Noel Minta KPK Tangkap Jokowi, Benarkah?

lintaspriangan.com, BERITA NASIONAL. Jagat media sosial kembali dihebohkan dengan beredarnya sebuah unggahan berbentuk tangkapan layar yang menyerupai pemberitaan media daring. Dalam unggahan tersebut, terpampang sebuah judul sensasional: “Noel Meminta KPK Tangkap Jokowi Segera. Noel: Jokowi Menerima Uang Banyak dari Saya. Saya Punya Bukti Transfernya.” Format unggahan itu mirip dengan potongan halaman berita yang biasa ditemui di portal nasional, sehingga banyak warganet yang tertarik untuk menyimak informasi dalam postingan tersebut.
Unggahan serupa muncul di beberapa akun media sosial, terutama di platform TikTok. Salah satunya adalah akun bernama @edishogun97, yang hari ini, Jumat 22 Agustus 2025, mengunggah potongan digital tersebut dan langsung menyita perhatian warganet. Tidak sedikit pengguna yang kemudian menyebarkan ulang unggahan itu, baik melalui fitur share maupun dengan membuat ulang postingan yang sama.
Untuk menelusuri kebenaran dari klaim yang beredar, redaksi Lintas Priangan mencoba melakukan verifikasi dengan metode standar jurnalistik. Dari hasil pencarian menyeluruh di berbagai portal berita nasional dan media arus utama, faktanya tidak ditemukan satu pun pemberitaan yang memuat pernyataan sebagaimana tertulis dalam tangkapan layar tersebut. Kalimat yang dikaitkan dengan Noel, yang menyebut telah memberi uang kepada Presiden Joko Widodo dan mengaku memiliki bukti transfer, sama sekali tidak pernah muncul dalam pemberitaan resmi media kredibel.
Satu-satunya media nasional yang menyinggung isu ini adalah Liputan6.com. Namun, bukan dalam bentuk berita pernyataan Noel, melainkan dalam rubrik Cek Fakta. Liputan6.com justru mengangkat klaim tersebut sebagai bahan pemeriksaan, karena menyadari banyak masyarakat yang sudah terlanjur percaya pada potongan gambar yang beredar. Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa berita dengan judul sensasional itu tidak pernah diterbitkan oleh media mana pun. Klaim itu dikategorikan sebagai informasi palsu atau hoaks yang sengaja dibuat untuk menyesatkan publik.
Selain mengacu pada Liputan6.com, redaksi Lintas Priangan juga memanfaatkan situs cekfakta.com untuk memperdalam pengecekan. Hasilnya konsisten: tidak ada bukti valid bahwa Noel pernah melontarkan pernyataan sebagaimana ditulis dalam unggahan yang beredar. Tidak ada pula dokumen, rekaman, atau catatan resmi yang bisa menguatkan klaim tersebut. Dengan demikian, informasi itu sepenuhnya tidak berdasar.
Dari rangkaian penelusuran ini, dapat dipastikan bahwa unggahan yang menyebut Noel meminta KPK menangkap Presiden Jokowi karena telah menerima sejumlah uang darinya merupakan hoaks. Narasi tersebut hanya tipuan digital yang memanfaatkan teknik manipulasi visual untuk memancing perhatian publik. Sayangnya, cara seperti ini masih sering digunakan untuk menggiring opini dan menciptakan kegaduhan di ruang media sosial.
Kasus ini sekali lagi mengingatkan masyarakat untuk tidak menelan mentah-mentah setiap informasi yang beredar di dunia maya, apalagi jika berasal dari sumber yang tidak jelas. Verifikasi menjadi langkah penting sebelum ikut menyebarkan informasi. Jika dibiarkan tanpa klarifikasi, hoaks seperti ini berpotensi mencederai logika publik, merusak reputasi pihak yang dituduh, bahkan mengganggu stabilitas sosial dan politik.
Hoaks dengan format menyerupai kliping berita bukanlah fenomena baru. Pola serupa sudah berulang kali muncul, dengan target yang berbeda-beda. Bedanya, kali ini sasaran tuduhan diarahkan langsung kepada Presiden Republik Indonesia, sehingga wajar jika menjadi sorotan luas. Di tengah derasnya arus informasi digital, kejadian ini menegaskan kembali betapa pentingnya literasi media. Masyarakat perlu terbiasa untuk tidak sekadar membaca, tetapi juga memeriksa, membandingkan, dan menguji informasi sebelum mempercayai dan membagikannya.
Dengan fakta yang ada, masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati. Jadikan kejadian ini sebagai pengingat bahwa tidak semua yang tampak seperti berita adalah berita sungguhan. Saring sebelum sharing, agar ruang digital kita tidak terus-menerus diracuni oleh informasi palsu yang menyesatkan. (LIntas Priangan/AA)



