Nasional

Penyebab Keracunan MBG Terungkap dari Uji Laboratorium, Serem!

lintaspriangan.com, BERITA NASIONAL. Polemik soal penyebab keracunan MBG (Makan Bergizi Gratis) akhirnya menemukan titik terang. Hasil uji laboratorium resmi menunjukkan makanan dalam program ini mengandung bakteri patogen yang berbahaya. Eks Direktur WHO yang kini ikut memantau kasus menegaskan, masalah utama terletak pada cara penyimpanan serta kebersihan makanan yang tidak memenuhi standar kesehatan.

Tim laboratorium memeriksa sejumlah sampel MBG dari lokasi berbeda. Mereka menemukan bakteri Salmonella, E. coli, Staphylococcus aureus, dan Bacillus cereus. Mikroba tersebut tumbuh cepat ketika makanan disimpan pada suhu ruang dalam waktu lama. Kondisi itu membuka jalan bagi racun terbentuk dan masuk ke tubuh konsumen. Mantan pejabat WHO yang mendampingi penelitian berkata tegas, “Jika pengendalian suhu tidak ketat, risiko keracunan meningkat tajam.”


Faktor Utama Penyebab Keracunan MBG

Suhu dan Waktu Penyimpanan

Hasil pemeriksaan memperlihatkan penyebab keracunan MBG berasal dari pertumbuhan bakteri karena penyimpanan salah. Makanan tinggi protein dan karbohidrat membutuhkan suhu rendah, maksimal 4 °C. Namun sebagian besar makanan MBG tersimpan lebih lama pada kondisi hangat. Situasi ini mempercepat bakteri berkembang biak.

Beberapa paket makanan bahkan melampaui batas waktu aman sebelum diterima masyarakat. Fakta itu menunjukkan rantai distribusi lemah. Kontrol suhu tidak konsisten dan proses distribusi lambat. Akibatnya, makanan yang awalnya layak konsumsi berubah menjadi media bagi bakteri penyebab penyakit.

Kontaminasi dan Kebersihan

Selain masalah suhu, tim menemukan faktor higienitas yang buruk ikut menjadi penyebab keracunan MBG. Peralatan masak tidak selalu bersih. Tangan pekerja tidak sepenuhnya steril. Kemasan bocor juga membuka peluang udara masuk. Spora jamur lalu tumbuh dan mempercepat proses pembusukan.

Praktik silang (cross contamination) juga terjadi. Alat yang sudah dipakai untuk bahan mentah langsung digunakan untuk makanan matang. Tanpa pencucian yang benar, bakteri menempel dan berpindah. Situasi itu membuat kontaminasi meluas ke seluruh hidangan.


Dampak dan Langkah Pencegahan

Korban keracunan MBG mengalami gejala khas: mual, muntah, diare, dan nyeri perut. Beberapa pasien membutuhkan perawatan lebih serius karena dehidrasi. Jika tidak tertangani, toksin bisa merusak ginjal dan saraf.

Eks Direktur WHO mengingatkan pemerintah agar memperketat standar distribusi MBG. Ia menekankan pentingnya audit suhu secara berkala, penggunaan alat yang steril, serta pelatihan higienitas untuk para petugas. Ia juga menegaskan perlunya rantai dingin (cold chain) yang memadai untuk menjaga kualitas makanan bergizi.

Masyarakat berharap kasus ini menjadi pelajaran penting. Program MBG semestinya memberi manfaat kesehatan, bukan menimbulkan penyakit. Pemerintah harus segera memperbaiki pengawasan, memperkuat infrastruktur penyimpanan, serta menindak pihak yang lalai. Tanpa perubahan nyata, penyebab keracunan MBG bisa kembali terulang.

Kini semua mata tertuju pada langkah tindak lanjut pemerintah. Apakah distribusi MBG akan dikelola dengan standar lebih ketat atau justru mengulangi kesalahan lama? Publik menunggu aksi nyata agar program bergizi benar-benar membawa manfaat, bukan ancaman. (GPS)

Related Articles

Back to top button