Saat di Mobil, Kenapa Kepala Daerah Duduknya di Tengah?

lintaspriangan.com, INSPIRATIF. Pernahkah kita perhatikan, kenapa kepala daerah saat naik mobil selalu duduk di tengah? Tidak di kiri, tidak di kanan, tapi tepat di tengah, seolah ada makna yang tak tertulis di balik posisi itu. Sekilas tampak sederhana, tapi sebenarnya filosofis sekali. Karena di dunia kepemimpinan, posisi tengah bukan sekadar posisi duduk, tapi posisi pusat kendali.
Boleh jadi sebenarnya ketika dalam kendaraan, posisi tengah itu bukan tempat paling nyaman. Ia tidak menyetir mobilnya, tapi arah mobil tergantung padanya. Ia tidak menekan pedal gas, tapi ia yang menentukan apakah akan melaju atau berhenti. Di depan memang ada sopir dan ajudan, mereka tahu jalan, tahu waktu berhenti dan berangkat. Tapi arah besar perjalanan? Itu ditentukan oleh yang duduk di tengah. Di sanalah makna kepemimpinan diuji: siapa sebenarnya yang memegang kendali?
Duduk di tengah tapi berarti pikirannya jangan mudah ditarik ke kanan dan kiri, oleh siapapun itu. Mungkin pembisik, mungkin penasehat pribadi, mungkin “teman seperjuangan” yang mendadak jadi “penentu keputusan”. Kalau tidak begitu, kepala daerah tidak lagi menjadi pengendali, tapi justru dikendalikan.
Kursi tengah hanya akan jadi simbol kosong, yang duduknya ada, tapi kendalinya dari mana-mana.
Posisi tengah itu seharusnya hening. Sunyi dari kepentingan, sepi dari bisikan, apalagi yang beracun. Dari kursi itu, seharusnya seorang kepala daerah bisa berpikir: ke mana kota ini harus dibawa, siapa yang paling membutuhkan perhatian, dan apa yang mesti diperbaiki. Jika tak tegas saat duduk di kursi tengah, kesunyian itu kalah oleh bisik-bisik manis yang mematikan logika.
Dan kalau sudah begitu, mobil pemerintahan bisa saja tetap berjalan, tapi arahnya melenceng jauh dari tujuan.
Kursi tengah juga mengajarkan jarak. Ia tidak boleh terlalu dekat dengan kursi depan, supaya tak ikut terseret arah setir. Ia juga tidak boleh condong ke kiri atau kanan, supaya tidak kehilangan keseimbangan. Dalam makna simbolik, kepala daerah memang harus menjaga jarak, bukan berarti sombong, tapi agar tetap netral dan jernih dalam berpikir.
Karena terlalu dekat dengan satu pihak, bisa membuat telinga tiba-tiba tuli pada sumber suara lain.
Duduk di tengah itu berarti siap sendirian.
Di kursi tengah itu, pemimpin seharusnya sadar bahwa dalam setiap keputusan besar, ia pada akhirnya sendirian. Tidak bisa menuding sopir, tidak bisa menyalahkan ajudan, apalagi sekadar pembisik. Karena rakyat tidak menilai siapapun kecuali dirinya.
Kursi tengah juga simbol keteguhan. Di situ, seorang pemimpin harus berani berkata “tidak” ketika semua di sekelilingnya berbisik “iya”. Harus berani menahan gas ketika semua mendorong untuk ngebut. Harus mampu melihat jalan jauh ke depan, bukan hanya pemandangan yang tampak dari kaca spion.
Tapi tentu, tidak semua pemimpin punya kemampuan duduk di tengah dengan tenang. Ada yang gelisah karena tak tahan sendirian. Ada yang lebih suka ditemani, agar bisa bersandar pada siapa pun di kiri atau kanan. Ada pula yang diam-diam membuka jendela dan menyimak bisikan dari luar, dari mereka yang tahu cara berbicara lembut tapi menggiring keras.
Mereka lupa, pemimpin sejati tidak butuh pembisik. Ia butuh keheningan untuk mendengar dirinya sendiri.
Kursi tengah bukan lambang kemewahan, melainkan ruang perenungan. Di sanalah seharusnya seorang kepala daerah belajar membedakan mana suara rakyat dan mana suara kepentingan. Mana arah pembangunan, dan mana yang sibuk keuntungan.
Dan kelak, ketika rakyat menilai kepemimpinannya, mereka tidak akan bertanya: seberapa empuk kursi dinasnya, seberapa mewah mobilnya, atau seberapa ramai rombongannya. Mereka hanya ingin tahu satu hal sederhana: apakah yang duduk di tengah benar-benar memegang kendali, atau diam-diam hanya jadi penumpang di mobil kekuasaannya sendiri.
Sebab, menjadi kepala daerah bukan soal siapa yang turun dari kursi tengah. Tapi siapa yang benar-benar berani tegak di tengah, di antara kepentingan, tekanan, dan godaan. Karena dari kursi itulah, arah kota, nasib rakyat, dan wajah masa depan ditentukan. (GPS)



