Berita Tasikmalaya

Prestasi Kota Tasikmalaya Bersinar di Ajang Pasanggiri Mojang Jajaka 2025

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Cahaya panggung di Bandung malam itu tak sekadar menerangi wajah-wajah penuh harap. Di antara sorot lampu dan tepuk tangan, Kota Tasikmalaya kembali menyuarakan eksistensinya lewat panggung Pasanggiri Mojang Jajaka 2025. Ajang ini bukan sekadar kontes, tapi medan kehormatan bagi anak muda memperjuangkan budaya.

Tasikmalaya dan Gemuruh Nama yang Kembali Menggema

Malam Minggu, 20 Juli 2025. Bandung diselimuti semarak budaya dan denting harapan. Di panggung megah Grand Final Pasanggiri Mojang Jajaka Jawa Barat 2025, Shaza Aulia Putri melangkah mantap. Busana adat membalut tubuhnya, senyum percaya diri terpatri di wajahnya. Ia bukan hanya tampil sebagai peserta, tapi sebagai wajah dari semangat muda Kota Tasikmalaya.

Duduk di barisan tamu undangan, Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Chandra dan istrinya, Rani Permayani, menyaksikan penuh haru. Bagi mereka, malam itu lebih dari sekadar seremoni. Itu adalah bukti hidup bahwa Kota Tasikmalaya masih menjadi kawah candradimuka bagi generasi berprestasi.

Beberapa saat kemudian, panggilan nama Shaza menggema di auditorium. Juara Harapan I Mojang Jawa Barat 2025. Tepuk tangan meledak. Wajah-wajah haru menghias ruang. Bagi warga Kota Tasikmalaya, ini bukan hanya kemenangan personal. Ini adalah kemenangan kolektif—kemenangan daerah.

“Alhamdulillah, penantian panjang terbayar,” ujar Rani Permayani keesokan harinya, Senin, 21 Juli 2025. Senyumnya tak bisa disembunyikan. “Shaza membanggakan kami semua. Ini bukti nyata bahwa Pasanggiri Mojang Jajaka masih menjadi ruang tumbuh anak-anak hebat.”

Ajang Pasanggiri Mojang Jajaka telah menjadi panggung bergengsi yang tidak hanya mencari sosok rupawan dan cerdas, tetapi juga mereka yang mampu menjadi duta budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif. Dan Tasikmalaya, dengan sejarah panjang dan kebudayaan kaya, tak pernah absen dari panggung ini.

Menurut Diky Chandra, kehadiran ia dan istrinya malam itu bukan sekadar formalitas. Ia hadir sebagai bentuk komitmen pemerintah untuk terus berdiri di belakang para pemuda dan pemudi berprestasi.

“Pasanggiri Mojang Jajaka adalah ruang penting untuk menunjukkan siapa kita. Budaya, identitas, dan daya saing kreatif anak-anak muda kita diuji di sini. Maka, sudah seharusnya pemerintah hadir, mendorong, dan memfasilitasi,” ungkapnya.

Diky menambahkan, kemenangan Shaza adalah bukti bahwa dengan dukungan yang tepat, potensi muda di daerah mampu bersaing secara nasional. Ia menyatakan, Pemkot Tasikmalaya akan terus memperluas dukungan terhadap program kepemudaan, khususnya yang menyentuh seni, budaya, dan pariwisata.

Shaza sendiri bukan sosok baru di kalangan generasi muda kreatif. Ia aktif dalam berbagai kegiatan budaya lokal, tampil dalam pentas seni, hingga terlibat dalam promosi UMKM berbasis budaya.

Kini, gelar Juara Harapan I yang ia sandang menjadi cambuk penyemangat bagi pemuda Tasik lainnya. Sebuah pesan yang sederhana, namun kuat: “Dari daerah pun kita bisa menembus panggung besar.”

Dengan semangat itu, Pasanggiri Mojang Jajaka 2025 kembali menjadi pengingat bahwa budaya bukan warisan mati. Ia hidup, tumbuh, dan mekar di tangan generasi muda yang didampingi pemerintah yang peduli. (Lintas Priangan/AB)

Related Articles

Back to top button