Surat Terakhir Siswi MTs Sukabumi Sebelum Akhiri Hidupnya Sendiri

lintaspriangan.com, BERITA SUKABUMI. Tragedi meninggalnya siswi MTs Sukabumi berinisial N (14) di Kecamatan Cikembar meninggalkan duka mendalam. Lebih dari sekadar kabar duka, peristiwa ini mengguncang hati banyak orang setelah ditemukan secarik surat tulisan tangan yang diduga ditinggalkan korban sebelum mengakhiri hidupnya.
Surat yang ditulis di buku bergaris itu kini menjadi saksi bisu dari pergulatan batin seorang remaja yang diduga mengalami tekanan di sekolahnya. Dengan tulisan tangan yang rapi dan kalimat sederhana, N mencurahkan isi hatinya. Ia merasa lelah, kecewa, dan akhirnya mengikuti keinginan untuk mencari ketenangan.
Isi Surat yang Menyayat Hati
Dalam surat tersebut, N menulis dalam campuran bahasa Sunda dan Indonesia. Ia mengaku merasa terluka oleh ucapan teman-temannya dan mengungkapkan bahwa ia hanya ingin ketenangan.
Kalimat-kalimat yang ditulis N memperlihatkan betapa dalam luka yang ia rasakan. Meski tidak menyebut nama siapa pun, tulisan itu mencerminkan adanya tekanan sosial dan perasaan tidak diterima di lingkungannya.
“Eneng cuma pengen nyampein pendapat, eneng nyeri ku perlakuan batur di kelas, ku omonganana, sikap…” begitu salah satu potongan isi surat yang ditemukan di dekat jasadnya.
Di bagian akhir surat, N menulis pesan singkat penuh kasih kepada orang tuanya dan mengucapkan perpisahan dengan kata sederhana: “Sebenerna masih banyak cerita, tapi segini aja ya. Babay.”
Surat Itu Jadi Sorotan dan Titik Refleksi
Surat terakhir siswi MTs Sukabumi itu kini ramai diperbincangkan publik. Banyak warganet mengaku terenyuh sekaligus marah karena curahan hati seorang anak yang seharusnya bisa diselamatkan ternyata baru terbaca setelah semuanya terlambat.
“Surat itu menyentuh sekali. Ini peringatan bagi kita semua bahwa di balik senyum anak-anak, bisa ada luka yang tidak terlihat. Guru, orang tua, dan teman sebaya harus bisa mendeteksi itu,” ujar salah seorang netizen, Rabu (30/10/2025).
“Surat semacam ini bukan sekadar curhat, tapi seruan minta tolong. Sayangnya, korban sudah terlalu lelah untuk menunggu seseorang benar-benar mendengar,” ujar netizen lain.
Pelajaran dari Secarik Surat
Kini surat peninggalan siswi MTs Sukabumi itu menjadi simbol duka dan peringatan keras bagi dunia pendidikan. Sebuah pengingat bahwa di balik tawa para pelajar, bisa tersimpan perasaan terluka yang tidak terlihat mata.
Masyarakat berharap tragedi ini menjadi momentum untuk menghapus budaya perundungan di sekolah dan membangun sistem pendidikan yang lebih empatik. (GPS)



