Di Balik Drama Amerika Kudeta Venezuela, Terlalu Banyak Modus!

lintaspriangan.com, KAJIAN LINTAS.
Sebuah Serangan yang Terlalu Besar untuk Alasan yang Terlalu Sederhana
Tidak banyak peristiwa dalam politik internasional modern yang langsung membuat dunia berhenti sejenak dan bertanya: “Ini benar-benar terjadi?”
Serangan Amerika Serikat ke Venezuela adalah salah satunya.
Di awal Januari 2026, Washington menyebut operasinya sebagai tindakan penegakan hukum dan perlindungan keamanan nasional. Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, ditangkap. Operasi itu diklaim bersih, terukur, dan sah secara hukum menurut versi Amerika. Namun sejak detik pertama, banyak analis internasional mencium kejanggalan yang sulit diabaikan: skala serangan ini terlalu besar untuk sekadar urusan hukum.
Penegakan hukum lintas negara biasanya dilakukan lewat jalur ekstradisi, kerja sama interpol, atau mekanisme multilateral. Bahkan dalam kasus kejahatan transnasional berat, negara-negara besar cenderung berhati-hati. Mereka sadar, satu langkah keliru bisa berubah menjadi preseden global. Tapi yang terjadi di Venezuela berbeda: pengerahan kekuatan militer, penguasaan titik-titik strategis, dan pernyataan politik yang melampaui sekadar penangkapan seorang tersangka.
Di sinilah keraguan mulai tumbuh.
Jika benar ini hanya soal hukum, mengapa harus dengan operasi militer?
Jika ini demi stabilitas, mengapa justru memicu keguncangan global?
Dan jika ini demi keamanan, mengapa disertai pernyataan soal “mengelola” Venezuela dan sumber dayanya?
Dalam dunia hubungan internasional, bahasa adalah petunjuk. Ketika sebuah negara mulai berbicara bukan hanya tentang menangkap, tetapi juga tentang mengatur, menstabilkan, dan mengalirkan sumber daya, maka isu yang bermain biasanya bukan tunggal. Ia berlapis.
Banyak media internasional mencatat bahwa operasi ini tidak berdiri dalam ruang hampa. Ia muncul di tengah krisis energi global, rivalitas geopolitik yang mengeras, serta sejarah panjang hubungan bermasalah antara Washington dan Caracas. Dengan kata lain, serangan ini lebih tepat dibaca sebagai puncak dari akumulasi kepentingan, bukan reaksi spontan terhadap satu masalah.
Pada titik ini, pembaca perlu berhenti sejenak dan menyepakati satu hal penting:
liputan ini bukan untuk membela rezim Venezuela, dan juga bukan untuk menelan mentah-mentah klaim Amerika Serikat. Tujuannya adalah membedah—pelan-pelan—apa saja lapisan kepentingan yang bekerja di balik satu peristiwa besar yang mengguncang tatanan global.
Karena dalam politik internasional, terutama ketika melibatkan negara besar dan sumber daya alam raksasa, alasan resmi hampir tidak pernah menjadi cerita utuh.
Siapa Venezuela?
Sebelum melangkah lebih jauh membedah motif dan kepentingan di balik serangan Amerika Serikat, ada satu hal mendasar yang wajib diluruskan lebih dulu: Venezuela bukan bagian dari Amerika Serikat, bukan wilayah kekuasaannya, dan bukan negara di bawah “Serikat Amerika” apa pun.
Venezuela adalah negara berdaulat di Amerika Selatan. Ia memiliki wilayah, rakyat, pemerintahan, konstitusi, serta kedaulatan yang diakui hukum internasional. Dalam sistem global modern, Venezuela berdiri sejajar—secara hukum—dengan Amerika Serikat, terlepas dari ketimpangan kekuatan ekonomi dan militernya.
Namun, dalam praktiknya, banyak orang—termasuk pembaca berita internasional—kerap keliru membaca posisi Venezuela. Kesalahan ini bukan tanpa sebab. Ia terbentuk oleh sejarah panjang campur tangan, dominasi narasi, dan relasi kuasa yang timpang.
