Inspiratif

Tiba-Tiba Pilot Pingsan saat Penerbangan

“Wahhh, bagaimana bisa?! Saya sama sekali tidak faham tentang sistem pesawat terbang!” jawab Si Pengusaha.

“Bapak, tolong dengarkan baik-baik. Pesawat yang Bapak tumpangi adalah jenis pesawat yang paling sederhana. Mekanismenya tidak rumit. Saya yakin kalau Bapak bisa fokus mendengarkan arahan saya, Bapak bisa mendarat dengan selamat. Kejadian seperti ini pernah terjadi beberapa kali, dan untuk pesawat jenis ini, sebagian besar bisa selamat. Bapak siap fokus mendengarkan arahan saya?”

Karena tak ada pilihan lain, Si Pengusaha pun menjawab ok. Hanya arahan Si ATC-lah satu-satunya solusi logis untuk menyelamatkan nyawanya.

“Sebelum saya mulai arahannya, ada pesan penting untuk Bapak. Kalau pesan ini tidak Bapak ikuti, akan sangat berbahaya untuk keselamatan Bapak,” kata Si ATC.

“Apa? Cepat! Pesawatnya oleng!” Si Pengusaha panik.

“Tolong jangan lihat badai-nya. Bapak cukup dengar dan laksanakan arahan saya. Sekali lagi, jangan lihat badainya!

Si ATC kemudian memandu tahap demi tahap mekanisme keluar dari badai dan mendaratkan pesawat. Dan singkat cerita, pesawat kecil itu berhasil mendarat. Nyawa Si Pengusaha dan Pilot selamat.

Setelah melalui berbagai prosedur pelaporan di Bandara, sebelum adzan maghrib Si Pengusaha sudah berada di hotel. Ia membaringkan tubuhnya, seraya masih tidak percaya nyawanya selamat. Hingga kemudian sebuah ketukan pintu membangunkan tubuhnya.

Saat pintu dibuka, terlihat seorang laki-laki usia sebaya berdiri. Ia tersenyum.

“Selamat ya, Pak. Alhamdulillah. Saya petugas bandara yang tadi memandu Bapak,” terangnya. Ternyata Si ATC.

Tanpa ba-bi-bu, Si Pengusaha langsung merangkul laki-laki itu. Matanya membasah, bibirnya tak berhentu bergumam.

“Terima kasih, Anda menyelamatkan saya. Terima kasih…” Lirih.

“Pak, sebetulnya yang paling menentukan keselamatan secara teknis bukan saya, tapi Bapak sendiri. Selama saya bekerja menjadi ATC, beberapa kali saya mengalami situasi serupa. Tapi baru kali ini pesawat mendarat dengan selamat,” terang Si ATC.

“Benarkah? Jadi tadi Anda bilang kebanyakan selamat di radio itu bohong?” tanya Si Pengusaha, kaget.

“Ya. Mohon maafkan saya. Bahkan jenis pesawat Bapak itu masih sangat manual dan bergantung pada pilot. Kalau pesawat-pesawat modern umumnya sudah ada fitur autopilot yang bisa dibantu pengendaliannya secara remote,” jawab Si ATC.

“Masha Alloooh… Tapi, Alhamdulillah.. Saya selamat. Tetap saja karena ada bantuan Bapak, terima kasih…,” ujar Si Pengusaha.

“Sama-sama, Pak. Kebanyakan yang mengalami situasi serupa seperti Bapak, tidak bisa fokus mendengarkan arahan saya. Mereka terlalu fokus melihat badai yang ada di depan mereka,” jelas Si ATC.

Kisah ini mengajarkan sebuah hikmah berharga pada kita. Apapun tantangan dan ancaman yang ada di hadapan kita, fokuslah pada mencari cara untuk menyelesaikannya. Fokus pada solusi, bukan pada masalah yang kita hadapi.

Laman sebelumnya 1 2

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca juga:
Close
Back to top button