SWAKKA Kritisi Rencana Diorama Kota Tasikmalaya

Kenapa Doyan Budaya Proyek Baru?
Bagi SWAKKA, rencana pembangunan Diorama Kota Tasikmalaya tidak bisa dilepaskan dari pola kebijakan yang lebih besar: budaya proyek baru. Sebuah kecenderungan untuk lebih bersemangat membangun hal-hal baru, ketimbang merapikan pekerjaan rumah yang sudah lama terbengkalai.
Padahal, semangat membuat proyek baru itu tidak sejalan dengan Rencana Strategis (Renstra) Disparpora 2021–2026, yang memuat daftar panjang isu strategis, mulai dari keterbatasan sarana, lemahnya tata kelola destinasi, hingga belum optimalnya pemanfaatan aset pariwisata. Renstra tersebut berbicara banyak soal pembenahan dasar, bukan kondisi sektor pariwisata yang sudah surplus dan siap menanggung proyek baru.
“Diorama itu ide bagus. Arboretum bambu juga menarik. Tapi kebijakan publik bukan lomba ide paling kreatif, melainkan soal prioritas,” kata Asep.
Menurutnya, dalam kondisi fiskal daerah yang terbatas, pemerintah seharusnya lebih dulu memastikan bahwa destinasi yang sudah ada benar-benar hidup, terawat, terintegrasi, dan mampu menyumbang PAD secara optimal. Tanpa itu, proyek-proyek baru berisiko hanya menambah daftar aset yang indah di awal, namun sunyi di kemudian hari.
SWAKKA menilai kritik ini penting disampaikan agar diskusi publik tidak berhenti pada euforia rencana. “Kami tidak menolak mimpi. Kami hanya ingin memastikan mimpi itu berpijak di tanah yang sudah dirapikan, bukan di atas tumpukan potensi yang dibiarkan terbengkalai. Lalu, buat apa kajian-kajian itu dibuat jika tidak digunakan? Nanti ujung-ujungnya jadi beban, gagal lagi,” pungkas Asep.



