Dharma Wanita, Kesbangpol Kota Tasikmalaya berharap tercipta kesadaran kolektif bahwa ideologi negara tidak cukup dijaga oleh aparatur pemerintahan saja. Perempuan yang hadir dalam lingkup paling intim kehidupan keluarga justru menjadi penjaga pertama sekaligus terkuat.
Dalam suasana penuh kekeluargaan, kegiatan ditutup tepat pukul 12.00 WIB. Para peserta berharap dialog seperti ini bisa dilanjutkan secara berkala, agar ruang diskusi kebangsaan tetap hidup di Kota Tasikmalaya. Sebab dari ruang-ruang sederhana seperti inilah, nilai-nilai besar dirawat dan diwariskan. (AS)



