Radio Purbasora Tasikmalaya Raih Penghargaan KPID Jawa Barat

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Gedong Budaya Soreang, Kabupaten Bandung, menjadi panggung kebanggaan bagi insan penyiaran Jawa Barat pada Anugerah Penyiaran KPID Jawa Barat ke-18 yang digelar Senin malam, 10 November 2025. Di antara ratusan lembaga penyiaran yang berpartisipasi, nama Radio Purbasora Tasikmalaya mencuat sebagai salah satu yang berhasil membawa pulang penghargaan bergengsi. Stasiun radio lokal tersebut meraih penghargaan untuk kategori LPPL Program Hiburan Seni Budaya Sunda, mengungguli kandidat kuat lain seperti RRI Bandung dan Kuningan FM.
Penghargaan ini bukan hanya soal menang dalam kompetisi, tetapi menjadi bukti bahwa siaran berbasis kearifan lokal masih memiliki tempat istimewa di tengah arus digital dan derasnya konten global. Di saat algoritma media sosial menentukan apa yang muncul di layar gawai, Radio Purbasora justru memilih tetap setia merawat tradisi, nada, bahasa, serta rasa Sunda yang hidup di telinga masyarakat.
Kebanggaan Tasikmalaya dalam Gema Siaran Sunda
Program yang diusulkan Radio Purbasora Tasikmalaya menonjol karena racikan unsur budaya yang konsisten, komunikatif, dan dekat dengan keseharian warga. Musik tradisional, obrolan ringan beraksen lokal, serta tema-tema budaya yang dibawakan tanpa kaku, menjadi kekuatan yang dirasakan langsung oleh pendengarnya.
Kemenangan ini sejalan dengan semangat yang digaungkan dalam ajang KPID Jabar ke-18, yaitu memperkuat komitmen lembaga penyiaran dalam menghadirkan informasi dan hiburan yang tetap berakar pada budaya lokal sekaligus adaptif terhadap perkembangan zaman.
Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan, dalam sambutannya menekankan bahwa ajang penghargaan ini bukan sekadar seremoni. Ia menyebut, dunia penyiaran memerlukan dukungan moral dan kebijakan agar tetap mampu bersaing, terutama di tengah kompetisi dengan platform digital yang berkembang tanpa batas.
“Media penyiaran masih menjadi saluran informasi yang menjangkau masyarakat paling luas. Dan kepercayaan publik terhadapnya masih kuat. Semoga penghargaan ini menjadi energi baru untuk terus berkarya,” ujar Erwan.
Sementara itu, Ketua KPID Jawa Barat, Adiyana Slamet, dalam kesempatan yang sama menyoroti ketimpangan regulasi yang dialami lembaga penyiaran. Ia menyebut bahwa lembaga penyiaran tunduk pada aturan ketat berdasarkan UU No. 32 Tahun 2002 dan P3SPS, sedangkan platform digital tidak terikat aturan serupa. Ketimpangan ini berdampak pada persaingan, terutama dalam hal belanja iklan.
“Kita tahu bahwa kepercayaan publik terhadap radio dan TV masih tinggi. Namun proyeksi belanja iklan untuk sektor ini hanya sekitar 46 persen hingga 2025. Ada lebih dari 3.500 pekerja penyiaran di Jawa Barat yang perlu dilindungi,” ujarnya.
Dalam kondisi seperti itu, kemenangan Radio Purbasora Tasikmalaya menjadi catatan penting: kreativitas dan keteguhan visi tetap dapat berbuah pengakuan.
Radio Purbasora, Rumah Nada, Bahasa, dan Identitas
Dalam pengamatan Rahman, mantan produser di Masima Radio Network, Radio Purbasora sangat layak memperoleh penghargaan karena konsistensinya dalam merawat kearifan lokal di tengah derasnya modernitas.
“Purbasora itu seperti penjaga, agar identitas daerah tidak boleh sekadar menjadi kenangan. Identitas harus dihidupkan, dirayakan, dan dihadirkan dalam bentuk yang akrab dengan publik,” papar Rahman kepada Lintas Priangan.
Rahman menambahkan, Purbasora berhasil bukan sekadar dalam menjaga keberlangsungan siarannya, tapi juga menjaga suasana. Pendengar akan merasa “pulang” saat mendengar Purbasora. Mereka merasa berada di tengah ruang keluarga Sunda.
Dengan kemenangan ini, Radio Purbasora Tasikmalaya membawa pulang kebanggaan bagi daerah, sekaligus bukti bahwa penyiaran radio masih memiliki denyut kuat di tengah derasnya dunia digital. Bukan hanya tentang bertahan, tetapi tetap relevan. Tidak sekadar hadir, tetapi berarti.
KPID mengingatkan bahwa penyiaran harus tetap tangguh dan kreatif. Dan malam itu, Radio Purbasora menunjukkan bagaimana ketangguhan bisa berpadu dengan kehangatan budaya, lalu menjadi suara yang tak sekadar terdengar, tetapi dirasakan. (GPS)



