Nasib Negeri Asap: Jutaan Rakyatnya Kecanduan Tembakau Impor

lintaspriangan.com, TAJUK LINTAS. Indonesia adalah negeri dengan asap paling dermawan di dunia. Setiap hari jutaan batang rokok dibakar oleh rakyatnya. Dari warung kopi hingga pos ronda, dari sawah sampai ruang rapat. Tapi di balik kabut putih itu, terselip ironi pekat: 60 persen tembakau untuk rokok di negeri ini ternyata bukan dari ladang sendiri, melainkan hasil impor.
Ya, enam dari sepuluh batang rokok yang kita hisap, ternyata daunnya datang dari luar negeri. Dari Brasil, Tiongkok, Turki, Zimbabwe, hingga Zambia. Kapal-kapal pengangkut tembakau berlabuh di pelabuhan kita seperti pengingat bahwa bahkan untuk merokok pun, rakyat negeri ini harus bergantung ke negara lain.
Petani Lokal: Menanam Harapan, Memanen Keputusasaan
Cobalah datang ke Temanggung atau Lombok. Di sana, petani tembakau masih menjemur daun dengan tekun di bawah matahari. Setiap helai daun mereka jaga, seolah menjaga masa depan anaknya. Tapi ketika musim jual tiba, mereka hanya bisa tersenyum pahit. Harga anjlok, pembeli sepi, gudang menolak dengan alasan “kualitas tidak sesuai standar industri”.
Standar siapa? Tentu saja standar perusahaan-perusahaan rokok besar yang kini tak lagi dimiliki anak negeri.
Raksasa yang Menyedot Untung
Ada dua nama besar yang mungkin tak asing di telinga: Philip Morris International dan British American Tobacco. Dua raksasa asing ini menguasai lebih dari 90% saham di dua perusahaan rokok terbesar di Indonesia: HM Sampoerna Tbk dan Bentoel Internasional Investama Tbk.
Artinya, setiap kali kita membeli sebungkus rokok Sampoerna atau Bentoel, sebagian besar uangnya tak berputar di Temanggung atau Bojonegoro, melainkan berlayar jauh ke New York dan London. Kita menyalakan api, mereka menghitung laba.
Industri rokok disebut-sebut sebagai penyumbang cukai terbesar negara. Tapi, seperti pepatah lama: tidak semua yang besar itu adil. Cukai yang kita banggakan itu hanyalah sejumput dari laba raksasa yang sebenarnya terbang keluar negeri.
Ironi: Rokok Lokal, Daunnya Global
Menurut data Kementerian Pertanian, impor tembakau terus meningkat dari tahun ke tahun. Tahun 2015 sekitar 480 ribu ton, dan pada 2023 mencapai 660 ribu ton. Sebuah lonjakan yang menegaskan bahwa industri rokok nasional justru makin meninggalkan petani lokal.
Alasannya klasik, tembakau lokal dianggap tidak memenuhi standar. Padahal, di balik alasan teknis itu tersimpan kenyataan pahit: impor lebih mudah, lebih murah, dan tentu lebih menguntungkan bagi pabrikan.
Dengan kata lain, rokok yang kita hisap setiap hari bisa disebut “produk internasional bercita rasa nasionalis.” Bungkusnya merah putih, tapi isinya campuran dari sana-sini.
Asap Cukai dan Bayang-Bayang Kemiskinan
Pemerintah sering bangga dengan penerimaan cukai rokok yang mencapai ratusan triliun rupiah per tahun. Tapi angka itu seolah menutupi kenyataan lain, bahwa sebagian besar petani tembakau tetap hidup di garis kemiskinan, dan sebagian besar perokok berasal dari lapisan masyarakat paling bawah.
Cukai memang masuk ke kas negara, tapi asapnya masuk ke paru-paru rakyat. Uang yang besar justru beredar di luar negeri, sementara dampaknya berupa penyakit, kemiskinan, dan ketergantungan, tinggal kerasan di negeri ini.
Bayangkan, kita punya industri yang bahan bakunya impor, pemiliknya asing, konsumennya rakyat kecil yang sulit terlepas dari jerat kecanduan. Sebuah lingkaran asap yang sempurna.
Kedaulatan yang Terbakar Pelan-pelan
Pertanyaannya kini sederhana, lalu untuk siapa industri rokok ini berdiri? Untuk petani lokal yang terus berjuang di ladang? Untuk buruh pabrik yang menggulung rokok setiap hari? Atau untuk konglomerat asing yang menikmati dividen dari balik meja kaca di luar negeri?
Kita mungkin negara penghasil tembakau, tapi faktanya bukan pemilik industri tembakau. Kita negara penghasil perokok, tapi bukan penerima utama labanya. Kita bahkan menjadi contoh klasik dari kapitalisme yang mengepul manis dari mulut rakyat, namun keuntungannya menetes ke luar negeri.
Api yang Tak Pernah Padam
Setiap kali seseorang menyalakan rokok di negeri ini, ada kisah panjang di balik bara kecil itu: petani yang berjuang, impor yang meningkat, keuntungan yang terbang, dan negara yang masih mengandalkan asap untuk menambal anggaran.
Rokok telah menjadi simbol dari paradoks ekonomi Indoneia. Kita membakar uang sendiri untuk menghangatkan dompet bangsa lain.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti berbangga dengan istilah “industri rokok nasional”. Sebab sejatinya, ini bukan lagi tentang rokok, tapi tentang siapa yang menguasai apinya.
By the way, ketika ada aparat yang getol memberantas industri rokok rumahan di daerah-daerah, sebenarnya siapa yang diuntungkan dengan itu? (GPS)



