Gelombang Penutupan Restoran di Singapura: Biaya Sewa Melonjak, Bisnis Kuliner Tersungkur

Kenaikan biaya sewa di Singapura memicu gelombang penutupan restoran legendaris dan bisnis kuliner kecil.
lintaspriangan.com, BERITA DUNIA -Fenomena penutupan restoran di Singapura terus meluas. Dalam beberapa bulan terakhir, ratusan usaha kuliner, termasuk restoran legendaris, terpaksa menutup pintu akibat tekanan biaya sewa yang melonjak tajam. Di tengah kondisi ekonomi yang masih beradaptasi pascapandemi, lonjakan harga sewa hingga hampir 50 persen membuat banyak pelaku bisnis kuliner tak lagi sanggup bertahan.
Restoran Legendaris Ka-Soh Gulung Tikar Setelah 86 Tahun
Salah satu kisah paling menggugah datang dari Ka-Soh, restoran makanan Kanton legendaris yang berdiri sejak 1939 di kawasan Greenwood Avenue. Setelah 86 tahun beroperasi, Ka-Soh menyajikan semangkuk sup ikan terakhirnya pada 28 September 2025, menandai berakhirnya perjalanan panjang bisnis keluarga tiga generasi itu.
Pemilik restoran, Cedric Tang, mengungkapkan bahwa keputusan tersebut diambil dengan berat hati.
“Meskipun kami sudah bekerja keras selama bertahun-tahun, kami akhirnya harus menyerah. Kami sudah cukup,” ujar Tang kepada Channel News Asia, Jumat (10/10/2025).
Tang menjelaskan, alasan utama penutupan Ka-Soh adalah kenaikan sewa mencapai 30 persen, yang akan berlaku setelah masa kontrak berakhir pada akhir tahun. Dari semula S$12.000, biaya sewanya naik menjadi S$15.000 per bulan — setara Rp190 juta jika dikonversi ke rupiah.
Untuk menutupi biaya tambahan itu, Ka-Soh perlu menjual sekitar 300 mangkuk mi kuah ikan tambahan setiap bulan. Target ini, kata Tang, hampir mustahil dicapai tanpa menaikkan harga jual. Namun, ia enggan melakukannya karena khawatir kehilangan pelanggan lama.
“Sebagai bisnis warisan, kami ingin tetap terjangkau bagi pelanggan setia kami,” tambahnya.
Demi menghemat pengeluaran, Tang bahkan turun langsung ke dapur, menjadi pelayan dan pencuci piring. Meski begitu, upaya keras itu tetap tak mampu menyelamatkan restoran dari gelombang tekanan biaya operasional yang kian berat.
Gelombang Penutupan Restoran Terbesar dalam Dua Dekade
Kasus Ka-Soh bukanlah yang pertama. Data dari Channel News Asia menunjukkan, ratusan restoran di Singapura menutup usaha setiap bulan akibat tekanan serupa.
Pada Juli 2025 saja, sekitar 320 restoran resmi gulung tikar. Di bulan berikutnya, giliran jaringan Prive Group menutup seluruh gerainya per 31 Agustus. Tak berhenti di situ, 360 restoran lainnya juga tutup di bulan yang sama.
Secara keseluruhan, lebih dari 3.000 bisnis makanan dan minuman (F&B) berhenti beroperasi sepanjang tahun 2024. Rata-rata sekitar 250 restoran tutup setiap bulan — angka tertinggi dalam hampir dua dekade terakhir.
Bagi banyak pelaku usaha, biaya sewa yang melambung menjadi penyebab utama di balik gelombang penutupan ini. Terence Yow, Ketua Singapore Tenants United for Fairness (SGTUFF), menyebutkan bahwa kenaikan sewa di sejumlah kawasan mencapai 20 hingga 49 persen.
“Di komunitas kami, mayoritas penyewa melaporkan kenaikan sewa antara 20 sampai 49 persen. Situasi ini belum pernah kami alami selama dua puluh tahun terakhir,” ungkap Yow, mewakili lebih dari 1.000 pemilik usaha F&B di Singapura.
