Amalan, Doa, dan Sikap Muslim saat Angin Kencang Menerpa

lintaspriangan.com, KAJIAN. Angin kencang, badai, atau cuaca ekstrem sering kali menimbulkan rasa takut, cemas, bahkan kepanikan. Dalam perspektif Islam, fenomena alam seperti angin bukanlah peristiwa netral tanpa makna. Ia adalah makhluk Allah yang berjalan atas perintah-Nya, bisa menjadi rahmat, bisa pula menjadi peringatan. Karena itu, Islam tidak hanya mengajarkan doa, tetapi juga sikap batin dan adab seorang Muslim ketika menghadapi angin kencang.
Artikel ini mengulas amalan, doa, dan sikap yang benar menurut dalil Al-Qur’an dan hadis shahih, agar seorang Muslim tidak hanya selamat secara fisik, tetapi juga lurus secara iman.
Angin dalam Pandangan Islam
Al-Qur’an menjelaskan bahwa angin adalah bagian dari sunnatullah:
“Dan Dialah yang mengirimkan angin sebagai pembawa kabar gembira sebelum datangnya rahmat-Nya.”
(QS. Al-A‘raf: 57)
Namun dalam ayat lain, angin juga disebut sebagai alat azab, seperti yang menimpa kaum ‘Ad. Ini menunjukkan bahwa angin tidak berdiri sendiri, melainkan tunduk sepenuhnya pada kehendak Allah. Karena itu, seorang Muslim diajarkan untuk tidak bersikap gegabah, apalagi menyalahkan alam.
Larangan Mencela Angin: Adab terhadap Takdir
Salah satu kesalahan yang sering terjadi saat angin kencang menerpa adalah melontarkan keluhan atau cacian terhadap angin dan cuaca. Padahal, Rasulullah ﷺ secara tegas melarang hal ini.
Beliau bersabda:
“Janganlah kalian mencela angin. Jika kalian melihat sesuatu yang tidak kalian sukai, maka berdoalah…”
(HR. Sunan At-Tirmidzi)
Hadis ini menegaskan bahwa mencela angin sama dengan mencela perbuatan Allah. Sikap yang benar bukanlah kemarahan, tetapi doa dan penghambaan.
Doa Nabi ﷺ saat Angin Kencang
Islam tidak membiarkan umatnya dalam ketakutan tanpa pegangan. Rasulullah ﷺ telah mengajarkan doa khusus ketika angin bertiup kencang.
Doa tersebut berbunyi:
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, kebaikan yang ada padanya, dan kebaikan tujuan ia diutus. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya, keburukan yang ada padanya, dan keburukan tujuan ia diutus.”
Doa ini diriwayatkan dalam Shahih Muslim dan dinilai shahih. Diksinya sangat mendalam: seorang Muslim tidak serta-merta menolak angin, tetapi memohon kebaikannya dan berlindung dari dampak buruknya.
Dzikir dan Amalan Penguat Tawakkal
Selain doa khusus, ulama menganjurkan memperbanyak dzikir perlindungan saat kondisi genting. Salah satunya adalah:
Hasbiyallāhu lā ilāha illā Huwa
“Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain Dia.”
Dzikir ini menanamkan keyakinan bahwa tidak ada kekuatan apa pun di alam ini yang lepas dari pengaturan Allah. Dalam situasi angin kencang, dzikir menjadi sarana menenangkan hati dan menguatkan tawakkal.
Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar menegaskan bahwa dianjurkan memperbanyak doa dan dzikir saat muncul fenomena alam yang menakutkan.
Sikap Batin Muslim: Takut, Harap, dan Introspeksi
Angin kencang bukan hanya peristiwa fisik, tetapi juga pengingat spiritual. Para ulama menjelaskan bahwa seorang mukmin seharusnya menggabungkan tiga sikap:
- Khauf (takut) kepada azab Allah
- Raja’ (harap) akan rahmat dan perlindungan-Nya
- Muhasabah (introspeksi) atas dosa dan kelalaian
Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ berubah sikap ketika melihat tanda-tanda cuaca ekstrem, sebagai bentuk kesadaran bahwa azab Allah bisa datang kapan saja.
Mengutamakan Ketenangan
Ketika angin kencang menerpa, Islam tidak mengajarkan kepanikan, tetapi ketundukan yang sadar. Dengan doa yang benar, dzikir yang shahih, dan sikap yang lurus, seorang Muslim akan merasakan ketenangan, meski alam sedang berguncang.
Inilah keindahan ajaran Islam: menghubungkan peristiwa alam dengan tauhid, bukan dengan ketakutan kosong. Angin boleh kencang, badai boleh datang, tetapi hati seorang mukmin tetap teguh karena bersandar kepada Allah.



