Mahasiswa Unsil Ungkap Dampak Serius Medsos pada Pelajar Tasikmalaya

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Media sosial tak lagi sekadar hiburan bagi pelajar. Ia menjelma menjadi distraktor utama yang pelan-pelan menggerus disiplin belajar. Fakta ini diungkap oleh Mahasiswa Unsil melalui riset lapangan di SMK Nurul Arif Salam, Kota Tasikmalaya.
Dalam temuan lapangannya, Mahasiswa Unsil mencatat sebagian besar siswa menghabiskan waktu lebih dari tiga jam per hari untuk mengakses TikTok, Instagram, WhatsApp, hingga Facebook. Waktu belajar menjadi korban pertama. Konsentrasi terpecah, tugas sekolah tertunda, dan pola belajar berubah drastis.
Yang mengkhawatirkan, para siswa menyadari dampak tersebut, namun tetap kesulitan melepaskan diri dari notifikasi dan arus konten yang terus mengalir.
Bukan Sekadar Lupa Belajar, Ada Gejala yang Lebih Dalam
Riset Mahasiswa Unsil menemukan bahwa masalahnya bukan sekadar malas belajar. Ada pola psikososial yang mulai terbentuk: kegelisahan saat jauhnya ponsel, gangguan tidur akibat bermain media sosial hingga larut malam, serta berkurangnya interaksi tatap muka antarsiswa LTI_Kelompok 1_Media Sosial dan….
Beberapa siswa mengaku tidak bisa fokus belajar tanpa terlebih dulu membuka media sosial. Ini bukan lagi gangguan kecil. Ini gejala.
Penelitian terdahulu yang dikaji oleh Mahasiswa Unsil juga menunjukkan korelasi langsung antara penggunaan media sosial yang berlebihan dengan penurunan prestasi akademik dan rendahnya daya disiplin belajar.
Mahasiswa Unsil Turun Tangan, Sekolah Tak Bisa Lagi Diam
Melihat pola tersebut, Mahasiswa Unsil dari Program Studi Pendidikan Sejarah turun langsung ke sekolah melalui seminar literasi digital. Mereka tak sekadar memberi ceramah normatif, tetapi memaparkan realitas yang dihadapi siswa setiap hari: bagaimana notifikasi menjadi “perangkap kecil” yang menggerus fokus belajar.
Respons siswa menunjukkan problem itu nyata. Mereka aktif bertanya, bukan karena penasaran belaka, tetapi karena merasa terjebak dalam kebiasaan yang sulit dikendalikan.
Kelas X Paling Rentan, Kelas XII Mulai Sadar
Hasil wawancara Mahasiswa Unsil menunjukkan pola yang kontras antar jenjang:
- Kelas X: penggunaan tinggi, kontrol rendah, sering menunda tugas dan kehilangan fokus LTI_Kelompok 1_Media Sosial dan….
- Kelas XI: mulai sadar fungsi edukatif media sosial, tapi masih terpapar konten hiburan berlebihan.
- Kelas XII: relatif lebih disiplin, mulai menggunakan media sosial untuk kepentingan akademik dan komunikasi belajar.
Perbedaan ini memperlihatkan satu hal: kedewasaan digital tidak datang otomatis. Ia harus dilatih.
Ancaman yang Lebih Sunyi: Dari Penipuan hingga Paparan Konten Negatif
Temuan Mahasiswa Unsil juga mengungkap risiko lanjutan yang kerap luput dibahas: paparan konten negatif, potensi penipuan digital, hingga akses terhadap konten yang tidak sesuai usia pelajar.
Masalah ini jarang muncul di permukaan, tapi diam-diam membentuk cara berpikir, perilaku, bahkan nilai moral remaja.
Tasikmalaya dalam Cermin Digital
Temuan Mahasiswa Unsil memperlihatkan gambaran yang lebih luas: persoalan ini bukan milik satu sekolah. Ini potret generasi muda Tasikmalaya hari ini — tumbuh dalam arus digital cepat, tanpa pagar literasi yang memadai.
Para Mahasiswa Unsil menegaskan bahwa solusi tidak cukup berhenti di seminar. Diperlukan keterlibatan aktif sekolah, orang tua, dan pemerintah daerah untuk menjadikan literasi digital sebagai kebutuhan, bukan kegiatan seremonial belaka.
Jika tidak, media sosial akan terus menjadi ruang lepas tanpa rem — dan pelajar menjadi korban yang tak sadar sedang kehilangan kendali. (AS)



