Nasional

Sekolah Libur, Bagaimana dengan MBG? Begini Ternyata…

lintaspriangan.com, BERITA NASIONAL. Libur panjang Natal dan Tahun Baru biasanya identik dengan koper yang diseret, kue kering di meja, dan jam bangun yang lebih siang. Tapi di balik itu, ada satu pertanyaan sederhana yang muncul di banyak rumah: bagaimana dengan makan bergizi gratis untuk anak sekolah? Apakah ikut libur juga, atau tetap jalan?

Pertanyaan itu dijawab pelan tapi pasti. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk anak sekolah tetap berjalan selama libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Namun, caranya tidak persis sama seperti hari sekolah biasa. Ada penyesuaian. Ada pilihan. Dan di sanalah cerita mulai menarik.

Penjelasan ini disampaikan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) melalui Wakil Kepala Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang. Ia menegaskan, selama libur sekolah, penyaluran MBG tetap dimungkinkan, sepanjang disepakati bersama pihak sekolah.

Dengan kata lain, dapur tetap ngebul. Tinggal soal anaknya mau datang atau tidak.

Dua Cara, Dua Konsekuensi

Selama masa libur, BGN menyiapkan dua skema penyaluran MBG. Skema pertama, murid dipersilakan datang ke sekolah untuk mengambil makanan. Mereka yang datang akan langsung menerima makanan siap santap. Tidak ada syarat rumit, tidak ada formulir berlapis. Datang, ambil, makan.

Namun, di sini juga ada garis tegas. Jika murid tidak datang ke sekolah, maka makanan tidak diberikan. Bukan karena dipersulit, melainkan karena sistem distribusinya memang mengandalkan kehadiran penerima.

Skema kedua sedikit berbeda. Murid tetap mengambil menu MBG ke sekolah, tetapi tidak setiap hari. Pengaturannya disesuaikan dengan kondisi sekolah dan kesepakatan yang dibuat. Dalam skema ini, BGN menyiapkan paket yang bisa bertahan lebih lama.

Semua itu diatur dalam Pedoman Tata Kelola Penyelenggaraan Program MBG Selama Libur Sekolah, yang ditetapkan melalui Keputusan Kepala BGN Nomor 52.1 Tahun 2025. Dalam pedoman tersebut, paket MBG selama libur sekolah terdiri dari satu paket siap santap dan dua paket kemasan tahan lama. Tujuannya jelas: memastikan anak tetap mendapatkan asupan gizi seimbang, meskipun tidak hadir di sekolah setiap hari.

Libur Sekolah, Libur Gizi?

Di titik ini, publik mulai mencerna. Programnya ada. Makanannya tersedia. Tapi ada satu hal yang tak bisa dihindari: anak tetap harus datang ke sekolah jika ingin menerima MBG, setidaknya pada waktu-waktu tertentu.

Bagi sebagian orang tua, ini mungkin bukan soal besar. Sekolah dekat, anak sehat, libur bisa diselingi jalan sebentar ke sekolah. Tapi bagi sebagian lainnya, terutama yang jaraknya jauh atau sedang mudik, skema ini memunculkan dilema kecil yang nyata.

Namun, di sisi lain, kebijakan ini juga menunjukkan satu hal penting: negara berupaya agar hak gizi anak tidak ikut cuti hanya karena kalender pendidikan berhenti sejenak. Libur sekolah tidak otomatis berarti libur perhatian.

BGN tampaknya memilih jalan tengah. Program tetap berjalan, tapi fleksibel. Tidak memaksa semua anak hadir setiap hari, namun juga tidak membagikan makanan tanpa mekanisme yang jelas. Ada aturan, ada pilihan, ada konsekuensi.

Pada akhirnya, MBG selama libur sekolah bukan sekadar soal makan gratis. Ia adalah potret bagaimana kebijakan publik bekerja di ruang yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tidak selalu sempurna, tidak selalu mudah, tapi berusaha hadir.

Dan mungkin, di tengah libur panjang, pesan yang ingin disampaikan sederhana: sekolah boleh libur, tapi urusan perut anak tetap perlu diurus. (AS)

Related Articles

Back to top button