Antara “Amerika” sebagai Benua dan Amerika sebagai Negara
Kesalahpahaman paling dasar berangkat dari istilah “Amerika” itu sendiri. Venezuela memang berada di Benua Amerika—tepatnya Amerika Selatan. Tapi berada di benua yang sama tidak berarti berada dalam satu struktur politik. Amerika Serikat bukan penguasa kawasan, melainkan salah satu negara di dalamnya.
Dalam hukum internasional, tidak ada konsep yang memberi satu negara hak istimewa atas negara lain hanya karena kedekatan geografis. Prinsip kedaulatan berdiri tegas: setiap negara berhak menentukan urusannya sendiri tanpa intervensi eksternal.
Ilusi Kepemilikan akibat Campur Tangan Panjang
Mengapa kemudian muncul kesan bahwa Amerika Serikat “berhak” bertindak di Venezuela?
Jawabannya terletak pada akumulasi campur tangan historis. Sejak awal abad ke-20, kepentingan ekonomi Amerika—terutama di sektor minyak—sangat kuat di Venezuela. Perusahaan-perusahaan Amerika mengelola ladang minyak, memengaruhi kebijakan ekonomi, dan membentuk ketergantungan struktural.
Campur tangan ini berlanjut dalam bentuk yang lebih halus: tekanan diplomatik, sanksi ekonomi, dukungan terhadap aktor politik tertentu, hingga isolasi internasional. Dalam jangka panjang, praktik semacam ini menciptakan ilusi bahwa Venezuela adalah “wilayah pengaruh sah” Amerika Serikat.
Padahal, pengaruh bukanlah kedaulatan.
Dan tekanan, betapapun lamanya, tidak pernah mengubah status hukum sebuah negara.
Negara Berdaulat, Tapi Tidak Pernah Benar-Benar Dibiarkan Mandiri
Inilah paradoks Venezuela. Ia berdaulat di atas kertas, tetapi jarang dibiarkan sepenuhnya menentukan jalannya sendiri tanpa tekanan eksternal. Ketika pemerintahannya sejalan dengan kepentingan Washington, relasi cenderung hangat. Ketika mengambil arah berbeda, tekanan meningkat.
Pola ini bukan khas Venezuela semata, melainkan gambaran umum relasi antara negara besar dan negara kaya sumber daya di Global South. Namun dalam kasus Venezuela, kekayaan minyak membuat intensitasnya jauh lebih tinggi.
Kesalahan membaca status Venezuela sering berujung pada normalisasi intervensi. Ketika sebuah negara dianggap “bermasalah”, “gagal”, atau “membahayakan kawasan”, maka kedaulatannya seolah menjadi opsional. Inilah jebakan berpikir yang berbahaya—karena membuka pintu bagi pembenaran tindakan sepihak.
Venezuela: Negara Super Kaya
Jika ada satu alasan mengapa Venezuela tak pernah sepi dari perhatian kekuatan besar, jawabannya ada jauh di bawah tanahnya. Di sanalah tersimpan kekayaan yang, sejak seabad lalu, menjadikan negara ini terlalu berharga untuk diabaikan—dan terlalu strategis untuk dibiarkan berjalan sendiri.
Venezuela adalah contoh paling telanjang dari paradoks klasik: negara yang sangat kaya sumber daya alam, tetapi lama terjebak krisis kesejahteraan. Untuk memahami mengapa setiap gejolak politik di Caracas selalu beresonansi global, kita harus masuk ke peta kekayaan ini satu per satu—tanpa romantisasi, tanpa simplifikasi.
Minyak: Jantung yang Memompa Segalanya
Venezuela memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, melampaui Arab Saudi. Pusatnya berada di Orinoco Belt, sebuah sabuk raksasa yang membentang di timur negara itu. Minyak di sini bukan minyak ringan; ia berat dan ekstra berat, membutuhkan teknologi tinggi dan biaya besar untuk diolah. Justru di situlah letak signifikansinya: siapa yang menguasai teknologi dan akses, menguasai nilai.
