Tasik Haneut: dari Aksi Massa, Spanduk Balai Kota, sekarang Mosi Tak Percaya

Mosi Tidak Percaya: Eskalasi Terbaru
Dinamika itu kini memasuki babak baru. Beredar poster digital yang mengajak masyarakat turut hadir dalam aksi lanjutan pada 9 Februari 2026 di sekitar Balai Kota Tasikmalaya dengan tema “Tasikmalaya Darurat Kebijakan” dan seruan mosi tidak percaya terhadap kepemimpinan wali kota. Aksi yang dipromosikan oleh organisasi SAPMA Pemuda Pancasila Kota Tasikmalaya itu memuat ajakan kepada publik umum untuk berkumpul mulai pukul 13.00 WIB sampai wali kota hadir, menggambarkan tekanan langsung terhadap legitimasi eksekutif daerah.
Lintas Priangan sedang mencoba menghubungi Ketua SapmaPP untuk memperdalam informasi tersebut di atas.
Berita Tasikmalaya lainnya: Ada Pejabat ASN Ngaku Doyan Main Proyek
Wacana mosi tidak percaya ini merupakan eskalasi paling serius dalam kritik yang berkembang di Tasikmalaya dalam beberapa pekan terakhir. Jika sebelumnya tuntutan masih berada pada ranah evaluasi kebijakan, kini kritik bergerak ke arah krisis kepercayaan politik terhadap kepemimpinan daerah. Meski secara prosedural mosi tidak dipercaya seperti di parlemen tidak memiliki konsekuensi hukum langsung di tingkat pemerintahan daerah, bentuk penyampaian aspirasi ini memiliki dampak simbolik yang kuat di ruang publik.
Seorang pengamat politik lokal mengatakan, situasi yang berkembang harus dibaca sebagai alarm politik yang tidak bisa diabaikan oleh pemerintah. “Ini bukan sekadar kritik spontan,” ujarnya. “Ada pesan mendalam bahwa sebagian publik merasa jalur aspirasi formal belum menyentuh pada dampak yang mereka harapkan,” tambahnya.
Baca Berita Tasikmalaya lainnya: 5 Masalah Krusial dalam 1 Tahun Kepemimpinan Viman
Hingga berita ini disusun, belum ada repons resmi Pemerintah Kota Tasikmalaya terkait rencana aksi 9 Februari dan narasi mosi tidak percaya yang muncul. Namun satu hal menjadi jelas: Tasikmalaya sedang berada dalam fase dinamika politik yang makin memanas, di mana ruang publik kembali menjadi arena utama pertarungan gagasan, kritik, dan legitimasi kekuasaan menjelang satu tahun kepemimpinan Viman-Diky. (AS)



