Tawuran Remaja di Subang, Satu Korban Jiwa dan 11 Pelaku Diamankan Polisi

lintaspriangan.com, BERITA SUBANG. Kasus tawuran remaja di Subang kembali mencuat dan menimbulkan perhatian luas masyarakat. Peristiwa yang terjadi pada Sabtu malam (13/9/2025) di jalur Pantura, Kabupaten Subang, Jawa Barat, menelan satu korban jiwa dan menyebabkan seorang remaja lainnya mengalami luka serius. Polisi mengungkap bahwa aksi brutal ini dipicu oleh tantangan di media sosial.
Kapolres Subang, AKBP Dony Eko Wicaksono, menjelaskan bahwa tawuran remaja di Subang melibatkan dua kelompok dari wilayah Subang dan Indramayu. Pertikaian ini bukan dilandasi dendam pribadi, melainkan dorongan dari tantangan yang beredar di platform Instagram. Tantangan tersebut disebarkan oleh admin akun kelompok masing-masing, yang akhirnya mendorong kedua pihak untuk bertemu langsung dan melakukan aksi tawuran.
“Awalnya mereka saling menantang di Instagram. Kemudian, sepakat bertemu dan menjadikan jalur Pantura sebagai lokasi tawuran,” ungkap Kapolres.
Dalam kejadian tersebut, senjata tajam dan balok digunakan oleh para pelaku. Akibatnya, seorang remaja berinisial RS (17) meninggal dunia karena luka parah di bagian kepala. Sementara korban lain berinisial WP (14) mengalami luka di bagian leher dan saat ini masih dirawat intensif di rumah sakit.
Tim Resmob Polres Subang bergerak cepat dengan mengamankan 11 remaja yang diduga terlibat dalam aksi tawuran itu. Mereka adalah ZA, DM, ME, IF, RDS, RM, MSA, MIS, ARS, T, dan AFM. Para pelaku ditangkap di beberapa lokasi, termasuk wilayah Indramayu dan Compreng. Selain itu, polisi juga menyita sejumlah barang bukti berupa senjata tajam yang digunakan dalam tawuran.
Atas perbuatannya, para remaja ini dijerat dengan Pasal 170 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) serta Undang-Undang Perlindungan Anak. Proses penyelidikan masih terus berlangsung, dan polisi berupaya mendalami lebih jauh peran masing-masing pelaku dalam kasus tawuran remaja di Subang ini.
Kapolres Subang menegaskan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi anak-anak mereka, terutama dalam penggunaan media sosial. Ia mengingatkan bahwa penggunaan platform digital secara tidak bijak dapat memicu tindakan yang berbahaya, seperti tawuran yang berujung pada hilangnya nyawa.
“Orang tua harus lebih ketat memantau aktivitas anak di media sosial. Jangan sampai mereka terjerumus dalam pergaulan yang salah hingga menimbulkan kejadian seperti ini,” ujarnya.
Kasus tawuran remaja di Subang menjadi pelajaran penting bahwa tren tantangan di media sosial bisa berujung fatal. Oleh karena itu, pihak kepolisian bersama masyarakat diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan, serta mendorong para remaja untuk menggunakan media sosial secara positif dan bertanggung jawab. (Lintas Priangan/AA)



