Kinerja Optimal Siapapun Bos-nya

Ketika Kedekatan Personal Menjadi Ujian
Tidak bisa dimungkiri, ada masa di mana seseorang merasa “nyaman” karena dekat dengan pimpinan. Akses lebih mudah, komunikasi lebih cair, bahkan mungkin perlindungan lebih terasa. Saat pimpinan itu berganti, rasa kehilangan pun muncul.
Namun Islam mengingatkan agar kedekatan personal tidak menggeser orientasi amanah:
إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُكُمۡ أَن تُؤَدُّواْ ٱلۡأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهۡلِهَا
“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak.”
(QS. An-Nisa: 58)
Amanah itu melekat pada jabatan dan tugas, bukan pada siapa yang sedang menjabat sebagai atasan.
Pelajaran Besar dari Sejarah
Ketika Nabi Muhammad ﷺ wafat, umat Islam mengalami guncangan luar biasa. Sosok pemimpin paling dicintai, paling dipercaya, dan paling dirindukan itu tiba-tiba tiada. Namun Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menenangkan umat dengan kalimat yang sangat tegas:
“Barang siapa menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat.
Barang siapa menyembah Allah, maka Allah Maha Hidup dan tidak akan mati.”
Pesannya jelas:
jangan menggantungkan stabilitas pada figur,
tetapi pada nilai dan misi.
Baca artikel kultur lainnya: Risiko Akhirat dalam Penempatan Pejabat
Begitu pula dalam tata kelola pemerintahan. Umar bin Khattab dikenal sering mengganti gubernur dan pejabat, bukan karena kebencian, melainkan untuk memastikan sistem tetap berjalan dan aparatur tidak bergantung pada satu sosok.
Dalam makna yang sangat kontekstual hari ini:
organisasi yang sehat tidak runtuh hanya karena orang berganti.



