Beredar Kabar, Ribuan Porsi Makanan Gratis di Hajat Putra KDM adalah Kiriman dari…

lintaspriangan.com, BERITA DAERAH. Hajat pernikahan putra mantan Bupati Purwakarta dan eks Wakil Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), yang semestinya menjadi momen bahagia, mendadak berubah menjadi petaka. Tiga warga dilaporkan meninggal dunia dalam kericuhan saat pembagian makanan gratis pada acara tersebut.
Tragedi ini menyulut perhatian publik, mengingat ribuan porsi makanan gratis yang dibagikan kepada warga awalnya diyakini disediakan langsung oleh pihak keluarga pengantin. Persepsi ini setidaknya diperkuat oleh video yang diunggah di kanal YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel dalam judul: “Ini Pesan KDM pada A Ula – Menjelang Pernikahan dengan Teh Putri Karlina”, tanggal 14 Juli 2025. Dalam video itu, Dedi menanyakan pada putranya, “Duitnya cukup nggak?” yang dijawab, “ada”, saat membahas tentang penyediaan 5000 porsi makanan gratis bagi warga. Hal ini kemudian memunculkan kesan bahwa seluruh biaya ditanggung secara pribadi oleh keluarga besar pengantin.
Namun, asumsi publik tersebut mulai goyah setelah beredar unggahan dari akun TikTok @infoA1 yang memperlihatkan adanya koordinasi terstruktur dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Barat untuk mengirim makanan khas daerah ke acara tersebut. Unggahan tersebut diawali dengan tangkapan layar pesan yang berbunyi:
“Assalamu’alaikum Bapak dan Ibu ijin menyampaikan link data yang harus diisi tiap kab/kota” — lengkap dengan tautan Google Docs berjudul “Data Makanan Kab/Kota di Nikahan Anak Bapak”.
Beberapa gambar tangkapan layar lain menunjukkan jadwal pengiriman makanan dari berbagai daerah. Tercatat, Garut dijadwalkan mengirim pada 16 Juli pukul 09.39 WIB, diikuti Purwakarta pukul 10.00 WIB. Pada 17 Juli, giliran Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, dan Sumedang yang mengirim pada pukul 07.30 WIB. Kota Tasikmalaya, Kabupaten Tasikmalaya, Kota Banjar, Kabupaten Ciamis, dan Pangandaran dijadwalkan pukul 08.00 WIB, kloter selanjutnya — Cirebon, Majalengka, Indramayu, dan Kuningan — mendapat slot pukul 08.30 WIB. Tangkapan layar tidak menyajikan data semua kabupaten/kota di Jawa Barat.
Data lainnya mengungkap jenis makanan yang dikirim tiap daerah beserta jumlah porsinya. Kabupaten Bandung Barat, misalnya, menyumbang kupat tahu padalarang dan nasi liwet bakar isi ayam, masing-masing 250 porsi. Sumedang menyumbangkan 1000 tahu Sumedang dan 1000 buah lontong. Kota Tasikmalaya mengirim lengko sapi, lengko ayam, dan kupat tanjung sebanyak 500 porsi, sementara Kabupaten Tasikmalaya mengirim nasi TO sebanyak 500 porsi. Pangandaran mengirim pindang gunung dan Ciamis menyajikan soto iyun, masing-masing juga 500 porsi.
Video tersebut ditutup dengan narasi kritis yang berbunyi:
“Etis kah? Ini acara pribadi atau acara pemerintahan? Disamping efisiensi yang digembar-gemborkan? Jika acara pemerintah, wajar semua kabupaten/kota ikut andil bahkan wajar mengirimkan para ASN-nya untuk bertugas.”
Sampai berita ini ditayangkan, belum ada klarifikasi dari pihak Dedi Mulyadi terkait kebenaran informasi yang beredar, termasuk apakah makanan-makanan dari kabupaten/kota itu merupakan sumbangan sukarela, bagian dari kerja sama resmi, atau justru dibayar oleh penyelenggara pesta.
Reaksi netizen pun beragam. Ada yang membela, ada pula yang menyindir.
“Naon nu dilakukeun Bapa Aink selalu salah di mata pembenci,” tulis akun @amyamora.
“Pembenci KDM makin senang menyudutkan KDM… tapi rakyat gak buta… maju terus KDM,” tambah akun @Hery Purnama.
Namun ada juga yang mengkritik:
“The Next Mulyono versi Sunda nih segala cara dilakukan demi keluarganya,” tulis @Ank_347.
“Pak polisi usut ini sampe tuntas, sepertinya ada penyalahgunaan jabatan. Guru aja yang cuma dapet kue bolu dari ortu kategorinya korupsi versi KPK, apalagi ini,” sindir akun @Ken Arok.
Redaksi tidak sedang dalam posisi mendukung atau menentang siapa pun. Namun dari kisruh ini, satu hal menjadi terang: masyarakat kita hari ini semakin kritis, cermat, dan tak segan bersuara. Munculnya pertanyaan publik soal transparansi dan etika patut disambut dengan keterbukaan, bukan sekadar pembelaan, apalagi sekadar penyangkalan yang bertolak belakang dengan jejak digital.
Dan pertanyaan paling mendasar hingga kini masih menggantung: siapa sebenarnya yang membiayai ribuan porsi makanan di hajat putra KDM itu? Jawabannya masih dinanti.
Catatan redaksi: Jika pihak-pihak terkait ingin memberikan hak jawab atau klarifikasi atas pemberitaan ini, redaksi sangat terbuka dan siap menayangkannya secara proporsional.



