Berita Tasikmalaya

Mediapreneur Talks di Tasikmalaya: Ketika Media Berusaha Tetap Hidup

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Tasikmalaya tampak cukup ramai sejak pagi, terutama di sekitar Ballroom Hotel Santika, Kamis (06/11/2025). Lebih dari 150 orang yang berkecimpung di dunia jurnalistik sudah berdatangan sejak pukul 08.00. Mereka menghadiri Mediapreneur Talks di Tasikmalaya, rangkaian penutup Program Journalism 360 dari Promedia Teknologi Indonesia.

Acara ini merupakan gelaran yang keenam selama tahun 2025, dan bisa disebut sebagai titik penutup napas panjang diskusi seputar dunia jurnalisme yang diinisiasi Promedia. Tema yang diangkat sangat kuat dan relevan: “Jurnalisme Berkelanjutan dan Berkualitas”.

Atmosfer Ruangan Mediapreneur Talks di Tasikmalaya

Begitu memasuki ballroom, suasana langsung mencuri perhatian. Tiga big screen berdiri di depan sebagai panggung visual utama. Lampu sorot di sisi kiri dan kanan menyinari lembut, memberi kesan profesional namun hangat dan dekat. Yang membuat ruangan ini lebih “Tasik” adalah enam payung geulis berwarna biru yang ditempatkan di sekitar panggung. Sentuhan etnik yang seolah mengingatkan bahwa jurnalisme, se-modern apa pun bentuknya, sebaiknya tetap berpijak pada budaya tempat ia tumbuh.

Sebanyak 23 meja bundar disusun rapi, memberi ruang bagi para peserta untuk menyimak sambil berdiskusi ringan. Ada wartawan media lokal, pengelola perusahaan media, hingga tim digital marketing dari berbagai platform di Priangan Timur.

Lintas Priangan turut hadir. Pimpinan Redaksinya, Asep Candra, duduk di barisan tengah, tampak memperhatikan jalannya acara dengan antusias.

Tiga Pemateri, Tiga Wawasan, Satu Tujuan

Dalam sesi materi, hadir sebagai pembicara CEO Promedia Agus Sulistriyono, Anggota Komite Publisher Right / Komite Tanggung Jawab Perusahaan Platform Digital untuk Mendukung Jurnalisme Berkualitas (KTP2JB) Suprapto Sastro Atmojo, serta CEO Props, Ilona Juwita.

Masing-masing menyuguhkan wawasan yang berbeda namun tetap dalam alur yang saling menguatkan: bagaimana media bisa bertahan, berkembang, dan tetap berpegang pada kualitas.

Menurut Asep Candra, ketiganya memberikan paparan yang hari ini sangat dibutuhkan oleh media lokal. Namun, ada satu yang paling mencuri perhatian: Ilona Juwita. Bukan sakadar karena beliau pemateri paling cantik, tapi karena materinya ibarat mata air di tanah lapang yang gersang.

Ilona dan Harapan di Tengah Kelesuan

Asep menyebut materi yang disampaikan Ilona seperti “siraman air dingin” di tengah kelesuan yang melanda media digital saat ini. Ilona mengungkapkan bahwa belanja digital sebenarnya naik tahun ini, meski secara year on year tidak sesuai ekspektasi banyak pihak.

Kuncinya, kata Ilona, adalah kemampuan media mengenali audiensnya.

“Identifikasi siapa user kita. Kalau sudah tahu karakter user media kita, selanjutnya konten bisa disesuaikan. Ketika itu terjadi, user akan jadi visitor loyal. Mereka akan jadi super user,” jelasnya.

Ini penting. Super user, lanjut Ilona, meskipun jumlahnya tidak banyak, justru dapat membantu membesarkan media. Mereka bukan sekadar pembaca, tapi bagian dari ekosistem yang akan turut membesarkan media.

Selain itu, Ilona menekankan pentingnya kolaborasi antarmedia, terutama media lokal. “Hari ini, tidak ada yang benar-benar bisa berjalan sendiri,” ujarnya.

Pesan-pesan dari Ilona terasa sederhana, namun jelas bukan hal remeh. Di era klik yang cepat berlalu dan perhatian yang mudah berpindah, menemukan pembaca yang tinggal lebih lama dan selalu kembali adalah sebuah sinyal keberhasilan.


Mediapreneur Talks di Tasikmalaya bukan hanya seminar. Ia seperti ruang napas bersama, tempat para pegiat media menata ulang kompas mereka. Bahwa jurnalisme berkualitas bukan sekadar idealisme, tetapi kebutuhan yang harus terus diperjuangkan. (GPS)

Related Articles

Back to top button