Berita Ciamis

TBC Penyakit Menular Berbahaya, Ini Kata dr. Bayu Yudiawan

lintaspriangan.com. CIAMIS. Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu penyakit menular yang berbahaya dan membutuhkan perhatian serius. Kepala Bidang Pelayanan RSUD Ciamis, dr. H Bayu Yudiawan, MM, menjelaskan TBC memiliki karakteristik khusus yang membuat diagnosis dan pengobatannya lebih rumit dibanding penyakit infeksi lainnya.

“Bakteri penyebab TBC, Mycobacterium Tuberculosis, bisa bertahan lama dalam tubuh tanpa menimbulkan gejala. Kadang penderita tidak sadar dirinya sudah terinfeksi,” kata dr. Bayu, Rabu (27/08/2025).

Dikatakannya, TBC menular melalui percikan dahak saat penderita batuk atau bersin. Dalam sekali batuk, ribuan bakteri bisa keluar dan berisiko menular ke orang terdekat, terutama keluarga serumah. Meski umumnya menyerang paru-paru, TBC juga bisa menyebar ke tulang, kulit, hingga selaput otak.

Gejala yang perlu diwaspadai antara lain batuk lebih dari dua minggu, keringat malam, berat badan turun drastis, demam berkepanjangan, dan hilang nafsu makan.

“Kalau ada anggota keluarga yang terdiagnosis TBC, seluruh penghuni rumah sebaiknya ikut diperiksa. Ini penting untuk mencegah penularan lebih luas,” tegasnya.

Menurut dr. Bayu, TBC bisa disembuhkan dengan pengobatan yang tepat dan teratur minimal enam bulan. Namun, ketidakpatuhan minum obat menjadi kendala terbesar. “Kalau pengobatan tidak tuntas, bakteri bisa kebal obat sehingga lebih sulit diatasi,” ujarnya.

RSUD Ciamis telah menyediakan layanan terintegrasi mulai dari skrining, diagnosis, hingga pengobatan. Pemeriksaan dilakukan dengan metode aktif (active case finding) maupun pasif (passive case finding). Fasilitas pendukung juga tersedia, seperti Tes Cepat Molekuler (TCM), PCR, rontgen, dan laboratorium.

Mayoritas kasus yang ditangani adalah TBC sensitif obat, sementara TBC resisten obat (MDR) jumlahnya lebih sedikit tetapi membutuhkan terapi lebih lama dan biaya lebih besar. “Untuk TBC MDR, pengobatan bisa mencapai dua tahun. Karena itu, pencegahan dan kepatuhan pasien menjadi kunci,” jelasnya.

BACA JUGA: Air Mata Bahagia Janda Lansia Ketika Rumahnya Dikunjungi Bupati Ciamis

Selain pengobatan, pencegahan juga penting, seperti imunisasi BCG pada bayi usia 0–6 bulan, menjaga gizi seimbang, serta meningkatkan sanitasi lingkungan.

“Masyarakat sering terlambat mengenali gejala TBC. Edukasi ini terus kami lakukan agar masyarakat lebih waspada,” tambah dr. Bayu.

Ia juga menyebutkan RSUD Ciamis bekerja sama dengan Dinas Kesehatan, Puskesmas, hingga komunitas, serta mendapat dukungan dari program nasional dan Provinsi Jawa Barat.

Meski fasilitas dan obat tersedia, tantangan tetap ada, terutama stigma terhadap pasien TBC dan keterbatasan akses di wilayah terpencil. Karena itu, peran keluarga sangat penting mendampingi pasien agar disiplin menjalani pengobatan.

“Kami berharap masyarakat tidak takut memeriksakan diri jika mengalami gejala TBC. Dengan pengobatan yang patuh, dukungan keluarga, dan kerja sama lintas sektor, target eliminasi TBC 2030 bisa tercapai,” pungkasnya. (Lintas Priangan/Nank).

Related Articles

Back to top button