Sewa Properti Melonjak, Pengusaha Tak Lagi Mampu Bertahan
Menurut para analis properti, kenaikan harga sewa memang tak bisa dihindari. Ethan Hsu, Kepala Divisi Ritel di Knight Frank Singapura, menilai bahwa lonjakan sewa mencerminkan penyesuaian pasar setelah pandemi COVID-19.
“Jika sewa diperbarui sekarang, tiga tahun setelah pandemi, bahkan dengan kenaikan 50–100 persen sekalipun, mungkin belum mencapai tingkat harga pasar saat ini,” jelas Hsu.
Ia menambahkan bahwa faktor kenaikan biaya konstruksi dan pemeliharaan turut berperan besar.
“Biaya konstruksi naik sekitar 30 persen, sedangkan biaya perawatan properti meningkat sedikitnya 10 persen,” katanya.
Hsu menegaskan, banyak pihak keliru menganggap para pemilik properti bertindak serakah.
“Padahal, nilai sewa hanyalah satu dari sekian banyak komponen biaya yang dihadapi penyewa,” ujarnya menegaskan.
Namun di sisi lain, realitas di lapangan memperlihatkan banyak pelaku usaha yang terjepit. Dalam kondisi ekonomi yang masih belum pulih sepenuhnya, peningkatan biaya tetap sulit diimbangi dengan kenaikan omzet.
Antara Pelestarian Warisan Kuliner dan Tekanan Ekonomi
Fenomena penutupan restoran di Singapura tidak hanya berdampak ekonomi, tetapi juga mengancam keberlanjutan warisan kuliner lokal. Ka-Soh, misalnya, bukan sekadar tempat makan, melainkan bagian dari sejarah budaya Singapura.
“Restoran seperti Ka-Soh membawa memori kolektif masyarakat. Saat mereka tutup, bagian dari identitas kuliner kota ini ikut hilang,” ujar Lim Siew Mei, sejarawan kuliner dari National University of Singapore (NUS).
Dalam beberapa tahun terakhir, restoran keluarga dan kedai tradisional memang kian terdesak oleh bisnis besar yang memiliki modal lebih kuat. Naiknya biaya sewa membuat usaha kecil sulit bersaing dengan jaringan internasional yang mampu membayar harga tinggi untuk lokasi strategis.
Meski pemerintah Singapura berupaya mendukung UMKM melalui skema subsidi dan program digitalisasi, banyak pengusaha menilai insentif tersebut belum cukup mengatasi tekanan biaya operasional yang membengkak.
Tantangan Baru bagi Bisnis Kuliner Singapura
Analis ekonomi memperkirakan, tren kenaikan sewa akan terus berlanjut hingga 2026 seiring dengan tingginya permintaan ruang ritel di pusat kota. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi mengubah lanskap kuliner Singapura.
Restoran besar dengan dukungan modal kuat kemungkinan mampu beradaptasi, sementara bisnis kecil dan keluarga akan terus menghadapi tantangan berat.
“Jika tidak ada intervensi struktural, Singapura bisa kehilangan karakter kulinernya. Semua akan digantikan oleh jaringan internasional,” ujar Lim menambahkan.

Sebagai solusi jangka pendek, beberapa pelaku usaha mulai beralih ke konsep dapur bersama (cloud kitchen) untuk mengurangi biaya sewa dan memaksimalkan layanan pesan antar. Namun, bagi banyak restoran tradisional seperti Ka-Soh, perpindahan ke model bisnis digital bukanlah pilihan mudah.
Kesimpulan: Warisan Kuliner Terancam oleh Lonjakan Sewa
Gelombang penutupan restoran di Singapura menjadi cermin bahwa tekanan ekonomi akibat kenaikan biaya sewa telah mencapai titik kritis. Meski para pemilik properti berdalih bahwa harga sewa mengikuti pasar, kenyataannya banyak pelaku kuliner yang tidak lagi mampu menanggung beban tersebut.
Jika tren ini berlanjut, bukan hanya ekonomi yang terdampak, tetapi juga identitas kuliner Singapura yang telah menjadi bagian penting dari warisan budaya Asia Tenggara.
Penutup
Kenaikan biaya sewa mendorong gelombang penutupan restoran di Singapura, mengancam keberlanjutan warisan kuliner lokal. (MD)



