Berita Ciamis

Menjaga Persaudaraan Kebangsaan di Tatar Ciamis

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Di penghujung Desember, ketika kalender hampir habis dan hujan turun lebih sering dari biasanya, rombongan kecil bergerak menyusuri jalan-jalan Kabupaten Ciamis, Rabu (24/12/2025). Bukan untuk patroli, bukan pula untuk inspeksi. Mereka datang membawa satu pesan sederhana tapi mahal nilainya: persaudaraan.

Rombongan itu terdiri dari Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Ciamis, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Ciamis, dan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ciamis. Bersama unsur Forkopimda dan Duta Harmoni, mereka menjalankan agenda rutin yang sarat makna: Kunjungan Kerja dan Persaudaraan menjelang Perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.

Perjalanan dimulai dari Gereja Katolik St. Yohanes Pembaptis. Di tempat ini, rombongan disambut hangat—bukan sekadar sebagai tamu, tapi sebagai saudara. Hadir pula Asisten Pemerintahan dan Kesra yang mewakili Bupati Ciamis, Kapolres Ciamis beserta jajaran, Pasi Intel Kodim 0613 Ciamis, serta pimpinan Bakesbangpol dan Kemenag Ciamis. Tak ada jarak, tak ada sekat. Yang ada hanya obrolan ringan yang pelan-pelan berubah jadi dialog kebangsaan.

Dari sana, rombongan melanjutkan langkah ke Gereja Kristen Indonesia (GKI) Ciamis, lalu bergerak ke Desa Kertajaya, Kecamatan Panawangan. Di Gereja Katolik St. Simon dan Rumah Doa Gereja Bethel Indonesia, sambutan kembali terasa akrab. Aparat desa, kepolisian, dan TNI berdiri berdampingan dengan pengurus gereja, sebuah pemandangan yang barangkali tak selalu viral, tapi justru itulah wajah Indonesia yang sesungguhnya.

Perjalanan berlanjut ke Dusun Cinyenang, Desa Sidamulih, Kecamatan Cisaga. Di Gereja Pasundan, suasana serupa kembali terulang. Kepala desa, unsur kecamatan, Polsek dan Koramil hadir menyambut. Tak ada seremoni berlebihan. Yang ada adalah percakapan jujur tentang kehidupan beragama, tantangan sosial, dan harapan agar ruang ibadah tetap menjadi ruang yang aman dan menenangkan.

Kunjungan berikutnya menyasar Gereja Kristen Kerasulan Indonesia (GKKI) di Desa Sidaharja serta GPdI di Desa Sidarahayu, Kecamatan Lakbok. Di sini, suka cita terasa tulus. Senyum tak dibuat-buat. Bahkan sebelum dialog dimulai, kudapan sederhana sudah tersaji, simbol kecil bahwa persaudaraan sering kali dimulai dari hal paling manusiawi: duduk bersama dan saling mendengar.

Rumah Doa Gereja Bethel Indonesia dan GPdI Banjarsari menjadi titik akhir perjalanan. Namun justru di sinilah makna perjalanan itu terasa utuh. Setiap gereja menerima rombongan dengan hangat, setiap percakapan mengalir tanpa naskah, tanpa kepentingan tersembunyi. Negara hadir, bukan untuk mengatur keyakinan, melainkan memastikan setiap warga merasa aman dalam menjalankannya.

Kegiatan ini bukan agenda dadakan. Ia adalah tradisi tahunan yang konsisten dijalankan FKUB, Bakesbangpol, dan Kemenag Ciamis menjelang hari besar keagamaan, Natal, Imlek, hingga Idul Fitri. Tujuannya jelas, untuk melihat langsung kesiapan rumah ibadah, memberi dorongan moral, dan menegaskan bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan fondasi kebangsaan.

Di tengah dunia yang mudah gaduh oleh perbedaan, kunjungan dari gereja ke gereja ini mungkin terlihat sederhana. Tapi justru dari kesederhanaan itulah Indonesia dirawat. Pelan-pelan, tanpa pidato panjang. Cukup dengan hadir, menyapa, dan memastikan, bahwa di Tatar Ciamis, iman boleh berbeda, tapi persaudaraan tetap dirawat.

Dan semoga, kisah-kisah kecil seperti ini kelak diwariskan ke generasi berikutnya, sebagai pengingat bahwa kerukunan tidak lahir dari slogan, melainkan dari langkah nyata yang terus dijaga.

Related Articles

Back to top button