Nasional

Cuaca Panas di Indonesia Kian Meningkat, Ini Penjelasan BMKG

lintaspriangan.com, BERITA NASIONAL. Banyak warga yang mempertanyakan fenomena cuaca panas di Indonesia yang terasa luar biasa terik. Siang hari seperti berada di bawah oven raksasa, sementara malam hari sering diwarnai hujan deras. Kondisi ini membuat masyarakat bertanya: mengapa panas begitu ekstrem, dan kapan berakhir?

Penyebab Cuaca Panas di Indonesia

BMKG menegaskan bahwa cuaca panas di Indonesia bukan termasuk gelombang panas seperti di negara subtropis. Suhu di Indonesia memang meningkat, tetapi belum melampaui ambang ekstrem selama lima hari berturut-turut. Meski begitu, sensasi panas tetap tinggi karena beberapa faktor yang saling berkaitan.

Pertama, Indonesia sedang berada pada masa peralihan musim atau pancaroba. Awan menipis, sehingga sinar matahari langsung menyentuh permukaan bumi. Akibatnya, suhu meningkat tajam di siang hari.

Kedua, angin yang berembus lemah membuat udara panas sulit bergerak naik. Kondisi ini memperburuk rasa gerah, apalagi ketika kelembapan udara cukup tinggi. Tubuh manusia kesulitan melepaskan panas, sehingga terasa lebih pengap.

Ketiga, efek Urban Heat Island (UHI) memperparah suhu di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, dan Makassar. Beton dan aspal menyerap panas, sedangkan ruang hijau semakin sedikit. Kota besar pun menjadi perangkap panas alami.

Selain itu, data jangka panjang BMKG menunjukkan tren kenaikan suhu sebesar 0,85 derajat Celsius dalam empat dekade terakhir. Artinya, setiap tahun suhu rata-rata di Indonesia terus meningkat. Fenomena ini menjadi bukti nyata pengaruh pemanasan global terhadap iklim nasional.

Daerah Terpanas dan Kondisi Terkini

BMKG mencatat suhu tertinggi mencapai 38,2°C di Karanganyar, Jawa Tengah. Di Majalengka tercatat 37,6°C, Surabaya 37°C, dan Boven Digoel 37,3°C. Beberapa wilayah lain seperti Medan, Bengkulu, dan Sidoarjo juga mencatat suhu di atas 36°C.

Meski begitu, suhu rata-rata nasional masih berkisar 33–35°C. Rasa panas yang dirasakan masyarakat bisa lebih tinggi karena kelembapan dan paparan langsung sinar matahari. Banyak warga mengeluhkan udara yang seperti “mendidih” meski termometer belum mencapai angka ekstrem.

Di beberapa daerah, cuaca panas di siang hari justru diikuti hujan deras pada malamnya. BMKG menjelaskan, pemanasan intens di siang hari mendorong pembentukan awan konvektif yang akhirnya memicu hujan di sore atau malam. Pola ini khas pada masa pancaroba.

Prediksi dan Imbauan BMKG

BMKG memperkirakan cuaca panas di Indonesia masih berlangsung hingga beberapa minggu ke depan, terutama di wilayah selatan khatulistiwa. Suhu baru menurun ketika pola angin berubah dan awan kembali menutupi langit pada akhir tahun.

Masyarakat disarankan tetap waspada. Minumlah air putih yang cukup, hindari aktivitas berat di bawah matahari, dan gunakan pakaian berwarna terang. Topi atau payung dapat membantu mengurangi paparan langsung.

BMKG juga mengajak pemerintah daerah memperbanyak ruang terbuka hijau untuk menekan efek panas perkotaan. Pohon dan taman kota mampu menurunkan suhu hingga beberapa derajat dan memperbaiki kualitas udara.


Fenomena cuaca panas di Indonesia bukan sekadar masalah musiman. Ini cerminan perubahan iklim global yang semakin nyata di sekitar kita. Meski belum termasuk gelombang panas ekstrem, suhu yang terus naik menjadi sinyal agar kita mulai bertindak. Jagalah tubuh tetap sejuk, dan jagalah bumi agar tidak semakin panas.

Related Articles

Back to top button