Ketika Ketua Gerindra Tasikmalaya Mengetuk Rumah Lansia

Doa Lansia untuk Gerindra Tasikmalaya
Di setiap akhir pertemuan, suasana yang sama selalu hadir. Doa-doa terucap tanpa diminta. Doa untuk kesehatan, untuk umur panjang, dan untuk kebaikan langkah orang-orang yang telah menyempatkan diri datang. Nama Aslim dan Gerindra Tasikmalaya disebut dalam kalimat-kalimat tulus, jauh dari panggung politik.
“Seumur hidup, baru kali ini ada wakil rakyat datang ke rumah,” ucap seorang lansia dengan suara pelan. Kalimat sederhana itu menyimpan makna besar. Bahwa kehadiran langsung, sekecil apa pun, bisa menjadi penguat rasa dihargai bagi mereka yang hidup di usia senja.
Kunjungan dari rumah ke rumah ini menjadi potret lain wajah politik lokal. Di tengah hiruk pikuk agenda dan perdebatan, Gerindra Tasikmalaya memilih ruang yang jarang diliput: ruang tamu para lansia, tempat cerita lama dan keluhan kesehatan bertemu dalam satu percakapan.
Tidak semua cerita berakhir dengan tawa. Ada kisah tentang kesepian. Ada pengakuan tentang hari-hari panjang yang terasa sunyi. Namun justru di situlah maknanya. Didengar tanpa dihakimi. Ditemani tanpa harus banyak janji.
Perayaan ulang tahun Gerindra Tasikamlaya ini akhirnya menjadi lebih dari sekadar penanda usia. Ia menjelma menjadi pengingat tentang siapa yang seharusnya selalu diingat: rakyat, terutama mereka yang paling rentan dan gagap saat bersuara.
Ketika pintu-pintu rumah itu kembali tertutup, yang tertinggal bukan hanya jejak kunjungan, melainkan rasa hangat yang sulit diukur angka. Bagi para lansia, hari itu menjadi cerita baru yang bisa mereka simpan. Bagi Gerindra Tasikmalaya, ia menjadi perayaan yang mungkin tidak bising, tetapi paling bermakna.
Selamat ulang tahun ke-18 Gerindra. Semoga semakin dewasa dalam usia, dan semakin dekat rkyat. Karena terkadang, politik tidak perlu teriak-teriak. Cukup datang, duduk, dan mendengarkan. (AS)



