Jangan Khawatir saat Tertunda Karier

Pembaca Lintas Priangan yang kami hormati,
Ada kalanya seseorang bekerja dengan sungguh-sungguh, belajar tanpa henti, dan menjaga integritas, tetapi kariernya terasa berjalan di tempat. Bukan karena tidak mampu, bukan karena kurang prestasi, melainkan karena keputusan-keputusan penting sering kali dipengaruhi oleh hal-hal di luar kerja keras dan kompetensi.
Rasa kecewa dalam kondisi seperti itu adalah manusiawi. Ia bukan tanda lemahnya iman, dan bukan pula bukti kurang bersyukur. Justru sering kali, kekecewaan lahir dari idealisme—dari keinginan untuk dinilai secara adil dan bekerja dengan benar.
Dalam situasi seperti ini, Islam tidak meminta kita menutup mata dari kenyataan. Tetapi Islam mengajak kita melihat kenyataan dengan sudut pandang yang lebih luas. Allah mengingatkan:
وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu.”
(QS. Al-Baqarah: 216)
Ayat ini bukan sekadar ajakan untuk bersabar, tetapi pengingat bahwa penilaian kita sering kali terbatas pada apa yang tampak hari ini. Sementara Allah melihat dampak jangka panjang yang belum kita pahami.
Kita hidup di dalam sistem yang dikelola manusia. Dan manusia, sebaik apa pun niatnya, tetap memiliki keterbatasan dan bias. Karena itu, tidak semua nilai dan prestasi selalu tercermin secara jujur dalam keputusan struktural. Namun Allah menegaskan bahwa kerja baik tidak pernah sia-sia.
إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ ٱلْمُحْسِنِينَ
“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. At-Taubah: 120)
Artinya, meskipun tidak semua kerja kita dihargai oleh sistem, tidak satu pun yang luput dari catatan Allah.
Dalam banyak keadaan, Allah bahkan sengaja menahan dunia dari hamba-Nya yang beriman. Bukan karena murka, tetapi karena perlindungan. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَيَحْمِي عَبْدَهُ الْمُؤْمِنَ مِنَ الدُّنْيَا
“Sesungguhnya Allah benar-benar melindungi hamba-Nya yang beriman dari (kenikmatan) dunia.”
(HR. Ahmad, shahih)
Jabatan, kewenangan, dan pengaruh adalah bagian dari dunia. Bagi sebagian orang, ia menjadi jalan maslahat. Namun bagi sebagian yang lain, ia bisa menjadi ujian yang terlalu berat jika datang terlalu cepat. Maka penundaan kadang bukan hukuman, melainkan bentuk penjagaan yang halus.
Kita dapat belajar dari kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam. Sejak muda, beliau memiliki kecerdasan, akhlak, dan kemampuan. Namun jalannya penuh penantian. Difitnah, dipenjara, dan dilupakan. Bertahun-tahun berada di posisi yang jauh dari kapasitasnya.
Al-Qur’an mengabadikan akhir dari perjalanan itu dengan satu kalimat yang menenangkan:
إِنَّهُۥ مَن يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ ٱلْمُحْسِنِينَ
“Sesungguhnya siapa yang bertakwa dan bersabar, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. Yusuf: 90)
Nabi Yusuf tidak diangkat ketika beliau sekadar layak menurut manusia, tetapi ketika beliau siap menurut Allah. Penundaan itu bukan kegagalan, melainkan proses pematangan karakter.
Karena itu, tidak semua yang naik cepat berarti lebih selamat. Al-Qur’an bahkan mengingatkan bahwa kelapangan yang berlebihan bisa menjerumuskan:
وَلَوْ بَسَطَ ٱللَّهُ ٱلرِّزْقَ لِعِبَادِهِۦ لَبَغَوْا۟ فِى ٱلْأَرْضِ
“Jika Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan melampaui batas di bumi.”
(QS. Asy-Syura: 27)
Rezeki tidak hanya berupa harta, tetapi juga jabatan, kekuasaan, dan pengaruh. Maka tidak semua orang aman jika diberi semuanya sekaligus.
Di titik ini, kita perlu kembali meluruskan niat bekerja. Rasulullah ﷺ mengingatkan:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Kita tetap bekerja dengan sungguh-sungguh bukan karena sistem selalu adil, tetapi karena amanah tetap harus ditunaikan. Karena ada masyarakat yang bergantung pada pelayanan kita. Dan karena Allah Maha Melihat, meskipun manusia sering luput menilai.
Jika hari ini karier terasa tertunda, jangan tergesa menyimpulkan bahwa usaha kita sia-sia. Bisa jadi bukan jabatan yang ditahan, tetapi diri kita yang sedang dijaga. Bukan kesempatan yang dihilangkan, melainkan karakter yang sedang diselamatkan.
Negara mungkin belum memberi posisi. Sistem mungkin belum memberi pengakuan. Namun Allah tidak pernah lupa satu jam kerja yang jujur, satu keputusan yang bersih, dan satu kesabaran yang kita tahan dalam diam.
Semoga kita diberi kekuatan untuk tetap bekerja dengan hati yang besar, pikiran yang jernih, dan niat yang lurus. Tetap melayani, tetap berintegritas, dan tetap percaya bahwa kebaikan tidak pernah benar-benar tertunda.
Wallāhu a‘lam.



