Stasiun Kalipucang: Situs Heritage Terabaikan dan Harapan Reaktivasi

lintaspriangan.com, BERITA PANGANDARAN. Bangunan Stasiun Kalipucang di Kabupaten Pangandaran, stasiun bersejarah yang membuka hubungan rel Banjar–Cijulang sejak era Hindia Belanda, kini berdiri sepi, tertutup vegetasi dan terbengkalai. Sementara rencana reaktivasi jalur kereta selatan Jawa Barat menjanjikan kebangkitan fungsi transportasi dan pariwisata. Penelusuran lapangan dan arsip menunjukkan adanya jurang antara nilai heritage stasiun dan kesiapan teknis serta pengelolaan konservasi jika proyek reaktivasi berjalan.
Sejarah singkat dan kondisi saat ini
Stasiun Kalipucang mulai beroperasi sebagai bagian segmen Banjar–Kalipucang pada 15 Desember 1916, lalu sambungan hingga Cijulang rampung pada 1 Juni 1921. Jalur Banjar–Cijulang menghubungkan daerah pantai selatan Jawa Barat dengan pusat ekonomi Priangan pada masa kolonial. Namun layanan resmi jalur itu dihentikan pada 1 Februari 1982 karena persaingan moda jalan dan penurunan permintaan. Hingga kini bangunan stasiun masih ada, tetapi kondisinya memprihatinkan: cat mengelupas, beberapa bagian atap rapuh, dan area peron sebagian tertutup semak.
Kini, yang tersisa adalah pagar yang rusak, pintu utama terkunci, dan sebagian lahan stasiun digunakan warga untuk bercocok tanam. Sumber warga lokal mengaku belum melihat upaya perawatan terpadu dari instansi terkait, meski rencana reaktivasi sering diberitakan. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa reaktivasi teknis tanpa strategi konservasi dapat menghapus jejak arsitektural kolonial yang tersisa.
Rencana reaktivasi dan tantangan teknis
Pemerintah daerah Jawa Barat dan Kementerian Perhubungan memasukkan reaktivasi jalur Banjar–Pangandaran–Cijulang dalam agenda infrastruktur regional. Estimasi biaya proyek mencapai triliunan rupiah dan disebut sebagai prioritas untuk meningkatkan konektivitas dan pariwisata pesisir. Namun sumber-sumber teknis dan publikasi pemantauan mengatakan pekerjaan ini menuntut pembebasan lahan, perbaikan struktur jembatan, serta perbaikan badan jalan rel yang telah hilang di sejumlah titik. Memang pekerjaan yang kompleks dan mahal. Aktivitas survei memang sudah dilakukan, tetapi kelanjutan pendanaan dan penjadwalan pekerjaan belum sepenuhnya transparan dan terealisasi.
Reaktivasi tanpa kajian pelestarian berisiko menghancurkan nilai historis stasiun. Pakar heritage menyarankan studi dampak konservasi, inventarisasi elemen asli bangunan, dan model pengelolaan yang menggabungkan pariwisata heritage sehingga situs dapat memberi nilai ekonomi sekaligus terlindungi.
Pelajaran dari museum kereta api
Model pemeliharaan dan pemanfaatan situs perkeretaapian dapat dilihat pada Museum Kereta Api Ambarawa, yang sejak 1976 merawat puluhan lokomotif uap dan mengelola wisata heritage kereta, sebuah kombinasi konservasi teknis dan atraksi wisata yang berkelanjutan. Ambarawa menunjukkan bahwa koleksi dan pengalaman museum dapat menjadi rujukan praktis untuk menyelamatkan bangunan seperti Stasiun Kalipucang serta mengintegrasikannya dalam rute wisata kereta regional.
Di ranah internasional, Spoorwegmuseum (The Railway Museum) di Belanda menyimpan arsip dan praktik konservasi yang dapat menjadi sumber teknis dan historis. Kerja sama ilmiah antara museum Belanda dan institusi Indonesia berpotensi mendukung dokumentasi arsip, restorasi material, serta pelatihan konservator lokal. Sungguh langkah yang sangat relevan untuk kasus stasiun peninggalan kolonial.
Rekomendasi singkat
Berikut adalah beberapa rekomendasi, langkah: (1) inventarisasi cagar budaya dan pendaftaran Stasiun Kalipucang sebagai situs heritage oleh dinas terkait; (2) studi kelayakan reaktivasi yang memadukan konservasi arsitektural; (3) pilot kolaborasi teknis dengan Museum Kereta Api Ambarawa dan Spoorwegmuseum untuk transfer pengetahuan; (4) partisipasi komunitas lokal dalam pengelolaan pasca-reaktivasi agar manfaat ekonomi terdistribusi; dan (5) transparansi pendanaan proyek agar publik dapat memantau komitmen pelestarian.
Stasiun Kalipucang adalah potongan sejarah jalur selatan Jawa yang menghubungkan masa lalu kolonial dengan masa depan transportasi daerah. Jika dikelola dengan keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian, stasiun ini berpeluang menjadi titik temu antara narasi sejarah dan pendorong ekonomi lokal. Asal keputusan teknis dan kebijakan memperhatikan nilai heritage yang tersisa. (Lintas Priangan/Arrian)



