Melawan Hoaks dari Desa, ASN Tasikmalaya Diganjar Penghargaan Nasional

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Di tengah derasnya arus informasi digital, hoaks kerap melaju lebih cepat daripada klarifikasi. Ia masuk ke ruang paling pribadi: percakapan keluarga, obrolan warung, hingga forum warga desa. Dalam situasi seperti itu, perlawanan terhadap hoaks tidak selalu hadir dalam bentuk kampanye besar. Di Kabupaten Tasikmalaya, perlawanan itu justru tumbuh lingkungan kerja pemerintahan.
Adalah Roni Imroni, Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika Kabupaten Tasikmalaya, yang diganjar Sorot News Golden Award 2025. Ia menerima penghargaan nasional tersebut pada kategori Tokoh Literasi Digital, Komunikasi Publik, dan Pemberdayaan Informasi Masyarakat—sebuah pengakuan atas upayanya memperkuat literasi informasi dari desa.
Bagi ASN Tasikmalaya ini, penghargaan tersebut tidak dipahami sebagai prestasi personal semata. Roni menegaskan bahwa apa yang ia jalankan merupakan hasil kerja kolektif berbagai pihak: jajaran Dishubkominfo, pegiat Komunitas Informasi Masyarakat (KIM), insan pers, hingga warga desa yang bersedia belajar dan berubah. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada pimpinan daerah yang memberi ruang bagi inovasi dan kerja lintas sektor.
Kabupaten Tasikmalaya, dengan wilayah yang luas dan karakter masyarakat yang beragam, menjadi medan yang menantang dalam urusan informasi publik. Di sejumlah desa, hoaks kerap beredar tanpa sempat diverifikasi. Isu kesehatan, kabar politik, hingga informasi yang memicu kecemasan sosial mudah menyebar melalui media sosial dan aplikasi pesan singkat. Roni membaca persoalan ini bukan sebagai kesalahan masyarakat, melainkan sebagai celah literasi yang perlu diperkuat.
Literasi Digital sebagai Fondasi Kepercayaan Publik
Alih-alih mengandalkan pendekatan seremonial, Roni mendorong penguatan literasi digital yang bersifat praktis. Melalui pembinaan Komunitas Informasi Masyarakat, warga dilatih mengenali ciri hoaks, memeriksa sumber, dan memahami etika berbagi informasi. KIM diposisikan sebagai mitra strategis pemerintah, bukan sekadar perpanjangan tangan birokrasi.
Dalam berbagai kesempatan, Roni menekankan bahwa masyarakat harus ditempatkan sebagai subjek informasi. Artinya, warga bukan hanya penerima pesan, tetapi juga pelaku yang berperan aktif menjaga kualitas ruang publik. Pendekatan ini pelan-pelan membuahkan hasil. Di sejumlah desa, anggota KIM mulai berperan sebagai penyaring informasi, bahkan jurnalis warga yang menyebarkan konten positif dan berbasis data.
Penguatan literasi digital ini juga menjadi jembatan komunikasi dua arah antara pemerintah dan masyarakat. Aspirasi warga tersalurkan, sementara informasi kebijakan dapat disampaikan secara lebih utuh dan bertanggung jawab. Dalam konteks ini, peran ASN Tasikmalaya tidak lagi sekadar administratif, melainkan fasilitator dialog publik.
Penghargaan yang diberikan oleh Sorot News menilai pendekatan tersebut sebagai praktik baik yang layak diapresiasi dan direplikasi. Ajang ini digelar dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun Sorot News dan melibatkan puluhan tokoh dari berbagai daerah di Indonesia. Pengakuan nasional ini sekaligus menempatkan Tasikmalaya sebagai daerah yang serius membangun ketahanan informasi masyarakat.
Tanggung Jawab ASN di Tengah Arus Disinformasi
Bagi Roni, menerima penghargaan justru menambah beban tanggung jawab. Ia menyebutnya sebagai pengingat untuk terus konsisten memperkuat literasi digital hingga ke tingkat akar rumput. Tantangan ke depan, menurutnya, bukan hanya kecepatan teknologi, tetapi juga kemampuan masyarakat memilah informasi secara kritis dan beretika.
Kisah ini menunjukkan bahwa peran ASN Tasikmalaya dapat melampaui rutinitas birokrasi. Di tengah derasnya disinformasi, ada kerja yang bertumpu pada pendidikan publik, kolaborasi, dan kepercayaan. Perlawanan terhadap hoaks tidak selalu harus gaduh. Ia bisa tumbuh dari ruang-ruang desa, dari dialog yang sabar, dan dari komitmen untuk menjaga ruang publik tetap sehat.
Penghargaan nasional yang diterima Roni Imroni menjadi penanda bahwa upaya semacam ini memiliki arti. Bukan hanya bagi satu individu, tetapi bagi daerah yang ingin membangun masyarakat melek informasi sebagai fondasi kemajuan bersama. (AS)