Sejak awal abad ke-20—ketika ladang di sekitar Danau Maracaibo mulai dieksploitasi—minyak membentuk hampir seluruh arsitektur ekonomi Venezuela. Ia membiayai negara, menentukan arah politik, dan menempatkan Venezuela sebagai pemasok penting energi global. Ketika harga minyak tinggi, negara bernapas lega; ketika jatuh, krisis menyergap. Ketergantungan ini membuat minyak bukan sekadar komoditas, melainkan urat nadi kekuasaan.
Gas Alam: Besar, Tapi Tak Pernah Jadi Bintang
Di luar minyak, Venezuela menyimpan cadangan gas alam yang masuk jajaran terbesar dunia. Namun berbeda dengan minyak, gas ini lama berada di bayang-bayang—kurang tergarap, kurang diekspor, dan minim infrastruktur. Sanksi internasional, keterbatasan investasi, dan prioritas kebijakan membuat potensi gas tidak pernah benar-benar menjadi penyangga ekonomi.
Bagi kekuatan luar, gas Venezuela adalah cadangan masa depan: bukan headline hari ini, tapi kartu strategis jangka panjang—terutama di era transisi energi ketika gas diposisikan sebagai “jembatan” menuju energi bersih.
Emas dan Mineral Strategis: Daya Tarik Baru Abad ke-21
Di selatan Venezuela terbentang wilayah tambang yang dikenal sebagai Orinoco Mining Arc. Di sini tersimpan emas, bauksit, bijih besi, hingga koltan—mineral penting untuk industri teknologi modern. Permintaan global terhadap mineral strategis ini melonjak seiring berkembangnya industri elektronik, kendaraan listrik, dan pertahanan.
Namun, eksploitasi tambang Venezuela juga menghadirkan sisi gelap: penambangan ilegal, kerusakan lingkungan, dan konflik sosial. Bagi negara-negara besar, ini menghadirkan dua peluang sekaligus: akses sumber daya dan alasan “stabilisasi”. Sejarah menunjukkan, kombinasi keduanya sering menjadi pintu masuk campur tangan.
Air dan Energi: Kekayaan yang Kerap Dilupakan
Venezuela juga kaya sumber daya air. Bendungan Guri—salah satu pembangkit listrik tenaga air terbesar di dunia—menjadi tulang punggung pasokan listrik nasional. Sungai Orinoco dan anak-anak sungainya menyediakan potensi energi dan transportasi alamiah yang luar biasa.
Ironisnya, kekayaan air ini tidak selalu berarti ketahanan energi. Krisis manajemen dan pemeliharaan membuat pemadaman listrik berulang terjadi. Sekali lagi, masalahnya bukan ketiadaan sumber daya, melainkan tata kelola.
Mengapa Kekayaan Ini Mengundang Tekanan?
Di sinilah benang merahnya. Kekayaan alam Venezuela tidak berdiri netral. Ia selalu berada dalam konteks global: pasar energi dunia, rantai pasok mineral strategis, dan rivalitas geopolitik. Negara-negara besar tidak harus “merebut” wilayah Venezuela untuk merasakan dampaknya. Cukup dengan memengaruhi siapa yang mengendalikan kebijakan, teknologi, dan akses pasar.
Karena itu, setiap krisis politik di Venezuela selalu dibaca dunia sebagai risiko terhadap stabilitas energi dan sumber daya. Dan ketika risiko membesar, tekanan—dalam berbagai bentuk—ikut meningkat.
Tanpa memahami skala dan jenis kekayaan alam Venezuela, sulit memahami mengapa negara ini terus berada di pusat pusaran global. Ini bukan pembenaran atas intervensi apa pun, melainkan penjelasan mengapa Venezuela tak pernah benar-benar dibiarkan sendiri.
