Berita Tasikmalaya

Longsor Salawu Berdampak Langsung ke Semua Daerah di Priangan Timur

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Longsor terjadi di kawasan Salawu, jalur nasional penghubung Tasikmalaya–Garut, pada Kamis (5/2/2026), setelah wilayah tersebut diguyur hujan dengan intensitas tinggi selama beberapa hari terakhir. Material longsoran berupa tanah, lumpur, dan bebatuan besar runtuh dari tebing curam di sisi jalan, menutup bahu jalan hingga sebagian badan jalan utama. Akibatnya, arus lalu lintas dari kedua arah tidak dapat melintas secara normal.

Peristiwa longsor pertama kali terpantau saat itu kondisi cuaca masih mendung, sementara permukaan jalan licin akibat sisa hujan pada malam sebelumnya. Sejumlah pengendara yang melintas sempat menghentikan laju kendaraan ketika melihat material longsor mulai menutup badan jalan.

Situasi semakin memburuk ketika satu unit bus penumpang Karunia Bakti yang melaju dari arah Tasikmalaya menuju Garut diduga tergelincir saat berupaya menghindari tumpukan material longsor. Bus tersebut oleng dan berhenti dalam posisi melintang, menutup bahu jalan sebelah kanan dan mempersempit ruang gerak kendaraan lain.

Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Seluruh penumpang bus berhasil dievakuasi dengan selamat, meski sebagian mengalami syok. Namun, posisi bus yang melintang di jalur utama memperparah kondisi lalu lintas dan membuat kemacetan kian mengular.

Pantauan di lokasi menunjukkan antrean kendaraan dari kedua arah mencapai beberapa kilometer. Truk angkutan barang, bus antarkota, kendaraan pribadi, hingga sepeda motor terjebak tanpa kepastian waktu pembukaan jalan. Sejumlah pengendara memilih mematikan mesin dan menunggu, sementara sebagian lainnya mencoba memutar balik melalui jalur alternatif yang terbatas dan berisiko.

“Sudah lebih dari dua jam tidak bergerak. Jalan sempit, mau putar balik juga susah,” keluh seorang pengendara asal Garut yang terjebak kemacetan.

Petugas kepolisian bersama aparat setempat segera turun ke lokasi untuk mengatur arus lalu lintas, mengamankan area longsor, serta mengantisipasi potensi longsor susulan. Pengendara diimbau tetap waspada dan mengikuti arahan petugas selama proses penanganan berlangsung.

Namun, dampak longsor di Salawu tidak berhenti pada kemacetan di satu titik semata. Jalur yang terganggu ini memiliki peran strategis dalam menghubungkan pergerakan antarwilayah di kawasan Priangan Timur.

➡️ Lanjutkan ke halaman berikutnya: Dampak Lintas Wilayah


Dampak Lintas Wilayah dari Terhentinya Jalur Utama

Yang dimaksud berdampak langsung bukanlah kerusakan fisik di seluruh daerah di Priangan Timur, melainkan terganggunya jalur utama yang selama ini menopang mobilitas orang dan aktivitas ekonomi lintas wilayah. Ketika satu titik krusial di jalur nasional ini terhenti, efeknya menjalar ke berbagai daerah yang bergantung pada kelancaran arus transportasi tersebut.

Jalur Tasikmalaya–Garut dikenal sebagai penghubung penting antar kabupaten dan kota di Priangan Timur. Selain melayani pergerakan kendaraan penumpang, jalur ini juga menjadi lintasan utama distribusi barang kebutuhan harian, hasil pertanian, serta logistik perdagangan antarwilayah. Terhambatnya jalur ini berdampak pada keterlambatan perjalanan, penundaan pengiriman, dan meningkatnya beban waktu bagi pengendara maupun pelaku usaha.

Sejumlah sopir angkutan dan pengendara mengaku terpaksa menunda perjalanan hingga berjam-jam. Kondisi tersebut berimbas pada aktivitas ekonomi, terutama sektor-sektor yang bergantung pada ketepatan waktu pengiriman. Meski tidak selalu terlihat secara kasat mata, efek berantai dari gangguan jalur utama ini dirasakan hingga ke daerah-daerah yang terhubung secara langsung maupun tidak langsung.

Upaya penanganan longsor dilakukan dengan mendatangkan alat berat berupa ekskavator untuk membersihkan material yang menutup jalan. Proses evakuasi dan pembersihan berlangsung cukup sulit mengingat kondisi medan yang sempit, licin, serta berada di kawasan perbukitan dengan kontur tanah yang labil. Petugas gabungan dari kepolisian, BPBD, dan warga setempat bahu-membahu membuka kembali akses jalan secara bertahap.

Sementara itu, penarikan bus Karunia Bakti dilakukan dengan sangat hati-hati agar tidak memicu longsor lanjutan. Hingga siang hari, jalur Tasikmalaya–Garut masih belum dapat dilalui secara normal, dan pembukaan jalan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan faktor keselamatan.

Kawasan Salawu sendiri dikenal sebagai salah satu titik rawan longsor di jalur selatan Jawa Barat, terutama saat musim hujan. Struktur tanah yang labil, tebing curam, serta sistem drainase yang terbatas kerap menjadi faktor pemicu terjadinya longsor berulang di wilayah tersebut. Kondisi ini membuat jalur strategis tersebut rentan mengalami gangguan sewaktu-waktu.

Peristiwa longsor kali ini kembali menegaskan pentingnya penanganan jangka panjang di titik-titik rawan pada jalur strategis. Mengingat perannya yang vital, gangguan di satu titik tidak hanya berdampak lokal, tetapi dapat memengaruhi mobilitas dan aktivitas masyarakat lintas daerah di Priangan Timur. Pemerintah diharapkan dapat memperkuat upaya mitigasi dan penanganan permanen agar kejadian serupa tidak terus berulang dan mengganggu kepentingan publik yang lebih luas. (AS)

Related Articles

Back to top button