Berita Tasikmalaya

Ade Hendar: “Sejarah Indonesia adalah Sejarah Pemuda”

lintaspirangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Tasikmalaya, Drs. Ade Hendar, M.M., menegaskan bahwa perjalanan sejarah bangsa Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran besar kaum muda. Menurutnya, setiap fase penting dalam sejarah Indonesia selalu diawali oleh gerakan pemuda yang visioner dan berani mengambil risiko.

“Sejarah Indonesia sejatinya adalah sejarah pemudanya. Dari masa kebangkitan nasional hingga reformasi, pemuda selalu berada di garis depan perubahan,” ujar Ade Hendar kepada Lintas Priangan, Senin (27/10/2025).

Ade Hendar menjelaskan, tonggak kebangkitan nasional tahun 1908 merupakan bukti pertama peran pemuda dalam membangkitkan kesadaran bangsa. Organisasi Boedi Oetomo, yang didirikan oleh mahasiswa STOVIA seperti Soetomo, Soeradji, Cipto Mangunkusumo, dll, menjadi simbol lahirnya nasionalisme Indonesia.

“Para pendiri Boedi Oetomo waktu itu masih muda, masih mahasiswa. Tapi dari tangan mereka lahir gerakan besar: membangkitkan bangsa lewat persatuan dan pendidikan,” tutur Ade.

Momentum kedua yang sangat monumental, lanjutnya, adalah Sumpah Pemuda 1928. Kongres Pemuda II melahirkan ikrar tiga poin yang menyatukan bangsa Indonesia di atas perbedaan suku, agama, dan daerah.

“Sumpah Pemuda menjadi fondasi berdirinya Republik ini. Pemuda dari berbagai daerah sepakat bertanah air satu, berbangsa satu, berbahasa satu: Indonesia. Inilah titik balik kesadaran nasional yang utuh,” jelasnya.

Mendesak dan Mempertahankan Kemerdekaan

Ade juga menyinggung peristiwa Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945, yang menunjukkan keberanian pemuda mendesak Soekarno-Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan.

“Kalau saja para pemuda seperti Soekarni dan Wikana tidak mendesak Bung Karno, mungkin Proklamasi tak terjadi secepat itu. Jadi, kemerdekaan Indonesia pun tidak lepas dari keberanian pemuda,” katanya.

Setelah proklamasi, perjuangan belum selesai. Bangsa ini masih harus menghadapi kembalinya penjajah Belanda yang membonceng pasukan Sekutu. Dalam masa genting itu, pemuda menjadi kekuatan utama di medan perang.

“Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya, Bandung Lautan Api, Medan Merdeka, sampai Palagan Ambarawa, yang perang di barisan terdepan itu pemuda. Bahkan Resolusi Jihad yang dikeluarkan para ulama pun direspon dengan semangat luar biasa oleh para santri muda,” ujar Ade Hendar.

Dinamika Pascakemerdekaan

Ia juga menyoroti kiprah pemuda dalam menghadapi ancaman ideologi pada masa pascakemerdekaan, seperti upaya infiltrasi komunisme di tahun 1960-an. Gerakan pemuda seperti GP Ansor dan Pemuda Pancasila, menurutnya, menjadi benteng ideologis dalam mempertahankan Pancasila.

Selain itu, peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru hingga Reformasi 1998 juga tidak bisa dilepaskan dari peran mahasiswa dan pemuda yang menuntut perubahan.

“Tritura tahun 1966 dan gerakan mahasiswa 1998 adalah bukti bahwa pemuda punya idealisme tinggi. Mereka peka terhadap dinamika yang sedang terjadi di dalam bangsanya,” ungkapnya.

Perjuangan Pemuda Hari Ini

Ade Hendar mengingatkan, meskipun tantangan zaman sudah berbeda, semangat perjuangan pemuda harus tetap sama. Saat ini, kata dia, ancaman bukan lagi penjajahan bersenjata, melainkan tantangan globalisasi, disinformasi, dan krisis moral.

“Pemuda hari ini harus melek sejarah dan digital. Mereka harus memahami bahwa masa depan Indonesia ada di tangan mereka. Kalau dulu berjuang dengan bambu runcing, sekarang perjuangannya dengan ilmu, integritas, dan karakter,” tegasnya.

Kepala Kesbangpol Kota Tasikmalaya itu menutup dengan pesan reflektif:

“Bangsa ini besar karena pemudanya tidak pernah berhenti belajar dan berjuang. Begitupun dengan pemuda Indonesia hari ini. Mereka harus terus menempa diri, agar Indonesia tetap jaya dan abadi.” (GPS)

Related Articles

Back to top button