Venezuela dan Kutukan Kekayaan
Untuk memahami mengapa Venezuela terus-menerus berada di pusaran konflik dan tekanan internasional, kita perlu mundur jauh ke belakang—bahkan sebelum negara ini dikenal dunia sebagai raksasa minyak. Sejarah Venezuela menunjukkan satu pola berulang: setiap kali kekayaan alamnya makin jelas, ruang kedaulatannya justru menyempit.
Dari Negeri Agraris ke Ladang Minyak Dunia
Pada awal abad ke-20, Venezuela masih merupakan negara agraris dengan ekonomi terbatas. Segalanya berubah ketika cadangan minyak raksasa ditemukan di sekitar Danau Maracaibo. Dalam waktu singkat, Venezuela menjadi magnet bagi perusahaan-perusahaan energi asing, terutama dari Amerika Serikat dan Eropa.
Pemerintah saat itu memberikan konsesi luas kepada perusahaan asing. Negara memperoleh pendapatan, tapi kendali berada di tangan luar. Model ini menciptakan ilusi kemakmuran—penerimaan negara meningkat—namun sekaligus menanam benih ketergantungan. Sejak fase inilah Venezuela masuk ke orbit kepentingan global, bukan sebagai subjek, melainkan sebagai sumber daya.
Negara Kaya, Tapi Struktur Rapuh
Masuknya uang minyak tidak diiringi penguatan institusi. Negara menjadi sangat bergantung pada satu komoditas, sementara sektor lain tertinggal. Ketika harga minyak turun, ekonomi terguncang. Ketika naik, negara kembali terlena. Pola ini berulang selama puluhan tahun.
Dalam konteks geopolitik, ketergantungan itu membuka ruang tekanan. Negara yang hidup dari satu sumber daya strategis menjadi mudah dipengaruhi: lewat harga, teknologi, akses pasar, dan investasi. Venezuela belajar pahit bahwa kekayaan alam bisa menjadi sumber kekuatan, tapi juga pintu masuk kendali eksternal.
Nasionalisasi: Upaya Merebut Kembali Kendali
Titik balik penting terjadi pada 1970-an, ketika Venezuela menasionalisasi industri minyaknya. Negara mengambil alih kendali dan menjadi pemain kunci di pasar energi global, termasuk lewat perannya di OPEC.
Langkah ini meningkatkan kedaulatan ekonomi, tetapi juga mengubah relasi dengan kekuatan besar. Venezuela tidak lagi sekadar pemasok patuh; ia menjadi negara yang bisa menentukan sikap. Sejak saat itu, relasi dengan Amerika Serikat memasuki fase baru: lebih berhati-hati, lebih politis, dan sarat kepentingan.
Perang Dingin: Rebutan Pengaruh, Bukan Wilayah
Pada era Perang Dingin, Venezuela tidak menjadi medan perang terbuka seperti negara lain di Amerika Latin. Namun itu bukan berarti ia bebas dari tekanan. Amerika Serikat memandang kawasan ini sebagai wilayah strategis. Selama Venezuela tetap berada di jalur yang tidak mengancam kepentingan Barat, hubungan dijaga.
Perebutan yang terjadi bukan dalam bentuk pendudukan, melainkan pengaruh: dukungan terhadap pemerintahan tertentu, tekanan ekonomi halus, dan pengamanan pasokan energi. Venezuela menjadi bagian dari keseimbangan global—bukan karena militernya, tetapi karena minyaknya.
Warisan Sejarah yang Tak Pernah Benar-Benar Selesai
Seabad kemudian, pola itu tetap terasa. Venezuela masih berdiri sebagai negara berdaulat, tetapi sejarah panjang intervensi ekonomi dan politik membuat ruang geraknya sempit. Setiap kebijakan yang menyentuh minyak selalu berdampak internasional. Setiap gejolak politik selalu dibaca sebagai ancaman atau peluang oleh kekuatan luar.
Bagian ini memberikan alasanm, apa yang terjadi hari ini bukanlah anomali. Serangan Amerika Serikat ke Venezuela adalah bagian dari mata rantai sejarah panjang—di mana kekayaan alam berulang kali mengundang perebutan pengaruh, dan kedaulatan harus terus diperjuangkan di tengah tekanan global.
