Peringatan Maulid Nabi di Ponpes Al Muniroh Sukahurip Tasikmalaya

Maulid Nabi mengingatkan pentingnya memahami Al-Qur’an dan Hadis secara orisinal sebagai pedoman hidup umat Islam.
lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA – Suara lantunan shalawat menggema di halaman Pondok Pesantren Sukahurip Al Muniroh, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu (18/10/2025). Ratusan jamaah tampak khusyuk dalam Tabligh Akbar memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Di tengah gemuruh dzikir, tersampaikan pesan yang menggugah hati: memahami Al-Qur’an dan Hadis secara utuh adalah kunci untuk meneladani Rasulullah dalam kehidupan modern.
Momentum Maulid Nabi untuk Menguatkan Pemahaman Keagamaan
Dalam ceramah utamanya, KH. Fuadz Mukhlis, Lc., M.A., pimpinan Pondok Pesantren Bayt Al-Qur’an Singaparna, mengajak umat untuk menjadikan peringatan Maulid sebagai momentum memperdalam pemahaman terhadap ajaran Islam dari sumber aslinya.
“Maulid Nabi SAW bukan sekadar perayaan. Ini pengingat agar kita kembali memahami makna Al-Qur’an dan Hadis sebagaimana disampaikan oleh ulama salaf dengan tafsir yang benar,” kata KH. Fuadz di hadapan jamaah.
Ia menilai, pemahaman terhadap Al-Qur’an dan Hadis saat ini kerap terdistorsi oleh tafsir instan di media sosial yang tidak melalui proses keilmuan. Hal ini, menurutnya, berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dalam mempraktikkan ajaran agama.
“Banyak orang mengambil dalil tanpa memahami konteks. Akibatnya, pesan moral dari ayat atau hadis bisa melenceng jauh. Itulah pentingnya kembali pada orisinalitas terjemahan,” ujarnya menegaskan.
Menurut KH. Fuadz, spirit Maulid Nabi SAW seharusnya menjadi gerakan intelektual yang menumbuhkan kesadaran umat Islam untuk memahami teks suci secara mendalam dan bertanggung jawab.
Meneladani Rasulullah Lewat Ilmu dan Akhlak
KH. Acep Bulqini, selaku sesepuh Pondok Pesantren Sukahurip Al Muniroh, menambahkan bahwa meneladani Rasulullah bukan hanya dengan memperbanyak shalawat, tetapi juga dengan menjaga kemurnian pemahaman terhadap wahyu.
“Meneladani Nabi berarti meniru cara berpikir dan berperilaku beliau yang selalu berlandaskan ilmu. Dan ilmu itu bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis yang dipahami secara benar,” tutur KH. Acep.
Ia menekankan, pendidikan pesantren memegang peran vital dalam menjaga sanad keilmuan agar generasi muda tidak mudah terpengaruh oleh interpretasi bebas. Di tengah derasnya arus informasi digital, pesantren menjadi benteng penting dalam menjaga otentisitas ajaran Islam.
“Kalau pemahaman agama dipelajari tanpa guru, hanya lewat media sosial, umat bisa kehilangan arah. Maka Maulid ini mengingatkan kita untuk kembali belajar dengan cara yang benar,” lanjutnya.
KH. Acep juga menyoroti pentingnya melibatkan generasi muda dalam kajian mendalam mengenai Al-Qur’an dan Hadis. Baginya, memahami ajaran Islam dengan cara yang sahih bukan sekadar kewajiban spiritual, tapi juga langkah strategis membangun karakter umat yang beradab.
Refleksi Maulid Nabi di Tengah Arus Digitalisasi Agama
Fenomena penyebaran tafsir bebas melalui media sosial, menurut para ulama, menjadi tantangan baru bagi umat Islam. Banyak tafsir dan potongan ayat beredar tanpa konteks yang jelas, menimbulkan perbedaan tafsir bahkan perpecahan di kalangan masyarakat.

KH. Fuadz menilai, memahami originalitas tafsir dan terjemahan Al-Qur’an serta Hadis dapat menjadi filter bagi umat agar tidak terjebak dalam tafsir yang menyesatkan.
“Kita perlu membangun literasi keagamaan yang kuat. Tafsir Al-Qur’an dan Hadis harus dikembalikan pada sumber yang diakui, bukan pada penafsiran viral,” katanya.
Ia menambahkan, Maulid Nabi menjadi waktu yang tepat untuk menegaskan kembali pentingnya ilmu dan sanad dalam memahami agama. Dengan demikian, umat Islam dapat mempraktikkan ajaran Rasulullah dengan cara yang sesuai zaman, tanpa mengaburkan makna aslinya.
“Memahami Al-Qur’an secara benar adalah fondasi untuk menciptakan umat yang bijak, damai, dan berakhlak. Itulah esensi Maulid sebenarnya,” pungkasnya.
Ritual, Spirit, dan Kesadaran Kolektif
Tabligh Akbar di Pondok Pesantren Sukahurip Al Muniroh hari ini berlangsung khidmat. Jamaah yang datang dari berbagai daerah memenuhi area pesantren. Shalawat dan doa bersama mengalun silih berganti, menciptakan suasana spiritual yang mendalam.
Para guru madrasah, santri, hingga masyarakat sekitar turut larut dalam suasana peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang diwarnai tausiah, dzikir, dan pembacaan maulid.
Bagi sebagian peserta, momen ini bukan hanya bentuk penghormatan, tetapi juga sarana memperkuat pemahaman agama. Salah seorang guru MA Al Muniroh, Ari Guntara, mengaku terinspirasi oleh pesan ulama tentang pentingnya memahami ajaran Islam dari sumber yang benar.
“Anak-anak sekarang mudah mencari informasi agama di internet, tapi tidak semua bisa dipertanggungjawabkan. Acara seperti ini penting untuk membimbing mereka,” katanya.
Meneguhkan Cinta Rasul Lewat Pemahaman yang Mencerahkan
KH. Fuadz menutup tausiah dengan ajakan agar Maulid Nabi SAW menjadi momentum membangun kesadaran kolektif umat Islam untuk kembali kepada ajaran Rasulullah melalui pemahaman yang autentik dan mendalam.
“Cinta kepada Nabi tidak cukup diucapkan, tapi diwujudkan dengan memahami pesan beliau dari sumber yang sahih,” ujarnya.
Menurutnya, masyarakat yang memahami Al-Qur’an dan Hadis secara utuh akan lebih mampu menebarkan kedamaian dan meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan sosial.
KH. Acep pun menegaskan bahwa pesantren akan terus menjadi ruang pembelajaran dan penjaga orisinalitas tafsir Islam agar generasi masa depan tetap berpegang pada nilai-nilai luhur Rasulullah SAW.

Kesimpulan
Maulid Nabi SAW mengajak umat meneguhkan cinta kepada Rasulullah lewat pemahaman orisinal Al-Qur’an dan Hadis yang mencerahkan dan membimbing. (Lintas Priangan/aEndik)



