Modus Penipuan Baru di Tasikmalaya, Driver Online Harus Waspada!
Seorang driver Maxim di Tasikmalaya menjadi korban penipuan model baru yang memanfaatkan teknologi GPS spoofing. Pelaku menyamar seolah-olah memesan dari Kota Tasikmalaya, padahal lokasi aslinya ternyata berasal dari Madiun, Jawa Timur.

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Seorang driver Maxim di Tasikmalaya tertipu order fiktif yang ternyata dikirim dari Madiun. Modus penipuan baru ini melibatkan manipulasi lokasi (GPS spoofing) dengan iming-iming bonus dan permintaan belanja. Kerugian capai Rp250.000.
Kronologis
Kasus penipuan berbasis aplikasi ojek online kembali terjadi. Seorang driver Maxim berinisial PK mengalami kerugian sebesar Rp250.000 setelah menerima order fiktif yang tampaknya berasal dari Kota Tasikmalaya. Namun, setelah ditelusuri, orderan tersebut rupanya dikirim dari Kota Madiun.
Penipuan terjadi pada Rabu (30/06/2025), malam hari antara pukul 21.00 hingga 23.00 WIB. Skema yang digunakan pelaku adalah memesan layanan antar dengan iming-iming bonus tambahan sebesar Rp20.000 dan meminta driver membelikan barang-barang tertentu seperti GPU, Tolak Angin, dan melakukan top-up saldo OVO. Pelaku menjanjikan akan membayar tunai saat dijemput.
“Awalnya saya pikir ini orderan normal, bahkan ada tambahan bonus. Tapi ketika saya sampai di titik jemput, orangnya tidak bisa dihubungi lagi,” ujar P.K. pada redaksi.
Merasa ditipu, korban segera melapor ke Customer Service Maxim di Kantor Tasikmalaya keesokan paginya. Laporan diterima langsung oleh Bapak Ikhsan, CS yang sedang bertugas saat itu. Dalam keterangannya, Ikhsan menegaskan bahwa kasus ini tergolong serius karena pelaku diduga menggunakan metode manipulasi lokasi (GPS spoofing) sehingga order seolah berasal dari Tasikmalaya.
“Setelah kami telusuri melalui sistem pusat, ternyata lokasi asli pemesan berasal dari Kota Madiun. Ini bisa jadi bentuk baru dari penipuan digital dengan memanfaatkan celah teknologi,” jelas Ikhsan.
Modus:
- Pelaku memesan layanan ojek online Maxim dengan titik jemput dan tujuan di dalam wilayah Tasikmalaya.
- Dalam kolom pesan, pelaku meminta driver menalangi pembelian barang dan top-up saldo OVO.
- Pelaku menjanjikan akan membayar secara tunai ketika dijemput.
- Setelah belanja dilakukan, pelaku menghilang dan tidak merespons pesan maupun panggilan telepon.
- Total kerugian driver mencapai sekitar Rp250.000.
- Lokasi pemesan terdeteksi berasal dari Madiun, bukan dari wilayah Tasikmalaya.
Himbauan dan Tindakan Lanjut
Pihak Maxim telah langsung memblokir akun pelanggan yang terlibat dalam kasus ini dan melaporkannya ke pusat. Meski begitu, Ikhsan menyebutkan bahwa pihaknya belum memiliki mekanisme penggantian kerugian terhadap driver dalam kasus penipuan seperti ini.
“Sayangnya, sampai saat ini kami belum dapat melakukan reimburse terhadap driver yang menjadi korban. Oleh karena itu, kami sarankan untuk melaporkan ke pihak kepolisian agar bisa ditindaklanjuti secara hukum,” tambah Ikhsan.
PK juga mengimbau sesama driver untuk lebih waspada dan tidak mudah percaya pada permintaan pembelanjaan atau top-up saldo dari pelanggan, apalagi jika belum menerima uang secara langsung atau via transfer.
“Kalau ada orderan yang mencurigakan, apalagi pakai bonus terlalu besar atau meminta belanja via chat saja, sebaiknya langsung ditolak. Jangan tergiur iming-iming uang tambahan,” tegas P.K.
Kasus ini membuka mata bahwa penipuan terhadap driver ojek online kini makin canggih. Driver perlu lebih melek teknologi dan memahami ciri-ciri orderan yang mencurigakan, termasuk mengecek apakah link pembelanjaan terhubung langsung dengan situs resmi Maxim atau hanya berupa pesan teks biasa.
Di tempat terpisah, salah seorang praktisi dan dosen IT, Arief Nurahmat, S.T., turut memberikan komentar.
“Aneh, perusahaan sebesar Maxim tapi application security-nya bisa dibilang belum kuat. Padahal untuk bisnis berbasis GPS, seharusnya pengamanan dalam hal GPS Spoofing harus jadi prioritas, agar mitra driver bisa lebih aman dan nyaman,” tegas Arief. (Lintas Priangan/AA)