Dari Chávez hingga Krisis: Ketika Minyak Menjadi Senjata Politik
Bagian ini adalah momen ketika konflik laten berubah menjadi benturan terbuka. Titik beloknya bernama Hugo Chávez.
Ketika Chávez terpilih pada 1999, ia tidak sekadar membawa wajah baru ke istana Miraflores. Ia membawa cara pandang baru tentang kedaulatan, terutama soal siapa yang berhak mengendalikan minyak Venezuela dan untuk kepentingan siapa kekayaan itu digunakan.
Minyak Bukan Lagi Sekadar Komoditas
Di tangan Chávez, minyak diubah dari sekadar sumber pendapatan negara menjadi alat politik domestik dan internasional. Negara memperketat kendali atas perusahaan minyak nasional, mengurangi peran perusahaan asing, dan memastikan hasil minyak mengalir langsung ke program sosial: pendidikan, kesehatan, dan subsidi bagi kelompok miskin.
Di dalam negeri, kebijakan ini mengangkat Chávez sebagai simbol perlawanan terhadap elit lama. Di luar negeri, langkah tersebut dibaca sebagai tantangan langsung terhadap tatanan lama yang selama puluhan tahun menguntungkan perusahaan energi Barat.
Sejak titik itu, relasi Venezuela–Amerika Serikat tidak lagi sekadar hubungan dagang. Ia berubah menjadi relasi ideologis dan strategis.
Diplomasi Minyak dan Arah Baru Politik Luar Negeri
Chávez menggunakan minyak sebagai instrumen diplomasi. Venezuela menjalin kerja sama energi dengan negara-negara Amerika Latin, Karibia, hingga Asia. Bantuan minyak murah menjadi alat membangun aliansi politik dan solidaritas regional.
Bagi Washington, ini bukan sekadar urusan ekonomi. Ini adalah pergeseran pengaruh di kawasan yang selama ini dianggap strategis. Venezuela tidak hanya keluar dari orbit lama, tetapi juga aktif membangun poros alternatif.
Retaknya Hubungan dan Awal Tekanan Sistematis
Seiring menguatnya posisi politik Chávez, tekanan eksternal mulai meningkat. Retorika Washington terhadap Caracas mengeras. Isu demokrasi, kebebasan pers, dan tata kelola ekonomi menjadi bahasa utama kritik. Di sisi lain, Caracas menuding Amerika Serikat mencampuri urusan dalam negeri dan berusaha melemahkan kedaulatan Venezuela.
Sejak awal 2000-an, hubungan kedua negara praktis berada dalam kondisi dingin. Bukan perang terbuka, tetapi perang narasi, tekanan ekonomi, dan isolasi politik.
Warisan yang Membentuk Krisis
Setelah Chávez wafat, Venezuela mewarisi sistem yang sangat bergantung pada minyak dan sangat terpolarisasi secara politik. Ketika harga minyak jatuh dan sanksi internasional mulai menekan, fondasi ekonomi yang rapuh runtuh dengan cepat.
Krisis yang terjadi kemudian sering dipresentasikan sebagai kegagalan internal semata. Namun membaca sejarahnya, jelas bahwa krisis ini adalah hasil pertemuan antara kelemahan struktural dalam negeri dan tekanan eksternal yang terus meningkat.
Subjudul ini menjadi jembatan penting menuju bab berikutnya. Di sinilah konflik Venezuela berubah dari ketegangan ideologis menjadi pertarungan terbuka soal legitimasi, hukum, dan kekuasaan—yang kelak membuka jalan bagi tindakan ekstrem seperti serangan militer.
Narasi Washington: Keamanan, Narkoba, dan Penegakan Hukum
Setelah benturan politik dan ideologis mengeras sejak era Chávez, Washington membangun narasi resmi yang menjadi landasan tindakan paling kerasnya terhadap Caracas. Bahasa yang dipilih terdengar akrab di telinga publik global: keamanan nasional, perang melawan narkoba, dan penegakan hukum internasional. Di atas kertas, ini tampak sah. Di lapangan, narasi ini menyimpan banyak celah.
