Yogyakarta dan Fenomena Kota Paling Sepi: Ketika Kesunyian Tak Selalu Berarti Kesepian

Yogyakarta dinilai kota paling sepi, tapi warga menilai kesunyian justru jadi sumber ketenangan dan refleksi diri.
lintaspriangan.com, BERITA NASIONAL – Kota Yogyakarta menempati posisi teratas dalam indeks kota paling sepi di Indonesia berdasarkan analisis Tim Jurnalisme Data Harian Kompas. Namun, hasil survei tersebut memicu beragam tanggapan dari masyarakat. Bagi sebagian warga, kesunyian tidak selalu identik dengan kesepian — bahkan bisa menjadi ruang refleksi dan kedamaian batin.
Yogyakarta selama ini dikenal sebagai kota pendidikan, budaya, sekaligus tempat persinggahan banyak perantau. Namun di balik keramaian lalu lintas dan deretan kafe di pinggir Malioboro, ada narasi berbeda tentang makna kesunyian yang justru dianggap sebagai bagian dari karakter kota.
Kesepian atau Ketenangan? Warga Menilai Sepi Tak Selalu Negatif
Adam, warga yang sudah menetap di Yogyakarta lebih dari lima tahun, mengaku tak sepakat jika kota tempat tinggalnya disebut paling sepi. Menurutnya, definisi “sepi” sangat bergantung pada cara pandang seseorang terhadap kehidupan sosialnya.
“Definisi sepi itu gimana dulu? Kalau cuma belum menikah, enggak sepi juga,” ujarnya sambil tersenyum, Rabu (22/10/2025).
Adam menilai, kehidupan sosial di Yogyakarta masih cukup dinamis. Ia tinggal di lingkungan padat penduduk, bekerja di sektor kreatif, dan masih rutin bersosialisasi dengan rekan kerja. “Tinggal di daerah yang ramai, kerjaan masih jalan, teman-teman juga masih sering kumpul. Kadang nongkrong bareng atau sekadar cari hiburan,” katanya.
Menurut Adam, suasana tenang di Yogyakarta justru menjadi daya tarik tersendiri. Ia menilai ketenangan adalah bagian dari karakter masyarakat kota tersebut, sejalan dengan semboyan “Jogja Berhati Nyaman.”
“Bagi saya, semboyan itu menggambarkan keseimbangan antara aktivitas dan ketenangan batin. Sepi bukan berarti sendiri, tapi ruang untuk berpikir lebih jernih,” ujarnya.
Sepi sebagai Ruang Refleksi dan Produktivitas
Bagi sebagian warga, kesunyian tidak selalu bermakna negatif. Justru dalam kesendirian, mereka menemukan ruang untuk merenung, berkreasi, dan memahami diri sendiri. Adam mengaku sudah terbiasa beraktivitas sendiri tanpa merasa kehilangan koneksi sosial.
“Kalau ukurannya pergi sendiri, ngopi sendiri, itu sudah biasa. Sepi itu malah bikin saya bisa fokus dan lebih produktif,” katanya.
Ia menambahkan, suasana yang tenang dan tidak bising membuatnya lebih mudah berkonsentrasi dalam bekerja. “Sepi itu bikin kita lebih waspada, bisa berpikir jernih, dan tidak reaktif terhadap hal-hal yang gak penting,” tambahnya.
Fenomena ini sejalan dengan temuan psikolog sosial yang menyebut bahwa tingkat kesepian seseorang tidak semata dipengaruhi oleh jumlah interaksi sosial, tetapi oleh kualitas dan makna hubungan itu sendiri. Dengan kata lain, seseorang bisa dikelilingi banyak orang, namun tetap merasa sepi — dan sebaliknya.

Media Sosial Jadi Ruang Interaksi Baru
Sementara itu, Agung, warga lain yang juga menetap di Yogyakarta, menilai bahwa perkembangan teknologi turut mengubah cara orang berinteraksi. Menurutnya, media sosial kini menjadi salah satu cara efektif untuk mengatasi kesepian dan menjaga hubungan sosial.
“Kalau merasa sepi, tinggal buka media sosial, ngobrol sama teman, atau ikut diskusi online. Kadang malah jadi tempat berbagi ide dan cerita,” ujarnya.
Meski begitu, Agung mengakui bahwa interaksi digital tidak sepenuhnya bisa menggantikan tatap muka. Namun, bagi banyak orang yang sibuk atau hidup sendiri di perantauan, media sosial menjadi ruang aman untuk tetap terhubung dengan teman dan keluarga.
Ia menambahkan, komunitas-komunitas lokal di Yogyakarta juga berperan penting dalam menjaga kehidupan sosial warga, mulai dari komunitas seni, olahraga, hingga kegiatan sosial. “Yogya itu gak pernah benar-benar sepi. Selalu ada tempat buat ketemu orang baru dan ngobrol santai,” ucapnya.
Fenomena Kesepian di Tengah Kota Budaya
Meskipun data menyebut Yogyakarta sebagai kota dengan tingkat kesepian tertinggi, banyak faktor yang perlu dipahami secara kontekstual. Para ahli menilai, kesepian di kota besar sering kali berkaitan dengan tekanan ekonomi, tuntutan pekerjaan, dan perubahan pola hidup urban.
Namun, berbeda dengan kota metropolitan seperti Jakarta atau Surabaya, Yogyakarta memiliki daya lenting sosial yang kuat. Hubungan antarwarga masih terjalin akrab, dengan gotong royong dan interaksi komunitas yang tetap hidup di tingkat kampung.
“Warga Yogya lebih punya ruang untuk menyendiri tanpa merasa terisolasi. Itu yang membedakan,” kata seorang pengamat sosial budaya dari Universitas Gadjah Mada.
Kondisi ini menunjukkan bahwa predikat “kota paling sepi” tidak selalu merefleksikan isolasi sosial, melainkan bisa menjadi simbol keseimbangan hidup antara dinamika kota dan ketenangan batin warganya.
Sepi yang Menenangkan, Bukan Menyendiri
Predikat Yogyakarta sebagai kota paling sepi mungkin menimbulkan persepsi negatif bagi sebagian orang. Namun bagi warganya, kesepian bukan tanda keterasingan, melainkan kesempatan untuk menemukan makna hidup. Di tengah hiruk pikuk dunia modern, kesunyian justru menjadi ruang untuk menumbuhkan kesadaran diri, kreativitas, dan ketenangan jiwa.
Yogyakarta pun kembali menunjukkan jati dirinya — bukan sekadar kota budaya dan pendidikan, tetapi juga kota dengan keseimbangan antara aktivitas sosial dan kedamaian batin.
Bagi warga Yogyakarta, sepi bukan kesepian. Kesunyian justru menjadi ruang ketenangan dan refleksi di kota berhati nyaman. (MD)



