Berita Tasikmalaya

Penyekapan Gadis di Tasikmalaya Berujung Kekerasan Seksual

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Kasus penyekapan gadis di Tasikmalaya memasuki babak baru setelah kepolisian mengonfirmasi adanya dugaan kekerasan seksual yang dialami korban selama dua hari bersama para pelaku. Korban, RN berusia 15 tahun, ditemukan polisi di sebuah kamar penginapan wilayah Tawang setelah dilaporkan hilang oleh keluarganya sejak Senin.

Menurut keterangan polisi, RN tidak hanya disekap tetapi juga mengalami tindak persetubuhan oleh dua remaja berinisial AK (17) dan IR (17). Keterangan itu diperoleh setelah korban memberikan penjelasan awal kepada penyidik Satreskrim Polres Tasikmalaya Kota.

Kasat Reskrim Polres Tasikmalaya Kota, AKP Herman Saputra, menyebutkan bahwa korban akan segera menjalani visum di rumah sakit untuk memastikan kondisi fisiknya. Prosedur visum ini menjadi tahap penting untuk menguatkan unsur pidana dalam penyidikan. “Besok korban akan dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan dan visum,” ujarnya.

Penyekapan tersebut berlangsung sejak Senin hingga Rabu. Selama itu pula keluarga berupaya mencari keberadaan RN yang hilang kontak. Keluarga baru mengetahui lokasi korban ketika RN berhasil mengambil ponselnya saat para pelaku tertidur, lalu mengirimkan lokasi kepada ibunya.

Setelah menerima laporan, polisi langsung mendatangi kamar penginapan yang dimaksud dan menemukan RN bersama empat remaja laki-laki. Dua di antaranya kini ditengarai sebagai pelaku persetubuhan. Selain itu, polisi juga mengamankan beberapa botol miras dan barang bukti lain yang diduga digunakan di kamar tersebut.

AKP Herman menegaskan bahwa penyidik masih mengumpulkan keterangan lanjutan dari keempat terduga pelaku. “Masih didalami dan kami masih memeriksa lebih detail terkait motif dan peran masing-masing,” ujarnya.

Kasus penyekapan gadis di Tasikmalaya ini langsung menyedot perhatian publik, terutama karena melibatkan anak di bawah umur dan unsur kekerasan seksual. Lembaga perlindungan anak setempat turut memberikan dukungan pendampingan psikologis bagi RN, mengingat trauma yang dialami korban selama dua hari tersebut tidak hanya bersifat fisik tetapi juga emosional.

Situasi ini memunculkan tuntutan agar pihak berwenang memperketat pengawasan di penginapan, terutama terhadap tamu remaja yang datang dalam jumlah tidak wajar. Masyarakat menilai kasus ini seharusnya menjadi pengingat bahwa keamanan lingkungan bukan hanya tanggung jawab keluarga, tetapi juga pengelola tempat usaha dan aparat setempat.

Sementara itu, penyidik menekankan bahwa proses hukum masih berjalan dan semua temuan akan diuji melalui keterangan saksi, bukti digital, dan hasil visum. Polisi juga tidak menutup kemungkinan adanya pasal tambahan setelah seluruh proses pemeriksaan selesai.

Dalam beberapa hari ke depan, hasil visum dan pemeriksaan mendetail diperkirakan menjadi penentu arah penanganan kasus ini. Keluarga berharap pelaku mendapat hukuman setimpal dan RN dapat menjalani pemulihan secara menyeluruh baik secara fisik maupun mental.

Kasus ini menjadi salah satu tragedi yang kembali mengingatkan pentingnya pengawasan, edukasi, dan sistem perlindungan anak. Di Tasikmalaya, peristiwa ini menjadi alarm keras bahwa kejahatan terhadap remaja bukan lagi sesuatu yang jauh dari permukaan.

Related Articles

Back to top button