Dari Diplomasi ke Bahasa Hukum
Amerika Serikat berulang kali menegaskan bahwa pemimpin Venezuela—termasuk Nicolás Maduro—terjerat dakwaan pidana di pengadilan federal AS terkait narkotika dan kejahatan transnasional. Tuduhan ini dipresentasikan sebagai masalah hukum murni, bukan konflik antarnegara. Dengan bingkai ini, Washington berupaya menggeser persepsi: ini bukan serangan militer, melainkan operasi penegakan hukum berskala internasional.
Masalahnya, praktik hukum internasional jarang—hampir tidak pernah—dijalankan dengan cara seperti itu. Penegakan hukum lintas negara biasanya menempuh jalur ekstradisi, kerja sama kepolisian internasional, atau proses multilateral. Operasi militer sepihak untuk menangkap kepala negara berdaulat adalah anomali.
Keamanan Nasional sebagai Kata Kunci
Istilah “keamanan nasional” menjadi payung besar yang menaungi segalanya. Dengan menyebut Venezuela sebagai sumber ancaman—baik melalui narkoba, migrasi, maupun instabilitas kawasan—Washington mengikat isu domestik AS dengan kebijakan luar negerinya. Narasi ini efektif untuk konsumsi publik dalam negeri: ancaman digambarkan dekat, mendesak, dan membutuhkan tindakan tegas.
Namun, banyak analis mencatat bahwa definisi ancaman ini sengaja diperluas. Dari persoalan kriminal, ia merembet ke legitimasi politik dan bahkan tata kelola negara lain. Ketika ancaman didefinisikan sangat luas, hampir semua tindakan bisa dibenarkan.
Penegakan Hukum atau Pergeseran Rezim?
Di titik inilah pertanyaan kunci muncul. Jika tujuan utamanya adalah penegakan hukum, mengapa pernyataan politik pasca-operasi berbicara tentang “mengelola” Venezuela dan menstabilkan ekonominya? Bahasa semacam ini biasanya digunakan dalam konteks transisi kekuasaan, bukan sekadar penangkapan tersangka.
Perbedaan antara klaim dan implikasi ini membuat banyak pengamat menyimpulkan bahwa narasi hukum berfungsi sebagai lapisan pembenaran, bukan tujuan tunggal. Ia memudahkan legitimasi internasional, tetapi tidak sepenuhnya menjelaskan arah kebijakan setelahnya.
Benturan Bahasa dan Tindakan Amerika
Di sinilah benturan antara bahasa dan tindakan terlihat paling jelas. Washington berbicara tentang hukum, tetapi bertindak dengan kekuatan militer. Ia mengklaim stabilitas, tetapi memicu ketidakpastian global. Ia menyebut keamanan, tetapi membuka perdebatan tentang kedaulatan.
Narasi ini menjadi pintu masuk bagi sebuah pertunjukkan, yang di belakangnya terlalu banyak lapisan kepentingan bekerja bersamaan. Dari sini, kita akan masuk ke pembongkaran modus—bagaimana satu operasi bisa memuat banyak agenda sekaligus.
Ketika Alasan Resmi Tak Pernah Tunggal
Di titik ini, pembaca yang mengikuti alur sejak awal mulai melihat satu pola: alasan resmi Amerika Serikat tidak pernah berdiri sendirian. Ia selalu datang berlapis—saling menguatkan, saling menutupi, dan saling memberi justifikasi. Inilah yang membuat serangan ke Venezuela tak bisa dibaca sebagai peristiwa hitam-putih.
Alih-alih satu motif tunggal, yang bekerja adalah sekumpulan modus.
Modus Keamanan: Ancaman yang Diperluas
Modus pertama adalah keamanan. Dengan menempatkan Venezuela sebagai sumber ancaman—narkoba, kriminalitas lintas negara, instabilitas kawasan—Washington memperluas definisi bahaya. Ancaman tidak lagi harus berupa serangan militer langsung; cukup dengan dianggap mengganggu stabilitas regional, sebuah negara bisa masuk daftar sasaran.
Pendekatan ini punya efek psikologis yang kuat. Publik tidak diajak bertanya apakah ancaman itu proporsional, melainkan diyakinkan bahwa bertindak sekarang lebih aman daripada menunggu. Dalam bingkai ini, penggunaan kekuatan menjadi “tindakan pencegahan”, bukan agresi.
Modus Hukum: Bahasa Legal sebagai Peredam Kritik
Modus kedua adalah hukum. Dengan membawa dakwaan pidana, Amerika Serikat menggeser konflik dari ranah politik ke ranah kriminal. Presiden negara lain tidak lagi diperlakukan sebagai aktor politik, melainkan sebagai tersangka.
Bahasa hukum ini berfungsi seperti peredam suara. Kritik terhadap operasi militer bisa dipatahkan dengan satu kalimat: ini soal penegakan hukum. Padahal, hukum internasional tidak pernah dirancang untuk ditegakkan melalui operasi militer sepihak. Di sinilah hukum berubah fungsi—bukan sebagai penegak keadilan, melainkan perisai legitimasi.
Modus Energi: Kepentingan yang Tak Pernah Disebut di Awal
Modus ketiga adalah energi, dan inilah lapisan yang jarang disebut di awal, tapi selalu muncul di ujung. Venezuela adalah negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia. Dalam konteks krisis energi global dan ketegangan geopolitik, stabilitas—atau ketidakstabilan—Venezuela punya dampak jauh melampaui Amerika Latin.
Ketika pejabat AS mulai berbicara tentang “menormalkan produksi”, “mengalirkan minyak”, atau “menyelamatkan ekonomi Venezuela”, pesan implisitnya jelas: sumber daya adalah bagian dari kalkulasi. Ini bukan hal baru dalam sejarah global, tapi tetap jarang diucapkan secara gamblang.
Modus Geopolitik: Pesan untuk Dunia
Modus keempat adalah geopolitik. Serangan ini tidak hanya ditujukan ke Caracas, tetapi juga ke Moskow dan Beijing. Ia adalah pernyataan kekuatan: bahwa Amerika Serikat masih bersedia menggunakan cara ekstrem untuk mempertahankan pengaruhnya di kawasan yang dianggap strategis.
Dalam politik global, pesan semacam ini sering kali lebih penting daripada hasil langsung di lapangan. Venezuela menjadi panggung, tetapi penontonnya adalah dunia.
Ketika Semua Modus Bertemu
Yang membuat peristiwa ini begitu kompleks adalah pertemuan semua modus tersebut dalam satu operasi. Keamanan memberi alasan mendesak, hukum memberi legitimasi, energi memberi kepentingan konkret, dan geopolitik memberi makna strategis.
Jika hanya satu modus yang bekerja, mungkin serangan ini bisa dijelaskan secara sederhana. Tapi ketika keempatnya hadir bersamaan, satu kesimpulan sulit dihindari: ini bukan tindakan reaktif, melainkan langkah yang dihitung matang.
Dari sini, pembaca dapat memahami bahwa apa yang tampak sebagai satu peristiwa tunggal sesungguhnya adalah hasil tumpukan kepentingan yang telah lama mengendap. Dan ketika tumpukan itu akhirnya bergerak, dampaknya tak mungkin kecil.
Retaknya Norma Internasional dan Kecemasan Global
Serangan Amerika Serikat ke Venezuela tidak berhenti sebagai peristiwa bilateral. Dalam hitungan jam, ia berubah menjadi isu global—memicu kecaman, kegelisahan, dan perdebatan tajam tentang masa depan tata dunia. Reaksi dunia inilah yang memperlihatkan betapa rapuhnya norma internasional ketika berhadapan dengan kepentingan negara besar.
Kecaman atas Pelanggaran Kedaulatan
Sejumlah negara dan blok regional menilai tindakan Washington sebagai pelanggaran kedaulatan negara berdaulat. Prinsip dasar hubungan internasional—non-intervensi dan penghormatan terhadap kedaulatan—dianggap dilangkahi. Banyak pernyataan resmi menekankan bahwa apa pun penilaian terhadap pemerintahan Caracas, cara yang ditempuh AS menciptakan preseden berbahaya.
Seruan paling konsisten adalah agar masalah Venezuela dikembalikan ke mekanisme multilateral, terutama Perserikatan Bangsa-Bangsa. Di sinilah terlihat jurang antara ideal dan realitas: PBB diminta bertindak, namun kekuatan veto dan kepentingan politik besar membuat ruang geraknya terbatas.
Dukungan Terbatas dan Bersyarat
Tidak semua reaksi bernada kecaman. Sejumlah negara menyatakan dukungan—atau setidaknya pengertian—terhadap tindakan Amerika Serikat, dengan catatan stabilitas dan perlindungan warga sipil harus menjadi prioritas. Dukungan ini umumnya datang dari negara-negara yang memiliki kepentingan politik dan keamanan sejalan dengan Washington.
Namun dukungan tersebut jarang bersifat penuh. Banyak yang bersyarat dan berhati-hati, menyadari bahwa pembenaran terbuka atas intervensi sepihak bisa berbalik menjadi bumerang di kemudian hari.
Ketakutan akan Preseden
Di balik pernyataan resmi, ada kegelisahan yang lebih dalam: jika tindakan ini dianggap sah, apa batasnya? Apakah negara kuat bisa sewaktu-waktu mengeksekusi dakwaan hukum di negara lain dengan kekuatan militer? Apakah kedaulatan menjadi relatif, tergantung posisi dalam peta geopolitik?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak hanya relevan bagi Amerika Latin. Negara-negara di Afrika, Asia, dan Timur Tengah membaca peristiwa Venezuela sebagai cermin masa depan—bahwa stabilitas domestik dan kedaulatan bisa diuji bukan oleh tetangga, melainkan oleh kekuatan global.
Norma yang Terkikis, Dunia yang Lebih Cemas
Sejak Perang Dunia II, dunia berusaha membangun norma agar penggunaan kekuatan menjadi pilihan terakhir. Kasus Venezuela menunjukkan betapa norma itu bisa terkikis ketika bertemu dengan kepentingan strategis. Reaksi dunia mencerminkan kecemasan kolektif: bukan hanya tentang Venezuela hari ini, tetapi tentang tatanan global esok hari.
Serangan Amerika Serikat ke Venezuela mengguncang lebih dari satu negara. Ia mengguncang keyakinan bahwa hukum internasional mampu menjadi penyangga ketika kekuatan besar bergerak sepihak.
Pada akhirnya, drama Amerika menyerang Venezuela mengajarkan satu pelajaran pahit tentang dunia hari ini: hukum internasional sering kali lentur ketika berhadapan dengan kekuatan, dan kedaulatan menjadi konsep yang mudah dinegosiasikan jika berhadapan dengan kepentingan strategis. Venezuela bukan negara tanpa masalah, tetapi sejarah menunjukkan bahwa masalah internal sebuah bangsa hampir selalu memburuk ketika diseret ke meja geopolitik global.
Dalam pusaran ini, alasan resmi—keamanan, hukum, stabilitas—kerap terdengar rapi, namun jarang berdiri sendiri. Yang bekerja justru tumpukan kepentingan yang saling menguatkan, hingga satu tindakan ekstrem tampak seolah masuk akal. Dan seperti banyak peristiwa serupa sebelumnya, dunia boleh berdebat soal legitimasi, negara besar boleh saling kirim pesan kekuasaan, tetapi satu hal hampir selalu pasti: rakyat biasa membayar harga paling mahal dari permainan yang tidak pernah mereka rancang. (AS)



